Yakin Bangun Diri Sekaligus Peduli Sesama
Semangat Baru Tiga Difabel yang Ikut Ayo Inklusif!
Belokan mendadak dalam kehidupan kadang membuat semangat menyurut. Berkumpul dan berjejaring ternyata bisa menyalakan semangat itu lagi. Misalnya yang dialami 3 di antara 50 difabel yang ikut Ayo Inklusif!. Serial kisah ini kembali diceritakan kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.
Berusaha Dirikan Sekolah Daksa
DANIS Ade Dwiresnanda memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Setiap pekan dia menyisihkan sebagian uang saku untuk dibelikan makanan dan dibagikan kepada anak jalanan. ’’Ya, nggak banyak sih. Kan aku juga masih belum sepenuhnya bekerja,’’ ujarnya kepada JPIP di gedung FISIP Unair Surabaya (3/10).
Danis adalah pengguna kaki palsu di dua kakinya. Sejak lahir dua kakinya hanya selutut. Orang tuanya, Sudarno dan Rengganis, punya kesadaran tinggi akan pendidikan dan kepedulian sosial. Sudarno adalah dosen biokimia di Kedokteran Unair.
Bukan hanya soal makanan, sosok 26 tahun yang tengah studi Magister Kajian Sastra dan Budaya Unair itu juga sangat memikirkan pendidikan anak jalanan, khususnya yang mengalami disabilitas daksa. Menurut dia, sangat banyak remaja difabel yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Kondisi itu membuatnya ingin mendirikan sekolah khusus bagi difabel daksa seperti dirinya.
’’Sekolah khusus untuk difabel daksa mungkin belum ada. Saya ingin membuat sekolah semacam itu. Sekolahnya lengkap sehingga teman-teman difabel daksa tidak perlu keluar dari kawasan itu (memiliki semacam asrama, Red),’’ terangnya.
Danis kini magang sebagai asisten editor di Jurnal Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik (MKP) FISIP Unair. Tiap bulan dia harus membantu editor me-review 10 artikel ilmiah. ’’Saya kan kuliahnya budaya, sedangkan ini jurnalnya FISIP. Jadi, ya harus baca-baca lagi banyak teori sosial. Tapi, saya mampu mengatasinya,’’ ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu. (*)
Kembalinya Senandung Hidup
SUARA merdu Pauwan kini kerap mengalun lagi. Dia menemukan lagi semangat hidup. Sejak kematian Sriah, ibunya, pada 2011, difabel low vision itu membatasi pergaulan. Alumnus jurusan bahasa SMA Negeri 2 Lamongan tersebut hanya mau bersosialisasi dengan teman dekatnya. Keikutsertaannya dalam Ayo Inklusif! menemukan kembali keberanian untuk membuka isolasi diri.
’’Saat saya ujian skripsi, ibu saya meninggal. Dan saya menganggap ujian skripsi itulah penyebab saya tidak mendampingi ibu saat kematiannya,’’ ujarnya dengan suara berat karena menahan emosi ketika ditemui di tempat magangnya sebagai telemarketing Toyota Auto Finance (TAF) MERR Surabaya (10/10).
Belokan mendadak dalam kehidupannya itu membuat mentalnya down. Dia meninggalkan studinya di Pendidikan Luar Biasa Unesa yang di masuki sejak 2005. Akhirnya dia drop out pada 2014. Padahal, sebelumnya dia adalah pekerja keras. ’’Saat SMA dan kuliah, saya mencari uang dengan ca ra mengumpulkan botol-botol plastik. Saya keliling pakai sepeda onthel di sekitar tempat tinggal di asrama SDLB Negeri Lamongan sampai ke pasar kota,’’ lanjut Pauwan yang 4 di antara 5 saudaranya juga tunanetra.
Pauwan termasuk multitalenta. Perempuan yang lahir dari ibu tunanetra dan ayah awas itu menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Mandarin. Sosok 34 tahun tersebut juga pandai menyanyi karena sehari-hari menjadi sinden grup campursari Krido Utomo Lamongan. Suaranya yang meliuk-liuk mendayu kini sering dilantunkan lagi di depan kawan-kawannya di Ayo Inklusif!.
’’Saya bisa terhubung dengan dunia luar setelah mengisolasi pergaulan sejak ibu meninggal. Jangka pendeknya, saya ingin dapat pekerjaan telemarketing seperti magang sekarang ini. Kalau jangka panjangnya sih ingin mendirikan lembaga bisnis kolaborasi kelompok ’Antusias’ di Ayo Inklusif!,’’ ungkapnya optimistis. (*)
Merintis Studio Rekaman
RYAN Nur Faisal sangat ingin memiliki usaha sendiri. ’’Untuk awal saya akan melamar kerja dulu, meskipun jauh di luar Jawa pun mau. Tapi, kedepan saya ingin memiliki usaha sendiri, lalu semua pekerjanya saya rekrut dari teman-teman difabel,’’ tegasnya. Keinginan itu berangkat dari pengalamannya ditolak di beberapa perusahaan.
Ryan adalah seorang difabel tunadaksa. Kaki kanannya diamputasi akibat kecelakaan motor saat dia kelas VIII SMP. ’’Kebut-kebutan di jalan untuk setting motor. Lalu nabrak pemotor lain. Tulang mata kaki retak, tapi amputasinya sampai lutut,’’ katanya kepada JPIP (9/10).
Akibat kehilangan satu kaki, Ryan sempat kesulitan mendapatkan perusahaan yang mau merekrutnya sebagai pekerja. Padahal, dia berkeinginan kuat ikut membantu keluarga. Dia menjadi yatim sejak usia 4 tahun dan ibunya, Eni Krismawati, 40, bekerja sebagai tukang rias untuk menghidupi Ryan dan dua saudaranya. ’’Mungkin karena saya pakai protesa (kaki palsu), jadi mereka enggan menerima,’’ ujar penghobi musik reggae itu. Beberapa perusahaan pernah dia masuki lamaran seperti jasa ekspedisi, toko elektronik, hingga supermarket.
Kini alumnus SMK PGRI Wlingi, Blitar, itu tengah magang sebagai document administrator di Toyota Astra Finance (TAF) Darmo. Dia bertugas menginput data dari sales lapangan, kemudian men-scan, upload kontrak, lalu mengirim ulang ke customer (paket surat). Pengalaman magang itu menambah kepercayaan dirinya. Apalagi, dia sudah berjejaring dengan sesama difabel dan nondifabel dari mengikuti program Ayo Inklusif!.
Berkat Ayo Inklusif! Ryan juga bisa merintis studio rekaman mini sendiri di rumah. ’’Uang saku dari kegiatan Ayo Inklusif! ini saya irit, saya belikan peralatan. Ada mic condenser, stand mic, tripod, dan lampu LED. Saya ingin membangun home record, lalu membuat video musik sendiri. Ya, meski saat ini masih sebatas hobi,’’ ujar pemuda 22 tahun asal Blitar tersebut. (jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
