Kemah Pemuda Bangunkan Jiwa
5 mins read

Kemah Pemuda Bangunkan Jiwa

Liku-Liku Difabel Mengembangkan Diri Menuju Dunia Inklusif

Seperti lari gawang, para difabel ini merasa makin bisa melompati halang rintang dari lingkungan. Bahkan, kini mereka sibuk menyiapkan kemandirian masa depan. Ini kisah tiga peserta kegiatan Ayo Inklusif! seperti dituturkan kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.

Berjejaring ke Masa Depan

RAHMATULLAH sudah bisa mendinginkan hatinya. Bahkan, melangkah lebih jauh menatap masa depan. Pemuda tunadaksa wajah ini sudah menyerap pembekalan dari Ayo Inklusif! Klop dengan statusnya sebagai lulusan Teknik Informatika Universitas Nusantara PGRI Kediri, Rah matullah memilih kursus desain grafis dan kini magang di Tabloid Nyata.

Dia berdamai dengan segala rintangan akibat kondisi fisiknya. Rahmatullah mengakui, dirinya pernah sakit hati, termasuk saat teman dan bahkan guru, mengejeknya. ’’Mereka menirukan apa yang saya katakan, dengan maksud mengejek. Saya sakit hati waktu itu,’’ tuturnya saat ditemui di tempat tinggal sementaranya di Rusunawa Universitas Brawijaya (24/8).

Pemuda 25 tahun tersebut mendinginkan suasana hatinya dengan cara menyendiri. ’’Biasanya kalau sudah bersedih, saya mengalihkan pikiran dengan cara introspeksi diri. Juga dengan touring,’’ ujar pemuda yang gemar bermotor jarak jauh itu.

Mengikuti kegiatan Ayo Inklusif! membuat Rahmatullah makin mudah dalam menyikapi keadaan karena telah memahami dirinya. ’’Program ini membantu dan menjembatani para penyandang disabilitas untuk berani keluar dari ketakutan mereka. Kami menjadi lebih terbuka kepada siapapun dan bisa membentuk jati diri,’’ terang pemuda asal Kediri tersebut.

Program yang dirasa paling berkesan adalah mengikuti Kemah Pemuda (Youth Camp) di Malang yang dipimpin Saujana, anggota konsorsium Ayo Inklusif!. ’’Karena dalam kemah itu, peserta membangun jiwa, mengembangkan keterampilan, dan kepribadian. Saya belajar menjadi manusia yang kuat dan bermental baja,’’ tegas nya.

Pergaulannya juga meluas. Awalnya Rahmatullah berinteraksi terbatas dengan orang-orang terdekat, kini dengan teman sesama difabel dari kota berbeda-beda serta pegiat sosial antidiskriminasi dan kesetaraan hak publik. Berjejaring mereka saling menguatkan.

Rahmatullah yakin karya desain, tekad besar, serta jejaringnya bernilai untuk modal terjun ke dunia kerja dan kemandirian. (*)

Terinspirasi Cerpenis Difabel

SUSANTY OKTAVIA kini makin tegar. Segala ocehan kepada dirinya yang menyandang tunadaksa bawah dan juling ini tidak lagi menjadi penghalang besar langkahnya. ’’Anak-anak kecil bilang, ’Wis gedhe kok sik mberangkang’ (sudah besar kok masih merangkak) sambil menunjukkan ekspresi takut. Lalu, orang tua mereka berkata ‘Lik wedi ojo disawang’ (kalau takut jangan dilihat),’’ kenang Susanty saat ditemui di rumahnya di Bunulrejo, Malang, (24/8).

SUSANTY OKTAVIA difabel tunadaksa

Gadis 30 tahun itu menjawab dengan terus belajar kepada orang-orang yang tepat. Susanty ikut tampil di televisi saat menjadi asisten penulis almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim. Ratna Indraswari adalah tuna daksa yang menjadi cerpenis terkemuka Indonesia. Dari Ratna, yang berkursi roda atau terbaring di tempat tidur saat berkarya, Susanty menyerap kegigihan untuk mandiri, bahkan berprestasi menonjol. Susanty sudah lama mencoba untuk menulis sastra dan kini sedang mengasahnya lewat praktik penulisan kreatif.

Susanty juga terus maju meski infrastruktur yang tidak ramah penyandang disabilitas memunculkan kekhawatiran untuk bisa mandiri di luar rumah. ’’Karena saya pengguna kursi roda, untuk bisa menaiki tempat bertangga, butuh bantuan orang. Kalau di tempat itu sepi, saya harus menunggu orang lewat untuk meminta bantuan,’’ ujar gadis yang bertekad menjadi penulis itu.

Keikutsertaan dalam program Ayo Inklusif! makin meningkatkan keberaniannya beraktivitas di luar rumah. Termasuk mengikuti Kemah Pemuda (Youth Camp) di Malang yang dipimpin Saujana, anggota konsorsium Ayo Inklusif! ’’Program ini menekankan agar kami berani keluar tanpa pendamping kalau memang bisa. Ikut program ini membuat orang tua saya percaya. Dulu orang tua ragu kalau saya bisa mandiri di luar rumah,’’ lanjutnya.

Suroso, ayah Susanty, pun mengiyakan. ’’Dulu belum percaya untuk melepas sendirian. Jadi, sekarang lebih leluasa, pikiran saya itu lebih bebas. Tidak memikirkan (macam-macam) seperti dulu,’’ tuturnya. (*)

Senyum Menuju Kemandirian

FATRULLAH BUDI HARIANTO difabel tunadaksa

FATRULLAH Budi Harianto, difabel asal Tajinan, Malang, pernah gentar dengan dunia luar. Dia selalu merisaukan pandangan orang kepadanya saat beraktivitas di luar rumah.

Kekhawatiran sosok 29 tahun itu terbentuk karena sejak kecil dia sering merasakan ejekan teman-temannya tentang cara berjalan yang agak pincang dan bicaranya kurang jelas. Hal yang sempat membuat dia kerap bersedih. ’’Lalu, berpikir mengapa ya saya berbeda dengan teman-teman saya itu,’’ ungkap bungsu tiga bersaudara tersebut saat di temui di Rusunawa Universitas Brawijaya (24/8).

’’Ayo Inklusif! ini membuat saya percaya diri,’’ ujar lulusan SMA Shalahuddin, Malang, 2008 itu. Dia terkesan dengan kegiatan Kemah Pemuda awal tahun ini. ’’Karena dalam kegiatan itu, kita dibentuk untuk menyampaikan apa pun pendapat dan pikiran. Itu membuat kepercayaan diri meningkat,’’ lanjutnya. Hal tersebut membuat dia teringat kepada sosok sang ibu, Listianah (almarhumah), yang selalu mendorong untuk percaya diri dengan cara tidak membeda-bedakan dengan saudaranya yang lain.

Fatrullah pun akhirnya mampu membentuk sikap positif dalam menjalani kehidupan. ’’Kondisi apa pun yang kita alami, tetaplah hadapi dengan senyuman,’’ pesannya. Raut wajahnya memang selalu ceria selama proses wawancara. Tentu saja tidak hanya senyuman, kini Fatrullah membangun menuju kemandirian dengan mengikuti pelatihan desain grafis dan magang di Tabloid Nyata.

Fatrullah berusaha mandiri secara ekonomi. Jika dulu bekerja sebagai penjaga warnet, ke depan dia berencana membuka jasa desain grafis di dekat rumahnya. ’’Peluangnya masih besar karena belum banyak usaha desain di sana,’’ ucapnya penuh keyakinan.(www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :