Makin Cekatan Ikuti Irama Pekerjaan
5 mins read

Makin Cekatan Ikuti Irama Pekerjaan

Semangat Difabel Tunjukkan Kemampuan di Dunia Kerja Inklusif

Cekatan Unggah Penjualan

MOCHAMAD Aldianza tampak sangat menikmati pekerjaannya. Jemarinya lincah menari di atas papan ketik komputer. Kadang dia mencermati foto-foto mobil di layar komputer, lalu sepintas berganti melihat data-data di atas meja kerjanya. Aldi tengah magang sebagai uploader (pengunggah) untuk divisi penjualan online Mobil 88.

”Harus cermat. Karena kalau tidak konsentrasi, bisa jadi salah data. Kalau keliru membuat deskripsi, iklan saya bisa ditolak situs jual beli online,” terang difabel dari Ampel gading, Malang, itu kemarin (1/10). Setiap hari dia harus mengunggah 70 sampai 80 item mobil untuk dijual di tiga situs jual beli online.

Penghobi game Play Station itu mengapresiasi proyek Ayo Inklusif! yang memberinya akses ke dunia kerja. ”Sejak lulus SMA, saya hanya bantu-bantu di rumah. Tidak pernah pergi jauh dari rumah dan orang tua cenderung takut melepas saya sendirian. Tapi, karena ikut kegiatan ini, saya bisa belajar hidup mandiri dan mengakses dunia kerja,” katanya dengan yakin.

Aldi mengalami disabilitas daksa. Kakinya bengkok karena terkena penyakit polio. Saat ditemui di kantor magangnya, Mobil 88 di Jalan Mayjen Sungkono, fans berat klub bola Liverpool itu mengaku nyaman dengan pekerjaan yang dilakukannya tersebut. ”Karena saya memang senang dengan pekerjaan administrasi,” ujarnya sambil tangannya terus cekatan untuk mengunggah data. Pemagangannya juga sesuai dengan pendidikan yang dia tempuh di SMK PGRI Dampit, yakni jurusan administrasi perkantoran. (www.jpipnetwork.id)

Tergugah Mengadvokasi Difabel

KHUSNUL KHULUQ difabel daksa

KHUSNUL Khuluq sangat terinspirasi Ayo Inklusif!. Difabel dari Ujung pangkah, Gresik, itu ingin terlibat dalam kegiatan peningkatan kesadaran inklusi di masyarakat. ”Setelah mengikuti keseluruhan kegiat an ini, saya terpikir untuk membuat komunitas difabel yang bertujuan mengadvokasi hal-hak kaum penyandang di sa bilitas,” ujar pemuda tunadaksa itu dengan bersemangat saat ditemui di tempat magangnya (26/9). Khuluq saat ini magang di Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) di daerah Kureksari, Waru, Sidoarjo.

Khuluq menjadi difabel daksa setelah mengalami kecelakaan pada 2004. Saat itu dia masih duduk di kelas X SMK Muhammadiyah 1 Bungah. Dalam perjalanan ke sekolah, dia terjatuh dari sepeda motor dan kaki kanannya terlindas bus. ”Kaki saya akhirnya harus diamputasi,” ujarnya seperti menerawang ke masa lalu.

Menurut dia, kesadaran disabilitas berarti tidak hanya memahami keadaan dan bersyukur atas apa yang terjadi pada diri sendiri. ”Namun, seorang difabel juga selayaknya bersatu sebagai sebuah komunitas. Itu keyakinan yang muncul dan saya dapatkan dari kegiatan Ayo Inklusif!,” ujar penggemar novel-novel Dee tersebut.

Kesadaran sosok 30 tahun itu dipengaruhi pengalamannya jatuh bangun dalam membangun kemandirian. Dia pernah bekerja sebagai tenaga administrasi dan guru pengganti di perguruan Muhammadiyah Ujungpangkah pada 2010–2015. Lalu, dia mencoba untuk berbisnis hidroponik jamur, tapi kesulitan pasokan bibit. Dia juga pernah buka warung bebek goreng, tapi hanya bertahan dua bulan. Internet marketing yang dia geluti juga ditinggalkan sementara.

Kini Khuluq mulai bangkit lagi. Dia magang sebagai online marketer, menjual berbagai produk UMKM binaan YDBA, terutama dari bengkel-bengkel pembuat spare part sepeda motor. ”Bukan hanya sebagai admin penjualan online milik YDBA. Saya justru diarahkan membangun toko online saya sendiri. Sehingga setelah magang, tetap saya kelola sendiri,” ujarnya. (www.jpipnetwork.id)

Cepat Kuasai Teknik Baru

INSANIAH HALIMAH difabel tuli

INSANIAH Halimah beruntung bisa mengikuti Ayo Inklusif!. Pelatihan hard skill kian membuka jalan bagi dia untuk merealisasi mimpi. Dia dibimbing Andy Prayitno, perupa Surabaya yang kerap melatih anak-anak difabel.
Dari Andy, Sasa – panggilan Insaniah Halimah –memperoleh pengetahuan akan teknik lukis yang lebih baik.

”Jadi, awalnya, Sasa cenderung melukis sketsa wajah. Hanya pakai pensil dan kertas biasa. Lalu, oleh Pak Andy, dia diarahkan dan dibimbing agar bisa pakai kuas di media kanvas. Ter nyata, hasilnya juga bagus,” ujar Sudjito, 54, ayah Sasa, kepada JPIP kemarin (1/10). Pengemudi angkutan online itu pun dengan tersenyum bangga menunjukkan contoh-contoh hasil lukisan Sasa dari smartphone-nya.

Keahlian Sasa juga diakui Deby Prima Devi, manajer operasional Galeri Orasis, tempat Sasa magang. ”Hanya 12 hari latihan, tapi bisa menyerap teknik-teknik melukis dengan baik. Dan hasilnya, lukisannya juga lebih bagus. Sasa punya potensi untuk menjadi pelukis,” terang Deby.

Sasa adalah difabel tuli. Ketuliannya diketahui kedua orang tuanya saat dia masih berusia 3,5 tahun. Kondisi tersebut tak menghambat gadis dari Gresik itu untuk menekuni dunia seni. ”Dulu, saat SD, pernah menang lomba menari pelajar difabel. Lalu, saat SMA, pernah juara I lomba melukis khusus difabel di Gresik,” tutur Sudjito.

Pelatihan dan permagangan dari Ayo Inklusif! membawa dampak positif. ”Senang banyak teman. Aku belajar, latihan melukis. Ingin jadi pelukis yang baik,” ujar perempuan berkacamata tersebut. Suasana gembira penting karena Sasa kalau depresi biasanya merasa sakit di leher. Dengan punya banyak teman, Sasa menjadi lebih nyaman dalam menjalani kesehariannya.

Ditanya soal impiannya di masa depan, difabel yang lulus dari SMALB Kemala Bhayangkari 2 Gresik tahun 2016 itu bertekad menekuni dunia lukis. (www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :