Perlu Siap Mental untuk Dilatih
6 mins read

Perlu Siap Mental untuk Dilatih

Perusahaan Makin Buka Diri, tapi Tetap Ada Kendala Rekrut Difabel

Peluang untuk kaum difabel di dunia kerja tak kurang-kurang. Penyiapan mental untuk memasuki dunia kerja penting dilakukan kepada kaum penyandang disabilitas. Bagi mereka, ada program ’’3 in 1’’.

LEWAT isyarat gerakan tangan, Shofiatul Muniroh menceritakan pe ngalaman kerjanya di PT Young Tree. Bagi penyandang tunarungu itu, sebuah kebahagiaan bisa diterima dan bekerja la yaknya nondifabel.

’’Saya senang bekerja di sini dan banyak senangnya,’’ kata Shofi, panggilan Shofiatul, di sela waktu kerjanya di pabrik sepatu berkaryawan 4.000-an orang itu (12/2).

Saat ini Shofi menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Sebab, sang suami belum mendapat pekerjaan dan tinggal di rumah bersama anak semata wayangnya. Sebelum bekerja di Young Tree, Shofi sempat pindah dari beberapa tempat kerja. Salah satunya di sebuah supermarket di Surabaya.

’’Saya takut pulang,’’ ungkap Shofi tentang alasan keluar dari tempat kerja di supermarket itu karena sering mendapat sif malam. Hingga akhirnya, pada 15 Februari 2016, dia diterima bekerja di pabrik yang terletak di Sidoarjo tersebut. ’’Cukup,’’ jawabnya ketika ditanya soal gaji.

Young Tree merupakan salah satu perusahaan yang berkomitmen menerima pegawai secara inklusif. Mereka tidak membedakan perlakuan atara difabel dan nondifabel. Area kerjanya pun berbaur. Selain Shofi, ada tunarungu lain. Di antaranya, Lasiono, Sunarto, Indah Novita Sari, Abdul Malik, Moh. Bahrul Ulum, dan Yudhi Ari Wijaya. Total ada 21 difabel.

Lasiono bahkan sudah dua tahun bergabung. ’’Pabrik tempat kerja sebelumnya bangkrut,’’ tutur Mufti Lazuardi, penerjemah bahasa isyarat yang menyampaikan ungkapan Lasiono. Kini dia hidup dengan seorang istri dan dua anak di Buduran, sekitar 5 km dari pabrik tempatnya bekerja.

Kwartiva Dona Oktaviana, HRD Young Tree, menjelaskan, sama halnya dengan nondifabel, mereka juga punya target kerja yang sama. Begitu pula standar gaji, fasilitas jaminan kesehatan, dan hal lain. ’’Mereka yang lembur juga tetap mendapatkan hak lembur,’’ katanya.

Pihak manajemen pabrik sangat terbuka dengan pekerja difabel yang akan bekerja di perusahaan sepatu ini. “Kami merekrut karyawan disabilitas karena perusahaan kami peduli kepada mereka. Kami juga melihat disabilitas ini punya potensi, yaitu bisa bekerja dengan fokus, telaten, dan tak banyak omong,” terang Dona.

Meski demikian, tambah Dona, bukanlah perkara mudah untuk mendapat pekerja difabel. Bahkan saat sudah masuk bekerja pun, ada juga yang keluar (tujuh orang) karena faktor pribadi. Perusahaannya punya komintmen penuh untuk merekrut 1 persen difabel yang memenuhi kualifikasi. PT Young Tree tak membatasi jumlah difabel yang akan direkrut, asal memenuhi kualifikasi.

Problem serupa dialami pabrik sepatu PT Wangta Agung. Dalam berbagai kesempatan, HRD Manager PT Wangta Agung Suryanto menegaskan bahwa perusahaannya sangat membutuhkan tenaga kerja difabel. ’’Asalkan ada kemauan, pasti tidak sulit. Apalagi, kami melatih lebih dahulu selama 20 hari. Selain itu, selama difabel bisa menggunakan fasilitas perusahaan. Semua punya hak dan kesempatan yang sama,’’ tegas Suryanto.

Perusahaan yang berlokasi di Jalan Tanjungsari itu juga tergolong sebagai pelopor dalam mempekerjakan difabel. Jika dihitung berdasar kelahiran UU 8/2016, perusahaan itu telah melampaui enam tahun sebelumnya. Mereka merekrut pekerja difabel sejak 2010. Kini di antara total 1.200 karyawan, tercatat setidaknya ada 84 difabel yang ditempatkan di bagian sablon, outsole, dan jahit.

