Lampaui Tekanan, Optimalkan Kemampuan Diri
5 mins read

Lampaui Tekanan, Optimalkan Kemampuan Diri

Semangat Tiga Difabel Buka Pintu Kesempatan di Dunia Inklusif

Membuka diri akan meluaskan wawasan. Menjadi
bekal menghadapi tantangan demi mimpi yang lebih
tinggi. Berikut kisah tiga difabel yang ikut Ayo Inklusif!,
dituturkan oleh Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.

Buktikan Bisa Bekerja

MOHAMMAD Agus Setiawan tidak lagi tertutup kepada orang-orang di sekitarnya. Jika dulu cenderung pendiam dan penyendiri, kini difabel daksa itu berani membuka diri. Keberanian tersebut dia dapatkan tidak dalam waktu singkat. Bahkan, hingga menjelang akhir program, Setiawan baru bisa keluar dari tekanan mental jika berada di tengah keramaian.

”Saya suka menyendiri. Jadinya, nggak disukai teman. Ngomong sama keluarga saja sangat jarang, apalagi bercerita. Saya tidak familier bertemu dengan banyak orang, apalagi berbagi cerita dan aktivitas lainnya,” ujar sosok 27 tahun itu Senin lalu (19/11).

Dia sempat tidak nyaman dan tertekan saat mengikuti kegiatan Kemah Pemuda di Ayo Inklusif!. Bagaimana tidak, dalam kegiatan itu para difabel dikelompokkan dan didorong untuk berinteraksi sosial.

Namun, justru ketidaknyamanan itulah yang pelan-pelan membuat pemuda dari Desa Petiyin Tunggal, Dukun, Gresik, itu mampu keluar dari penjara pikirannya.

”Dampak dari pengalaman di Ayo Inklusif! dalam pekerjaan yang saya tekuni sekarang, saya lebih bisa mengatasi tekanan. Lebih berpikiran positif dan terbuka. Juga, sekarang saya tidak gampang menyerah dalam bekerja,” ujarnya.

Sebelumnya, dia membantu orang tuanya dengan menjadi petani di sawah. Melalui proyek Ayo Inklusif!, dia pun berkesempatan mencicipi tekanan kerja ketika magang seba gai asisten di Aneka Motor Service, Surabaya. Belum lama berselang setelah masa pemagangan, dia telah mendapatkan pekerjaan.

”Saya cari di internet, di grup Facebook. Akhirnya, dapat info lowongan pekerjaan. Setelah saya melamar, akhirnya diterima di Lely Collection (di Taman, Sidoarjo) ini,” lanjut alumnus SMPN 1 Dukun itu. (*)

Buka Jalan ke Sekolah Tinggi

ARIDA Ayu Puspaningwati tidak hanya mendapatkan penyadaran melalui kegiatan Ayo Inklusif!. Difabel dari Turen, Malang, itu kini melanjutkan pendidikan kejar paket B (setingkat SMP) di PKBM Tunas Harapan, Batu. Sebelumnya, dia hanya menyelesaikan studi sampai jenjang sekolah dasar di SD Taman Siswa Turen.

”Jadi, dulu itu saya trauma. Melihat kakak saya ditolak dengan alasan difabel,” terang Ayu kepada JPIP di tempat magangnya sebagai admin, yakni Astra Daihatsu Malang, Senin (19/11). Kakak keduanya, Prastyo Wira yudha, ditolak beberapa SMP karena juga mengalami disabilitas dwarf seperti Ayu. Yakni, pertumbuhan seluruh tubuh terhambat sehingga tinggi badan tidak melebihi 140-an sentimeter. Ayu memiliki tinggi 120 sentimeter di usianya yang kini 20 tahun.

