Sesuaikan Fasilitas Sewajarnya
Mengajak Lingkungan untuk Mengadaptasikan Difabel ke Dunia Kerja
Dengan banyaknya perusahaan yang inklusif untuk pekerja difabel, tentu terbuka jalan bagi perusahaan yang ingin inklusif. Tinggal mencontoh.
PERTANYAAN Khoirul Mahfud ini sederhana, namun tak sederhana menjawabnya. ’’Bagaimana saya bisa merekrut pekerja penyandang disabilitas untuk perusahaan saya?’’ kata pengusaha bengkel mobil binaan Astra Grup itu. Dengan sedikit uraian, Mahfud lantas membeberkan bahwa pekerjaan bengkel itu butuh tenaga, kecekatan, dan kecermatan. ’’Jangan sampai setelah membongkar tak bisa mengembalikan,’’ katanya.
Begitulah jalannya satu sesi ketika para pengusaha dan difabel bertemu dalam satu ruang di Hotel Ciputra (9/5). Mereka berbicara tentang akses kerja. Pengusaha swasta memang diamanahi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 untuk merekrut minimal 1 (satu) persen difabel dari total pegawainya. Lebih daripada itu, atas nama kemanusiaan, semua harus mendapat kan hak atas pekerjaan.
Jawaban atas pertanyaan itu bukan hanya dalam perkataan. Tapi, Inclusive Disability Specialist Konsorsium Ayo Inklusif! Jaka Anom Yusuf yang saat itu memandu acara juga langsung meminta difabel yang hadir untuk praktik. Misalnya saat membantu tunanetra berjalan. Tunanetra itu adalah Jaka sendiri.
Saat itu dipraktikkan posisi nondifabel ketika membantu tunanetra berjalan, termasuk cara membuka pintu. ’’Semua itu bukan berarti untuk mere potkan perusahaan, tapi tuna netra memang punya keterbatasan dalam akses melihat,’’ tekan Jaka Anom.
Begitu juga untuk difabel tuli, ada cara-cara sederhana yang dipraktikkan. Misalnya tentang kesederhanaan dalam mengenal huruf dari bahasa isyarat yang dipakai oleh tuli. Maka, kalimat yang digunakan tidak boleh terlalu panjang.
Dalam kesempatan tersebut, Jaka Anom juga mem pertontonkan bagaimana para difabel melakukan aktivitas layaknya nondifabel. Misalnya, Eka Christian, pemuda tunanetra yang saat itu hadir, mempraktikkan bagaimana mengetik di layar laptop layaknya nondifabel.
Hubungan antara difabel dan non difabel dalam akses pekerjaan memang masih berjarak. Dalam pertemuan itu terdapat semacam pemahaman bersama bahwa difabel juga sama halnya dengan non difabel. Bisa mengerjakan hal yang sama jika hambatan masing-masing bisa dihilangkan.
’’Hambatan atas mobilitas kaum disabilitas itu kebanyakan dari lingkungan,’’ tanda Jaka. Untuk itu, diperlukan penyesuaian sewajarnya di dunia kerja. Termasuk di bengkel, perlu dipilih difabel yang cocok dengan karakter pekerjaannya.
Salah satu yang berpengalaman melakukannya adalah Treti Christina Kusumawardan dari Hotel Mercure Surabaya. Awalnya, pengalaman itu didapat dari kerjasama pihak hotel dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pemerintah Kota Surabaya. ’’Disnaker tiap tahun punya program memagangkan difabel di dunia kerja. Salah satunya adalah Hotel Mercure,’’ terang Treti yang menjabat human resources development (HRD).
Pada tahun pertama, tepatnya 2016, disnaker memberikan daftar 19 nama difabel kepada pihak Hotel Mercure. ’’Dari hasil interview dan wawancara, akhirnya terpilih sembilan orang yang mengikuti program magang tersebut,’’ jelas Treti.
Kinerja yang baik dari difabel membuat tempatnya magang terpikat. Lantas, pihak hotel pun merekrut sebagian menjadi karyawan. ’’Tentu tidak semuanya, karena tidak mungkin kami harus merekrut semuanya,’’ lanjut Treti.
Kemudian, ’’kejutan’’ disnaker ke Hotel Mercure terjadi pada awal 2017. Saat itu, cerita Treti, disnaker punya data 22 difabel yang harus dimagangkan, rata-rata tuli. ’’Karena tidak ada hotel yang mau menerima, maka kami nekat mau menerimanya. Jadi, agak bonek,’’ candanya.
Akhirnya 22 difabel itu bisa diterima magang di Mercure. Dengan jadwal yang lebih terperinci karena menyangkut banyak orang. Mereka ditempatkan di housekeeping dan public area. Ternyata kinerja difabel ini juga sangat baik. Misalnya dari segi produktivitas dan keterampilan kerja. ’’Mereka itu kalau belum jam 12 siang tidak mau makan. Kalau istirahat, juga tak molor-molor. Disiplin banget,’’ ucapnya.
Virus kebajikan yang dibawa difabel itu justru menular kepada karyawan lain. Ada rasa sungkan ketika melihat rekan difabel begitu disiplin dan punya produktivitas lebih. (www.jpipnetwork.id)
Buah Kegigihan Luciana Sari
LUCIANA Sari Eka Murdiyanti adalah cermin jernih tekad seorang difabel untuk meraih mimpi. Tak mudah bagi penyandang low vision (hanya bisa memandang dari dekat) ini mencapai posisi team leader telemarketing dan telesurvey Astra. ’’Ketika awal bekerja, tiba-tiba lima orang dalam tim saya semua mundur dengan alasan masing-masing,” tutur sosok yang masuk Astra pada 2013 itu.
Namun, mantan best agent Standard Chartered Bank tersebut terus berpacu. Konsumen berhasil diyakinkannya lewat suaranya di layanan telepon. Dia pun meraih best agent Astra World pada 2014. Tidak hanya Astra tempatnya bekerja, pihak luar, yakni ICCA (Indonesian Contact Center Association), juga mengganjarnya dengan penghargaan nomor 2 The Best Contact Center Indonesia 2016. Kini Luciana membawahkan 10 orang di timnya.
Semangat Luciana adalah semangat Astra. Kisah itu ditularkan dalam talk show acara Ayo Inklusif! Increasing Private Sector’s Awareness of Youth with Disability di Grand Ballroom United Tractors (UT). Acara pada Senin (26/3) tersebut juga mengundang 90 perwakilan dari grup perusahaan Astra dan Astra Heavy Equipment, Mining, Construction and Energy (AHEMCE). ’’Kalau perlu bantuan Astra, silakan telepon 1500-898,” kata Luciana disambut tawa hadirin. Di tengah talk show, Luciana rupanya tak lupa untuk tetap ’’jualan”.
Pembicara lain adalah Rubby Emir, direktur dan founder dari Kerjabilitas.com, yaitu platform online yang didukung Google. Kerjabilitas.com sebagai start-up dalam bidang social entrepreneur yang memfasilitasi perusahaan dan pelamar kerja penyandang disabilitas untuk saling mencocokkan (makcomblang) kebutuhan pekerjaan.
Pada sesi akhir, forum komunikasi dibungkus dengan closing statement Rohman Budijanto sebagai direktur program Ayo Inklusif! dan dilanjutkan dengan momentum penandatanganan kanvas oleh Edhie Sarwono sebagai direktur UT, LeRoy Hollenback sebagai chief of party Mitra Kunci dan perwakilan grup Astra serta AHEMCE sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk semakin inklusif dan mendukung program Ayo Inklusif! (www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
