Bukan Kondisinya, Lihat Dulu Kompetensinya
4 mins read

Bukan Kondisinya, Lihat Dulu Kompetensinya

Membongkar Mitos Pekerja dengan Disabilitas Kurang Produktif

Demi kemandirian, relakan mereka beradaptasi dengan dunia nyata dan dunia kerja. Agar mereka bisa mengatasi persoalan, termasuk kejeglong. Berikut pengalaman bagaimana membuat difabel lebih tegar.

APA yang Anda rasakan ketika melihat pemandangan seperti ini. Seseorang yang hanya berkaki satu dan bertangan satu sedang bekerja bergelantungan di gedung tinggi. Dengan cekatan, dia membersihkan kaca-kaca jen dela dengan peralatan layaknya non-difabel.

”Kebanyakan dari kita mungkin akan melihatnya kasihan. Kok tega ada orang seperti itu yang dipekerjakan.” Begitu tebakan Jaka Anom Ahmad Yusuf Tanukusuma. Cerita salah seorang sahabat difabelnya di Solo yang bekerja sebagai pembersih kaca gedung-gedung bertingkat itu diungkap dalam talk show ”Disabilitas dan Problem Produktivitasnya: Mitos atau Fakta?” di radio Suara Surabaya (16/1).

Jaka heran karena belum melihat produktivitas dan kualitas difabel itu dalam bekerja. Yang dilihat dulu hanya disabilitasnya: kaki satu dan tangan satu.

Cara melihat disabilitas yang diuraikan Jaka itu memang banyak tertanam di persepsi banyak orang. Ketika melihat penyandang disabilitas, mereka kebanyakan melihat kekurangannya lebih dulu, bukan kompetensi yang di miliki. ”Padahal, teman itu sangat menikmati pekerjaannya karena memang punya hobi climbing,” jelas penyandang tunanetra alumnus Flinders University Australia yang kesehariannya sebagai disability specialist Ayo Inklusif! itu.

Adanya mitos bahwa difabel harus dilihat disabilitasnya lebih dulu juga dikemukakan dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Budiyanto. Celakanya, mitos itu justru tumbuh dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Tidak sedikit orang tua yang over protection terhadap anaknya yang difabel, sehingga tidak melihat potensinya, apalagi mengembangkannya.

Budiyanto lantas menceritakan salah seorang mahasiswa tunanetra di Unesa. Kebetulan, sang difabel berasal dari keluarga kaya. Ke kampus, dia biasanya diantar dengan mobil. Kemudian, sang sopir turun mengantar mahasiswa hingga masuk kelas. ”Begitu seterusnya hingga satu tahun berjalan,” katanya.

Suatu hari, Budiyanto sengaja mencegat mobil yang biasa mengantar mahasiswa itu. Selanjutnya, Budiyanto meminta sopir dan keluarganya mengantar sang mahasiswa tunanetra ke kelas. ”Diantar sampai sini saja. Kalau kejeglong (terjerembap), nanti saya yang menolongnya,” tegas Budiyanto tentang upaya kecilnya membuat mahasiswa tunanetra itu bisa mandiri.

Budiyanto yakin, tanpa ”dikasihani” terus-menerus, mahasiswa tunanetra itu bisa hafal peta kampus. Bahkan, kadang terasa lebih susah mengarahkan orang tua daripada anaknya yang difabel.

Cerita unik tentang keluarga difabel juga dikemukakan Sekretaris Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur Ali Mas’ud. Saat difabel kali pertama masuk kerja di pabrik, biasanya orang tuanya ikut mengantar. ”Mereka melihat pabriknya, melihat fasilitas yang tersedia, dan juga melihat tempat kosnya,” papar Ali.

Sebenarnya wajar jika orang tua mengecek tiga kelengkapan itu untuk anak difabel. Tapi, jika sampai ditemani berhari-hari, itu justru membuat sang anak tidak bisa mandiri. ”Jadi, orang tuanya yang kangen anaknya, bukan sang anak,” selorohnya.

Problem sejak Pendataan

Berdasar laporan dinas sosial dari seluruh kabupaten/kota se-Jatim, terdapat 215 ribuan penyandang disabilitas fisik dan sensorik. Tentu saja, melatih dan memagangkan mereka di dunia kerja bukan pekerjaan mudah. Bahkan kerja keras harus dilakukan sejak pendataan.

”Entah stigma apa, anak disabilitas ini kadang malah disembunyikan,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial Jatim Arman Linda. Padahal, tambah Arman, banyak difabel yang kemampuannya mungkin sulit dibayangkan non-difabel. Misalnya, ada penyandang tunadaksa tangan yang ternyata bisa memegang alat las dengan kaki.

Kompetensi istimewa para penyandang disabilitas juga tampak pada program 3 in 1 Aprisindo yang bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian. Melalui pelatihan, sertifikasi, dan langsung bekerja selama 20 hari, produktivitas penyandang disabilitas ternyata luar biasa. ”Banyak pabrik yang meminta kami menyediakan tenaga kerja difabel. Tapi, kami justru kesulitan mendapatkan difabel untuk dilatih,” papar Sekretaris Aprisindo Ali Mas’ud.

Dengan berbagai kisah di atas, dia berharap rekrutmen pekerja dengan disabilitas benar-benar didasari kesadaran bahwa mereka memang kompeten. Sudah saatnya kita mengubah pola pikir. Jika berhadapan dengan difabel yang ingin bekerja, jangan lihat tulinya dulu, jangan lihat kursi rodanya dulu, jangan lihat tidak bisa melihatnya. Tapi, tanyakan kompetensinya, apa yang bisa dilakukan, dan apa yang akan dilakukan. (mka/www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :