Karena Semua Akan Jadi Difabel
Pentingnya Mewajibkan Fasilitas Ramah Penyandang Disabilitas
Tanpa disadari, setiap orang sebenarnya akan menghadapi keadaan seperti kaum difabel. Ini tak terelakkan. Uraiannya menarik. Berikut laporan M. Kholid A.S. dari JPIP.
INI kisah seorang ’’mualaf’’ difabel, sebutan untuk penyandang di sabilitas pemula. Seorang pejabat di kampus mengalami kecelakaan. Akhirnya, dia harus berjalan dengan kursi roda. Tentu saja berbeda kesulitannya dibandingkan saat dia masih berjalan dengan dua kaki. Betapa susahnya naik menuju gedung yang tidak ada jalur ramp (bidang miring). Betapa repotnya kalau ke lantai lain tanpa lift. ’’Ternyata kampus kita ini kurang ramah kepada penyandang disabilitas, ya?’’ katanya.
Kisah itu diceritakan oleh Slamet Thohari, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya yang juga penyandang disabilitas (pakai kruk). Lulusan filsafat UGM itu menyebutkan bahwa kisah yang diceritakan benar-benar nyata. Ketika menjabat, dia tak begitu perhatian akan pentingnya fasilitas buat difabel. Nah, ketika akhirnya berada di posisi difabel, dia baru menyadari pentingnya meng hilangkan hambatan bagi penyandang disabilitas.
Slamet mengingatkan, bukan hanya kecelakaan atau kejadian lain yang menjadikan orang difabel. Faktor usia juga bisa menjadikan orang butuh fasilitas seperti penyandang disabilitas. Master alumnus Hawaii University itu menyatakan, kita semua pasti akan menjadi tua, kecuali meninggal saat muda. Apalagi harapan hidup makin tinggi. Orang tua yang mobilitasnya tak selincah orang muda jelas mengalami keadaan seperti difabel. Mobilitas, pandangan, pendengaran, daya ingat, dan respons atas kedaruratan jelas akan menurun.
Kalau kampus atau tempat kerja lain ramah dengan penyandang disabilitas, mereka bisa membuat orang-orang tua tetap produktif. Di kampus, kalau para profesor sepuh harus naik tangga untuk menuju ruang kuliah di lantai-lantai atas, jelas memilih tidak mengajar saja. Maka, adanya lift, ramp, toilet yang ada pegangannya, lampu sinyal mulai atau selesai aktivitas, dan fasilitas lain akan sangat penting.
’’Inilah makna hastag #DifabelAdalahKita. Kita semua akan jadi difabel ketika tua atau mengalami kecelakaan. Maka, fasilitas umum atau sarana kerja harus ramah kepada difabel. Harus jadi standar,’’ tandas Slamet. Ungkapan itu disampaikan di depan sekitar 40 peserta diskusi multistakeholders dalam isu inklusi dan disabilitas Ayo Inklusif! diHotel Santika di Malang (6/6).
Paparan Slamet direspons oleh Hutri Agustino dari Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dia menambahkan, pemilahan antara difabel dan nondifabel di nilai tak terlalu relevan. Yang penting bagaimana manusia memaksimalkan fungsi sosialnya. ’’Seorang suami yang gagah perkasa namun tak mampu menafkahi istrinya, dia jelas tak berfungsi secara sosial. Beda dengan Stephen Hawking yang jelas sangat berfungsi,’’ katanya.
Dia menggarisbawahi kesepakatan tidak memakai istilah cacat atau abnormal. ’’Yang ada ada lah disfungsi sosial,’’ kata dosen muda itu. Bagaimanapun ke adaannya, kalau tidak bisa melakukan fungsi sosialnya dengan baik, mereka perlu ditangani. Dan, jangan sampai difabilitas me nimbulkan disfungsi sosial, maka perlu menghilangkan hambatan dari lingkungan.
Optimisme para penyandang di sabilitas bisa berkarya juga disuarakan Esni Triaswari, dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang. Dia menyatakan, banyak anak didiknya yang bisa mandiri. Bahkan, ada yang menjadi andalan di BNI bidang administrasi. ’’Saat jadi siswi, dia sering saya ajak ikut lomba. Dan, anaknya mampu,’’ katanya.
Soal hambatan itu, Fikri Muhandis menyebut salah satu yang sulit dihadapi adalah sikap tidak fair. Penyandang tunawicara dan tuli itu menceritakan (lewat penerjemah) bahwa ada temannya yang menurut dia pintar. Akhirnya magang di perusahaan. Dia mampu melakukan pekerjaan. Bahkan, sempat diberi harapan oleh pimpinan perusahaan itu untuk dijadikan staf atau karyawan. ’’Namun, ketika pemagang yang lain dijadikan staf, dia tidak. Akhirnya dia keluar,’’ kata Muhandis.
Jaka Ahmad, yang saat itu menjadi moderator, punya pengalaman yang sama. Saat dites untuk menjadi karyawan sebuah hotel, Jaka menunjukkan kemampuannya berbahasa Inggris. Alumnus master bidang social work dari Flinders University tersebut merasa sukses melewati wawancara itu. Dia merasa ke mampuan bahasa Inggris-nya mumpuni. Ternyata, yang dite rima temannya nondifabel. Padahal, bahasa Inggris-nya di bawah Jaka. ’’Teman saya masih bekerja di sana saat ini,’’ kata Jaka yang tunanetra.
Aksesibilitas kerja ini menggugah Ir Tomie Herawanto MP dari Bappeda Kabupaten Malang. ’’Kalau ada teman difabel yang ingin magang di pemerintahan, silakan. Kami akan usahakan,’’ katanya konkret.
Dia menyebut tak hanya di bappeda, namun bisa juga di bagian birokrasi yang lain. Dia ingin para penyandang disabilitas diberi kesempatan lebih terbuka untuk bekerja di pemerintahan. Saat rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) nanti, perlu penegasan lagi agar penyandang disabilitas diberi afirmasi.
Semangat memudahkan akses difabel untuk kerja ini juga ditangkap oleh Riyadea Mayang Padita, sales admin Hotel Ibis Styles Malang. Sosok yang menyatakan aktif di Forum 21 itu siap memfasilitasi apabila ada penyandang disabilitas yang ingin magang di perhotelan. Dengan begitu, para difabel bisa mempraktikkan soft skill dan hard skill. ’’Memang ini butuh kepedulian kita bersama,’’ katanya.
Kepedulian pada aksesibilitas difabel di segala bidang ini juga terkait dengan bonus demografi. Saat ini sekitar 60 persen warga negara adalah anak muda, angkatan produktif. Kelak mereka jelas akan menua. Indonesia bisa mengalami kondisi seperti Jepang atau Taiwan yang penduduknya didominasi orang tua. Tak heran para TKI Indonesia laris bekerja di sana sebagai pembantu orang-orang sepuh.
Maka, perlu banyak persiapan. Selain fasilitas yang ramah difabel, juga para tenaga pendamping yang saat ini dikembangkan di jurusan kesejahteraan sosial atau sosiatri di perguruan tinggi. Meningkatkan kesadaran akan kebutuhan khusus kaum difabel ini akan bisa lebih siap meng hadapi ketika komposisi pen duduk banyak orang tua. (www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
