Terbukalah Visi Positif yang Terpendam
Ikhtiar Difabel Menuju Kemandirian di Dunia Inklusif
Melepas banyak belenggu, para difabel ini kini tidak mau lagi menunggu. Mereka menatap masa depan seiring dengan pikiran yang makin terbuka. Mereka yakin bahwa kemandirian bukanlah kemustahilan. Simak lagi perjuangan tiga peserta Ayo Inklusif! berikut sebagaimana dikisahkan kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.
Meluaskan Makna Nikmat Hidup
MUHAMMAD Iqbal Riski mendapatkan suntikan semangat baru dalam menjalani kehidupannya sebagai difabel. ’’Saya merasa dampak yang sangat signifikan ya. Karena saya bertemu dengan teman-teman difabel lain. Dari situ saya merasa bahwa sebenarnya masih banyak kenikmatan dari Tuhan yang kita miliki. Misalnya, meski saya tunanetra, tapi kan semua anggota organ gerak saya masih bisa digunakan,’’ kata kader Ayo Inklusif! itu.
Iqbal mengalami kebutaan total (totally blind) sehingga tidak mampu menangkap stimulus cahaya apa pun. Kebutaannya tidak dia alami sejak kecil, namun baru terjadi pada usia 20 tahun. Sebelumnya, indra penglihatan pemusik yang berposisi basis itu berfungsi baik, namun pada 2005 dia mengalami low vision dan puncaknya pada 2009 mengalami kebutaan total.
’’Saya merasa down, hancur berantakan. Karena saat itu usia masih remaja dan sedang aktif-aktifnya,’’ ujar sosok 29 tahun asal Sidoarjo itu kepada JPIP (24/8). Setelah mengalami kebutaan total, Iqbal harus mulai berjalan dengan cara yang berbeda. Salah satunya membiasakan kakinya tidak hanya melangkah, namun juga meraba.
Kesulitan yang masih dia rasakan sampai sekarang adalah soal aksesibilitas finansial. ’’Saya sampai sekarang tidak punya ATM. Pihak bank menolak memberikan karena saya tidak bisa membuat tanda tangan konsisten. Saya sakit hati ditolak seperti itu,’’ ungkap difabel yang pernah mengajar sebagai guru SLB itu.
Kendala tersebut menjadi bagian kampanye penyadaran kepada perbankan bahwa kaum tunanetra dan difabel lain punya hak dan kemampuan untuk mengelola ATM dengan penyesuaian. Sejak akhir 2015 diluncurkan fasilitas mesin ATM ’’bicara’’ untuk mereka.
Iqbal terinspirasi untuk kembali berkembang saat bertemu dengan para difabel lain yang berpikiran positif pada program Ayo Inklusif!. Dengan menyerap pembelajaran soft skill dan hard skill di program ini, kini Iqbal melengkapi bekal mandiri dengan magang di bagian office administration di PT Bina Pertiwi (distributor mesin, grup United Tractors).
Dengan berpikiran seperti itu, sarjana lulusan pendidikan luar biasa Universitas Negeri Surabaya tersebut menjadi lebih positif dalam ber kehidupan. Meski penglihatannya tidak fungsional, Iqbal tetap berusaha menjadi pribadi yang awas dalam belajar kehidupan. (*)
Lampaui Visi 5 Sentimeter
MIRA Aulia seperti terlahir kembali ke dunia. Pengalaman mengikuti program Ayo Inklusif! memberinya perspektif baru yang lebih positif soal keadaan dirinya. Dia seperti mendapatkan kesempatan hidup yang kedua. ’’Sebagai seorang perempuan yang difabel, setelah pernikahan saya merasa sebagian akses kepada dunia luar tercerabut. Nah, kini saya seperti hidup kembali. Muncul motivasi untuk kembali mengembangkan karir,’’ ujar peserta Ayo Inklusif! yang tengah magang sebagai front officer di United Tractors tersebut.
