Kejar Inovasi via Presentasi dan Lapangan
Mencermati Fase Penjurian Kolaborasi Kovablik-Otonomi Awards 2018
Kompetisi inovasi inimemasuki fase dag-dig-dug. Dari proposal, muncul pola inklusi yang diinovasi. Apa yang perlu diperhatikan bagi yang lolos? Berikut catatan Rhido Jusmadi, ketua panitia festival kompetisi ini.
FESTIVAL Otonomi Awards (OA) yang berkolaborasi dengan Kovablik Pemprov Jatim kini beringsut maju ke tahap penjurian. Cukup membanggakan, inovasi di bidang inklusi ternyata cukup semarak. Dari 198 inovasi yang masuk melalui laman http://jipp.jatimprov.go.id, yang bisa berlanjut ketahap penilaian sebanyak 154 proposal. Meningkat dari 101 proposal tahun lalu. Dari 154 proposal, 40 di antaranya bertema inklusi.
Jumlah itu lumayan karena lebih dari seperempat inovasi dalam kategori Sinovik (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemen PAN-RB. Selain kategori pelayanan publik yang inklusif, kementerian itu memaklumatkan tiga kategori lain. Yakni, (1) tata kelola pelayanan publik yang efektif, efisien, dan berkinerja tinggi; (2) memajukan transparansi, akuntabilitas, dan integritas; (3) kolaborasi; serta (4) perbaikan kesejahteraan sosial. Empat kategori ini dijad ikan acuan karena Kovablik menjadi semacam pemanasan di level provinsi menuju Sinovik 2019. Jatim selalu juara umum sejak acara tahunan ini dimulai 2014.
Untuk proposal inovasi inklusi, tim juri JPIP (di dalamnya ada ahli dari Pemprov Jatim, akademikus dari Universitas Negeri Trunojoyo Madura, difabel mandiri, serta spesialis disabilitas) yang akan melakukan penilaian. Selain penilaian proposal, juga presentasi serta penelitian lapangan (survei publik). Hari ini dan besok (Kamis-Jumat, 9-10 Agustus) di Hotel Wyndam Surabaya, tim juri akan mendengarkan presentasi para inovator secara bergilir. Surat undangan sudah terkirim ke masing-masing inovator di pemkab/pemkot.
Sementara itu, inovasi tiga kategori lain kini sudah masuk tahap penilaian berkas proposal oleh juri independen Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) yang dibentuk Pemprov Jatim. Di dalam tim juri ada ahli dari JPIP, Universitas Brawijaya (UB), GIZ, KOMPAK, dan Kinerja yang selama ini menjadi mitra pembangunan Jatim. Hasil penilaian proposal ini akan dilanjutkan dengan presentasi oleh inovator yang lolos dalam penilaian tim juri pemprov. Kemungkinan 35 besar atau 45 besar di luar kategori inklusi. Siapa mereka akan diumumkan dan dikirimkan undangan. Kemungkinan akhir Agustus ini.
Dalam penjurian presentasi, perlu disiapkan narasi singkat serta gambaran audio visual yang ringkas dan menarik. Para juri perlu diberi keterangan sesingkat dan sejelas mungkin karena waktu presentasi 20 menit saja. Makin efektif presentasi, makin jelas paparannya, makin mu dah dinilai. Apalagi bila pada dasarnya inovasi yang ditam pilkan punya bobot terobosan luar biasa.
Selayang pandang pembacaan proposal-proposal inklusi, kebanyakan inovasi cukup membesarkan hati. Banyak inovasi terkait kaum miskin dan rentan (poor and vulnerable) yang kadang tertinggal dalam pembangunan. Inovasi itu menyentuh kaum perempuan, anak-anak, orang sakit, difabel, kaum sepuh, penganggur, baru lulus sekolah, serta kelompok duafa lain. Semangat membuat kehidupan mereka lebih baik jelas merupakan pemenuhan tugas pembangunan yang perlu terus dikembangkan.
Terkait kelompok difabel dan rentan penyakit, kebanyakan inovasi masih bersifat ’’menuju titik nol’’. Artinya bersifat pendampingan agar kehidupan mereka sehari-hari lebih baik seperti standar sewajarnya. Masih jarang yang berinovasi lebih jauh. Misalnya, bagaimana agar mereka bisa mandiri dan meraih akses ke pekerjaan. Padahal, pelayanan dan pendampingan kepada mereka cukup sulit bila dilakukan terus-menerus tanpa mengupayakan mereka bisa mandiri.
Dalam audiensi direksi Jawa Pos dan JPIP dengan Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau Pakde Karwo, Selasa (7/8), ada informasi menarik. Pemerintah berupaya agar pekerja yang terkena PHK (artinya menjadi kelompok rentan) langsung bisa mengakses pelatihan kerja. Agar keterampilan mereka terus diasah sehingga makin banyak bekal bila melamar pekerjaan berikutnya. Atau, dilatih keterampilan pe kerjaan yang berbeda. ’’Begitu kena PHK, langsung ditampani (diterima) oleh pelatihan,’’ kata Pakde Karwo.

Nah, inovasi semacam ini perlu digaungkan agar bisa diakses lebih mudah oleh para tenaga kerja yang membutuhkan. Tentu saja, kalau bisa, biayanya ditanggung APBD (’’APBD untuk rakyat’’) agar mereka tidak terbebani lebih berat setelah PHK atau pengangguran.
Kalau ada inovasi-inovasi yang mendorong kaum rentan untuk lebih mandiri dan belum disampaikan lewat proposal, JPIP membuka peluang disampaikan saat presentasi atau saat peneliti JPIP turun ke lapangan. Menjaring inspirasi dari inovasi seperti ini bisa menjadi inspirasi praktis agar bisa lebih meng arusutamakan hak-hak kaum miskin dan rentan untuk mendapatkan akses ke pekerjaan. Bagi mereka, mendapatkan peker jaan sangat penting agar bisa membangun kehidupan yang independen. Penjaringan inovasi yang memberi bekal kemandirian kelompok rentan ini dilakukan dengan tetap menghargai inovasi-inovasi yang sudah masuk.
Menjaring inovasi yang membekali kaum rentan untuk mendapat hard skill dan soft skill ini memang menjadi misi Ayo Inklusif!, konsorsium yang dipimpin JPIP dan beranggota CBM, PSLD UB, Saujana, serta United Tractors. Karena itulah, selain kepada inovator pemkab/pemkot, perusahaan-perusahaan yang sudah inklusif juga akan dicari yang layak untuk mendapat awards.
Untuk pembekalan hard skill, Ayo Inklusif yang dibiayai USAID mengursuskan 50 difabel yang didampingi, di antaranya ke Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari, Universitas Brawijaya, serta tempat kursus lain. Mereka dipilah-pilah sesuai dengan minat. Di antaranya, tata boga, internet marketing, drafter, desain fashion, perhotelan, bahasa Inggris, elektronik, komputer, mebel, desain grafis, hidroponik, membuat kue, dan creative writing. Sedangkan soft skill yang diberikan, misalnya, dengan latihan berkorespondensi, membangun kerjasama, berjejaring, dan membina relasi yang efektif. (www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF ;
