Sosok Ibu Membawa Pelita Keteguhan
Ikhtiar Para Difabel Peserta Ayo Inklusif! Mengembangkan Kemandirian
Para difabel ini punya cara-cara unik dalam mengatasi hambatan. Ada yang bertekad melakukan apa-apa sendiri. Ada yang perlu jeda setelah tiba-tiba dunianya jadi gelap. Kerap jalan mereka sangat berliku untuk mandiri. Berikut kisah mereka kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.
Siap Buka Sablon Sendiri
AKHMAD Rusydi beruntung karena memiliki orang tua yang penuh perhatian. Ayahnya, Eko Prayogo, adalah pengajar bahasa Inggris di salah satu SMA negeri favorit di Gresik. Ibunya, Fauziah, merupakan ibu rumah tangga yang dengan sabar mendampingi Rusydi berproses menjadi mandiri. Dukungan keluarga inti tersebut sukses menjadikan bungsu di antara tiga bersaudara itu mandiri dalam kesehariannya. ”Memang dia mandiri sekali. Kesulitannya memang lebih pada soal berkomunikasi,” ujar Fauziah di sela acara Ayo Inklusif! di Hotel Fairfield Surabaya (29/8).
Sosok sang ibu agaknya sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian Rusydi. Meski sempat shocked saat mengetahui anak bungsunya mengalami ketulian, akhirnya dia menguatkan diri untuk menerima keadaan dan berusaha mendampingi Rusydi semaksimalnya. ”Awalnya sedih sekali. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya,” kata Fauziah. Dia kemudian memanfaatkan tayangan di televisi untuk menanamkan pendidikan karakter kepada anaknya itu. ”Dari situ saya beri tahu, ini boleh, ini tidak,” lanjutnya.
Kesulitan berkomunikasi memang dialami Rusydi. Sebab, dia difabel tuli. Ketulian itu dia dapat setelah kejang dan panas tinggi saat berusia dua tahun. ”Kalau ada penerjemah, ya lebih mudah (berkomunikasi, Red). Tapi, kalau tidak ada, ya biasanya saya cenderung diam. Tidak banyak bicara,” kata Rusydi dengan bahasa isyarat.
Soal komunikasi itu juga yang sempat menyulitkan dia saat tahap pelatihan hard skill. Pemuda 21 tahun tersebut mengambil pelatihan sablon dan pembuatan suvenir di SMK Negeri 4 Malang. ”Waktu ikut pelatihan, (petunjuknya, Red) harus diulang-ulang oleh penerjemah. Tapi, akhirnya bisa,” ujar pemuda dari Kedanyang, Gresik, tersebut.
Pelatihan sablon itu cukup memberi Rusydi keberanian untuk menjadi wirausaha mandiri. ”Ingin buka bisnis sablon. Berani mencoba tidak di rumah, tapi di Surabaya,” ujar Rusydi. (*)
Tetap Laju dalam Kegelapan
DENDY Arifianto adalah sosok humoris. Hebatnya lagi, meski mengalami kebutaan total, dia sukses menyelesaikan studi S-1 hukum di Universitas Brawijaya dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) cukup tinggi, yakni 3,53. ”Tekad saya move behind the darkness,” kata Dendy saat di temui di tempat magangnya (10/9). Melalui Ayo Inklusif!, Dendy mendapatkan kesempatan magang sebagai tenaga telemarketing di PT Andalan Multi Kencana, perusahaan pemasok spare part alat berat (grup United Tractors).
”Saya sempat cuti kuliah selama dua tahun karena kebutaan ini, namun kemudian bangkit dan kuliah lagi karena saya tahu harus bagaimana (mengatasi persoalan penglihatan, Red),” ujar sosok 27 tahun dari Pandaan, Pasuruan, tersebut. Pada 2008, Dendy mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan retina matanya sobek. Kebutaan total pada 2011 membuat dia cuti kuliah hingga melanjutkannya lagi pada 2013. Untuk memahami materi kuliah, Dendy meminta bantuan teman untuk membacakan sembari berdiskusi.
