Mulai Terhalang Kepala hingga Dianggap Sok Tahu
6 mins read

Mulai Terhalang Kepala hingga Dianggap Sok Tahu

Gaya Para Tunanetra, Tuli, dan Difabel Lain Menikmati Piala Dunia 2018

Kaum difabel tidak mau tertinggal dalam pesta Piala Dunia. Banyak kekhususan cara mereka menikmati event tersebut. Misalnya, di dunia kerja, perlu penyesuaian akses saat nobar. Berikut catatan Jaka Ahmad, tunanetra spesialis difabilitas Ayo Inklusif!

’’GOOOL…l!’’ terdengar suara teriakan sekelompok orang dari sebuah panti asuhan. Teriakan tersebut berasal dari salah satu ruangan di lantai dasar gedung dua lantai tersebut. Lalu, kurang dari dua detik kemudian kembali terdengar teriakan ’’gol’’, namun kali ini berasal dari lantai 2 gedung asrama itu.

Malam itu (7/7) perhelatan Inggris versus Swedia berakhir dengan skor 2-0. Tetapi, gol pertama yang dicetak Harry Maguire mempunyai rentang 28 menit dengan gol kedua yang di ceploskan Dele Alli. Lalu, mengapa ada dua teriakan ’’gol’’ yang berdekatan?

Di lantai dasar gedung tersebut, beberapa pengurus panti asyik berkumpul untuk menikmati partai delapan besar Piala Dunia melalui sebuah televisi 21 inci. Sementara itu, di lantai 2, para penghuni panti yang merupakan sekelompok tunanetra menikmati pertandingan yang sama melalui radio yang dihubungkan ke perangkat speaker.

Seperti bermiliar orang lain di dunia yang bisa melihat, para penyandang tunanetra itu penggemar sepak bola yang aktif merayakan perhelatan Piala Dunia 2018. Beberapa di antara mereka suka ’’nonton bareng’’ (nobar) dengan masyarakat di tempat umum. Tetapi, ada juga yang lebih memilih untuk ’’dengar bareng’’ (debar) pertandingan akbar tersebut dengan sesama penyandang tunanetra.

’’Kalau nonton sama yang awas (sebutan untuk yang bisa melihat), kadang saya suka kena marah,’’ ujar Dani yang sudah hampir dua tahun menghuni panti asuhan pemerintah di Jakarta itu pekan lalu. ’’Saya kan low vision, masih bisa melihat sedikit. Jadi, kalo nonton harus dekat. Nah, di bawah itu TV-nya kecil…. Kalau saya dekat-dekat nontonnya, yang lain marah, terhalang kepala saya,’’ imbuhnya.

Namun, di nobar para tunanetra, low vision adalah raja. Karena itu, Dani punya tugas menceritakan gerakan-gerakan tertentu, misalnya bagaimana saling tackling terjadi atau ulah para pencetak gol ketika selebrasi. Itu dilakukan agar para penyandang tunanetra lebih bisa menikmati dinamika di lapangan. Tidak sekadar skor, deskripsi detail itu penting agar mereka bisa update informasi. Dengan begitu, ketika berkumpul dengan teman-teman lain yang awas, para penyandang tunanetra tersebut tidak ketinggalan bahan pembicaraan.

Keberadaan stasiun radio yang menyiarkan pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2018 (seperti https://www.sbs.com.au/radio/worldcup) dan event-event yang lain sangat membantu para penyandang tunanetra untuk bisa mengikuti perkembangan yang terjadi. Penyiar radio menjadi pelapor pandangan mata sehingga para penyandang tunanetra yang mengandalkan pendengaran sangat terbantu dengan deskripsi detail mereka.

’’Saya suka nonton sama kawan-kawan sekampung. Yang tunanetra saya doang,’’ ujar Yogi Matsuni, penyandang tuna netra penggiat masalah disabilitas di Jakarta. ’’HP saya kan ada aplikasi radionya. Jadi, saya pakai earphone, dengerin reportase di radio. Eh, waktu saya ikut komentar, teman saya malah bilang, ’ah….sok tau lu, emang ngerti bahasa Inggris’?’’ kata penggemar tim Inggris itu.