Lulusan Ilmu Komunikasi UPN Veteran itu mengakui dampak yang signifikan, terutama soal paradigma tentang disabilitas yang disandangnya. ’’Dulu saya selalu denial, menyangkal kondisi diri. Selalu berpikir bahwa ’Ah saya ndak apa-apa. Saya ndak difabel’. Mungkin karena malu dengan disabilitas. Tapi, saya di sadarkan, sekarang menerima apa adanya,’’ ujar Mira.
Sepintas orang tidak mengira bahwa perempuan 31 tahun tersebut adalah difabel. Hal itu terjadi karena tidak tampak ada yang berbeda pada fisik ibu rumah tangga yang satu ini. Mira adalah tunanetra low vision. Dia hanya bisa melihat dengan jelas objek pada jarak sekitar 5 sentimeter dari matanya.
’’Saya masih bisa menggunakan handphone dan komputer, namun harus melihatnya dari jarak sangat dekat,’’ ujarnya sambil mendemokan cara memakai gawai tersebut saat ditemui di Rusunawa Universitas Brawijaya Malang (24/8). Memang, Mira tampak tidak mengalami kesulitan saat mengetik di salah satu aplikasi perpesanan meski dia harus mendekatkan layar gawai ke matanya. Untuk menggunakan laptop, Mira memanfaatkan fitur pembesar (magnifier) pada layarnya.
Meskipun hanya bisa melihat detail pada jarak sangat dekat, bukan berarti Mira menjadi tidak mandiri. Kini dia membangun diri dan visi hidupnya jauh melampaui low vision-nya. Dan, mera sa kan manfaat Ayo Inklusif!, ke depan dia berharap program itu bisa menjangkau lebih banyak difabel perempuan yang sudah berkeluarga seperti dirinya. Itu memungkinkan karena rentang usia kaum difabel Ayo Inklusif! antara 19-34 tahun. (*)
Ingin Karyawan yang Bawa Baki
IKO Septa Adi Chandra tidak lagi mengkhawatirkan masa depan. Pasalnya, dia sudah punya rencana bisnis yang dikembangkan. Bahkan, penyandang tunadaksa itu mulai merintis bisnisnya meski masih dalam skala kecil. Pemuda 30 tahun itu bermimpi menjadi pengusaha kuliner, memiliki banyak stan penjualan minuman jus aneka buah.
’’Saya ingin punya banyak stan dan karyawan. Agar tidak perlu mengantarkan sendiri pesanan pelanggan,’’ ujarnya saat ditemui di Rusunawa Universitas Brawijaya Malang (24/8). Iko saat ini tengah praktik berjualan minuman jus di SMK Negeri 2 Malang setelah mendapat pelatihan di tempat yang sama. Keinginannya untuk memiliki karyawan disebabkan dia mengalami kesulitan jika harus membawa sendiri pesanan kepada pelanggan. ’’Tangan saya agak kaku dan kalau berjalan juga tertatih, jadi kesusahan membawa baki pesanan jus kepada pembeli,’’ urainya.
Pemuda kelahiran Surabaya itu terlahir bukan sebagai seorang difabel. Namun, pada usia 2 tahun, separo badannya tersiram air panas. Peristiwa itu mengakibatkan kerusakan beberapa jaringan organ tubuhnya. Bukan hanya berjalannya yang menjadi agak terpincang. Karena air panas juga mengenai bagian muka, Iko menjadi kesulitan berbicara dengan jelas.
Sehari-hari Iko tinggal di Panti Baiturrahim Suko, Sidoarjo. Ibunya sudah almarhumah. Meski ayahnya masih ada, kurangnya kepedulian membuat hubungan keduanya dingin. Hal itu membuat Iko terbiasa dalam kehidupan pada panti asuhan.
Sebelum mengikuti program Ayo Inklusif!, dia merasa belum berani hidup mandiri di luar panti. Namun, pascaprogram itu selesai, dia berniat membuka usaha kuliner minuman jus sendiri. ’’Berani. Saya sekarang sudah berani hidup mandiri karena sudah tahu cara membuat jus dan jualan,’’ ucapnya dengan penuh keyakinan. (www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