Keceriaan dan kepribadiannya yang humoris adalah keberhasilan sang ibu dalam menguatkan mentalnya. Ibunya, Umi Thoyibah, berwirausaha dalam bidang tata rias atau salon. ”Ibu adalah sosok yang menginspirasi saya. Mengajari untuk selalu sa bar dan humoris,” ujar bungsu di antara empat bersaudara itu. Kesabaran dan humor membuat dia menjalani hidup dengan ringan hati.
Keikutsertaan sebagai peserta Ayo Inklusif! memberi dia cukup banyak manfaat, termasuk magang di perusahaan ternama. ”Salah satu manfaat besarnya, saya menjadi tahu atmosfer di tempat kerja itu seperti apa,” ujarnya. Meskipun diposisikan sebagai tenaga telemarketing yang tidak secara langsung berhubungan dengan jurusan hukum yang dipelajarinya, dia mengaku enjoy saja.
”Saya juga bisa berimprovisasi dalam bahasa Inggris. Life skill saya menjadi lebih tertata dalam hal komunikasi,” ujarnya. Kedepan, Dendy berharap bisa melanjutkan studi untuk meningkatkan kompetensi diri. ”Semoga da pat beasiswa untuk lanjut kuliah,” katanya. (www.jpipnetwork.id)
Biasakan Kuat tanpa Bantuan

NOLINA Utuh Panguji kini tengah merealisasi impian. Gadis dari Sukodono, Lumajang, itu sedang menjalani internship (pemagangan) di CV Harapan Abadi. Di perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan umum dan properti itu, Nolina benar-benar menemukan dunianya. Lulusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jember tahun 2017 tersebut bisa meng-aktualisasikan diri. Dia menjadi drafter (juru gambar rancang bangunan) sesuai dengan keilmuan yang dipelajarinya.
”Selama magang di sini, penerimaan karyawan yang lain sangat terbuka dan tidak ada diskriminasi. Untuk pekerjaan, disesuaikan dengan porsi anak magang kebanyakan. Sesuai dengan pembagian kerja,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon (13/8).
Nolina terlahir tunadaksa. Kakinya mengalami pertumbuhan tidak seperti umumnya. Kaki kanan memiliki struktur sampai jari, tapi panjangnya hanya sekitar 30 sentimeter. Sedangkan kaki kirinya memiliki struktur sampai paha saja. ”Meski ada kaki, saya tidak bisa berdiri. Paling hanya kuat dua detik,” tutur Nolina. Karena itu, untuk membantu mobilitas, gadis 25 tahun tersebut menggunakan kursi roda dan papan beroda.
Namun, Nolina adalah gadis yang kuat, tidak hanya secara mental, tapi juga fisik. Misalnya saja, ketika kuliah, dia terbiasa naik tangga sendiri tanpa bantuan. ”Sering juga kalau wudu itu naik ke wastafel. Jadi, dari kursi roda, memanjat ke atas,” ucap dia.
Untuk keteguhan hati dan kekuatan itu, dia terinspirasi Suciamik, almarhumah ibu kandungnya. Nolina berprinsip, difabel tidak boleh dianggap remeh. Penyandang disabilitas juga mam pu bersaing dengan yang lain. ”Meskipun kamu difabel, kamu tetap seorang manusia yang harus menghargai dan dihargai manusia lain. Itu pesan ibu yang selalu kuingat,” kata Nolina.
Keikutsertaan dalam Ayo Inklusif! juga dipandang sangat positif oleh Nolina, terutama dalam membentuk ke pribadian. ”Bisa mengenal teman-teman, mengikuti berbagai program, itu meningkatkan kepercayaan diri. Kalau soal hard skill, memang saya sudah punya kemampuan dari bangku kuliah,” ujarnya. (*)
Arsip PDF :