Kesulitan mencari pekerja difabel yang memenuhi kualifikasi juga diamini Sekretaris Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jatim Ali Mas’ud. Asosiasinya yang bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dalam program ’’3 in 1’’ belum banyak diikuti difabel. Program ’’3 in 1’’ mencakup pelatihan, sertifikasi, dan langsung bekerja yang diselenggarakan dalam waktu 20 hari.

’’Kami memberikan pelatihan gratis. Mereka juga diberi uang saku serta sertifikat. Lulus dari pelatihan, mereka juga bisa langsung bekerja,’’ terang Ali tentang program itu.

Mas’ud menegaskan, industri persepatuan sangat membutuhkan tenaga kerja difabel. Aprisindo pun siap mengikutkan mereka dalam program ’’3 in 1’’. Terserah difabel apa, yang jelas masih bisa menggunakan bagian tubuhnya untuk menjahit. ’’Baik dengan kaki, tangan, atau anggota tubuh lain. Syaratnya satu, bisa menjahit,’’ terang mantan pejabat Pemkab Sidoarjo tersebut.

Secara keseluruhan, pada 2017, Disnakertrans Jawa Timur mencatat, 718 difabel terserap di dunia kerja formal di antara total 127.692 penyandang disabilitas (0,56 persen). Mereka tersebar di 32 perusahaan. (mka/www.jpipnetwork.id)

Didik Sesuai Kemampuan, Bukan Disabilitasnya

CUKUP melegakan, langkah afirmasi UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas mulai berjalan tanpa menunggu pengesahan juklak dan juknis. Sikap perusahan-perusahaan yang langsung membuka diri untuk menerima difabel bisa diartikan sebagai langkah maju.

Pasal 53 ayat 1 UU Penyandang Disabilitas menyebutkan, pemerintah, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah wajib mempekerjakan 2 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Se dangkan ayat 2 menyebutkan, perusahaan swasta terbebani 1 persen.

Lantas, apa akar masalah sulitnya mencari tenaga kerja difabel? Menurut Disability Specialist Ayo Inklusif! Jaka Anom Ahmad Yusuf Tanukusuma, setidaknya ada dua stigma yang sudah mengakar. Pertama, pendidikan segregasi. ’’Penerapan sistem pendidikan bagi penyandang disabilitas di sekolah luar biasa (SLB) telah membatasi perkembangan anak’’ jelasnya saat mengisi orientasi sekitar 30 jurnalis media lokal untuk pemberitaan disabilitas di Surabaya (13/2).

Stigma kedua, adalah rehabilitasi difabel yang berbasis panti. ’’Dua stigma itu membuat karakter penyandang disabilitas terisolasi,’’ jelas alumnus S-2 Universitas Flinders Australia itu.

Jaka lantas mengajak sekitar 10 jurnalis yang seorang diantaranya pemakai kursi roda. Me reka seolah-olah sedang di traffic light. Begitu lam pu merah menyala, menyeberanglah mereka. Yang berkursi roda ikut didorong. ’’Nah, Anda tidak bertanya kepada si pemakai kur si roda. Padahal, siapa tahu dia disana menunggu temannya,’’ ujar Jaka disambut tawa para ’’aktor’’ yang diajaknya bermain.

Agar lebih mengena, tentu pe nyandang disabilitas ditanyai dulu. Apa kemauannya. Apa kemampuannya. Tidak sekadar di sediakan paket keterampilan standar. ’’Bekerjalah dengan orang yang mengalami disabilitas untuk meningkatkan kapasitas, mengangkat kebutuhan spesifik mereka, memastikan persamaan kesempatan dan hak, serta memfasilitasi mereka agar mampu mengadvokasi diri sendiri,’’ jelas Jaka tentang salah satu cara mengatasi masalah difabel berbasis masyarakat.

Jika demikian, sangat mungkin hambatan difabel akan teratasi. Sebab, ketunaan, baik rungu, netra, daksa, maupun grahita, tak ubahnya identitas diri. Sama halnya dengan identitas orang yang punya rambut keriting, lurus, berombak, dan sejenisnya. (mka/www.jpip.or.id)

Arsip PDF :