”Namun, kakak-kakakku dirawat bibi sehingga mereka akhirnya mendapatkan sekolah di luar Kecamatan Turen,” lanjut sosok yang sehari-hari menjaga warung kopi milik keluarganya itu. Berbeda dengan kakaknya, Ayu masih mengalami trauma sehingga tidak melanjutkan sekolah. Ayu adalah anak terakhir di antara lima bersaudara. Dia dan tiga saudaranya mengalami disabilitas dwarf. Hanya kakak tertuanya yang lahir dengan kondisi nondifabel. Disabilitas diturunkan dari ibunya, Nur Chasanah. Sedangkan ayahnya, Arba’i Robert, yang bekerja sebagai terapis bekam, bukan difabel.

Selain sadar bahwa pendidikan penting bagi masa depan, Ayu berkesempatan melanjutkan sekolah. ”Jadi, waktu kegiatan hard skill, saya bertemu Pak Luthfi Ashari dari USAID. Dia menawarkan bantuan pembiayaan jika saya mau lanjut kejar paket. Sehingga saya kembali tergerak untuk bersekolah,” terang sosok yang piawai sebagai fasilitator pelatihan hidroponik itu.

Sebenarnya faktor biaya bukan penghalang utama bagi Ayu. Dia merasa bahwa keluarga mampu membiayai sekolahnya. Dia tergugah untuk melanjutkan pendidikan karena ternyata masih banyak orang yang peduli kepada kaum difabel seperti dirinya.

Ke depan, gadis yang juga memiliki suara merdu karena pernah belajar menjadi penyanyi itu ingin kuliah setinggi-tingginya. Dia ingin menekuni bidang manajemen bisnis dan menciptakan lapangan kerja sendiri. (*)

Serius Buat Detektor Epilepsi

MOHAMMAD Agus Rohmatulloh punya impian membantu pengidap epilepsi seperti dirinya. Pemuda dari Mojoagung, Jombang, itu merasa belum ada peralatan medis yang bisa digunakan pengidap epilepsi untuk mendeteksi kemunculan penyakit tersebut. Karena itu, difabel daksa dan wicara tersebut memilih studi di Jurusan Informatika Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang.

”Saya ingin mengembangkan sampai produknya. Namun, karena keterbatasan waktu dan peralatan, akhirnya masih sampai pada analisis dulu,” katanya saat ditemui di Grand City Mall dalam sebuah acara start-up Minggu lalu (18/11). Anak pasangan almarhum Abdul Rachmad dan Siti Djariyah itu baru menyelesaikan pendidikan S-1-nya Agustus lalu. Skripsinya berjudul Analisis Perbedaan Gelombang Elektromagnetik pada Orang dengan Epilepsi.

Keterlibatan Agus sebagai peserta proyek Ayo Inklusif! juga mendorongnya untuk makin bersemangat merealisasi karyanya itu. ”Saya merasakan adanya kepercayaan diri yang besar dalam perjalanan program ini. Selain kepercayaan diri, saling percaya dengan orang lain seperti keluarga dan teman juga (memberi semangat, Red),” lanjut dia dalam wawancara via tulisan tersebut.

Melalui Ayo Inklusif!, Agus mendapatkan tambahan keterampilan pemrograman saat pelatihan hard skill dari http://udemy.com. Dia juga mendapatkan penempatan magang yang sesuai dengan kompetensinya, yakni coding untuk membangun informasi perusahaan, di PT United Tractors Semen Gresik di Tuban.

Agus punya urutan logika dalam merancang detektor epilepsi. ”Otak manusia kan mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Saat seseorang terkena epilepsi, terjadi lonjakan yang tinggi. Itu yang menyebabkan gangguan di otak. Itu bisa diketahui dengan peralatan semacam penangkap gelombang otak,” ujar sosok 25 tahun tersebut.

Menurut dia, dengan sedikit modifikasi dan pembuatan program yang tepat, detektor portabel untuk epilepsi bisa diwujudkan. Anak terakhir di antara enam bersaudara itu mengalkulasi dana untuk pembuatan alat tersebut, yakni sekitar Rp 25 juta. Adapun waktu perakitan alat itu tiga bulan. Dia juga tengah mengumpulkan modal sembari berharap ada pihak yang mau mendanai penelitiannya itu. (jpipnetwork.id)

Arsip PDF :