Seperti halnya dengan para penyandang tunanetra, ada di antara mereka yang tuna rungu juga mengikuti Piala Dunia dengan nobar di tempat-tempat umum. Secara fisik, disabilitas mereka memang tidak terlihat jelas. Selama ada layar yang lebar, mereka akan dengan asyik bisa mengikuti pertandingan. Namun, ketika berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa isyarat, tidak jarang mereka menjadi perhatian beberapa orang yang duduk di dekatnya.

’’Pernah niat mau nonton, tapi orang dengar tanya bahasa isyarat,’’ tulis Decky melalui aplikasi WA ketika ditanya apakah penonton yang lain terganggu dengan kehadiran para penyandang tunarungu di sekitar mereka. ’’Saya ajarkan beberapa kata seperti ’gol’, ’curang’, dan nama-nama pemain terkenal dalam bahasa isyarat Indonesia (Bisindo),’’ katanya.

Menurut Decky, teman-teman yang tuli sangat ekspresif ketika selebrasi. Mereka memadukan olok-olok dalam bahasa isyarat dengan tarian selebrasi mereka. Tetapi, itu biasanya hanya terjadi ketika nonton bersama penyandang tunarungu juga. Kalau di tempat umum, mereka lebih jaim. Kebalikan dari para penyandang tunanetra, para mereka yang tuli itu sangat visual sehingga dengan senang menghadap layar lebar untuk nonton bareng.

Namun, mereka berharap agar ada teknologi yang bisa mengubah komentar penyiar menjadi running text. Dengan begitu, mereka mendapat informasi lebih akurat ketika para pemain beraksi. Sebab. biasanya nama pemain hanya disebutkan oleh reporter. Selain itu, diharapkan ada teks atau juru bahasa isyarat di layar yang membantu menerjemahkan kuis yang diselenggarakan.

Tunadaksa, yang mayoritas menggunakan alat bantu seperti tongkat dan kursi roda, memiliki tantangan tersendiri dalam menikmati Piala Dunia. Lokasi nonton bareng yang tidak ramah terhadap kursi roda acap menjadi penyebab urungnya niat penggila bola ini untuk nonton bareng di tempat-tempat umum. Bila mencari tempat yang aksesibel, biasanya di hotel-hotel besar. Secara fisik gedungnya akses, tapi secara kantong, sangat tidak aksesibel. Akhirnya, kantor RW atau rumah sesama pengguna kursi roda pun menjadi incaran untuk nonton bareng.

’’Kami adalah satu-satunya penggemar bola yang kalau nonton bawa sendiri kursi dari rumah,’’ kelakar Chriss yang ahli IT dari perusahaan penyedia layanan internet di Jakarta.

Chriss bercerita, pernah dirinya membeli tiket nobar untuk pertandingan final Piala Eropa 2008. Setiba di lokasi, kafe tempat penyelenggaraan ternyata berundak-undak ke bawah sehingga dia harus menonton dari kejauhan. Toiletnya yang tidak aksesibel pula membuat dia menjadi kurang nyaman dalam menikmati pertandingan karena harus menahan buang air kecil.

Chriss mengatakan, dirinya bukannya ingin pamer mampu membeli tiket nobar. Tetapi, dia ingin menunjukkan bahwa orang-orang dengan disabilitas juga punya ketertarikan yang sama dengan orang lain. Chriss juga berharap agar masyarakat menjadi terbiasa terhadap keberadaan orang dengan disabilitas di sekitar mereka. Lebih jauh lagi, Chris juga berharap agar ada perluasan pergaulan yang bisa berdampak baik atas penerimaan kepada difabel, termasuk di dunia kerja.

Seseorang dianggap mengalami disabilitas ketika lingkungannya tidak bersahabat dengan gangguan sensorik, motorik, mental, dan intelektual yang dimilikinya. Akibatnya, orang tersebut tidak lagi menjadi bagian dari masyarakat. Ketika tersisihkan, orang-orang dengan disabilitas tetap mencoba untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dengan keunikan dirinya.

Upaya pendekatan itu juga dilakukan dengan menunjukkan bahwa mereka punya ketertarikan yang sama. Kini, ketika mereka sudah berusaha untuk mendekat, waktunya bagi masyarakat juga untuk membuka diri dan menerima mereka dengan menyediakan aksesibilitas. Termasuk saat acara akbar seperti Piala Dunia. Big moments for all. (www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :