Rasakan Dunia Kerja Sesungguhnya
5 mins read

Rasakan Dunia Kerja Sesungguhnya

Kisah Tiga Difabel Mengasah Kemampuan di Perusahaan Inklusif

Magang menjadi momentum pembuktian bagi para difabel. Selain pendidikan formal yang mereka tempuh, kebolehannya sudah diasah dengan kursus soft skill dan hard skill. Berikut kisah tiga difabel yang disampaikan Ahmad Faizin Karimi dari Ayo Inklusif!.

Mampu Cepat Kuasai Mesin

ZUBAYRI berusaha membuktikan diri agar masyarakat di lingkungannya lebih terbuka dan menghargai kaum difabel. Kini peserta satu-satunya asal Pulau Garam itu tengah magang di UD KS Pro, produsen spare part atau aksesori sepeda motor binaan Astra Group.

’’Pokoknya setelah selesai saya harus kembali (ke kampung). Saya ingin membuktikan kepada mereka kalau pandangan mereka selama ini kepada saya itu salah,’’ ujar pemuda 26 tahun asal Sokobanah Laok, Sampang, tersebut saat ditemui di bengkelnya di daerah Kureksari, Waru, Sidoarjo (24/9).

Zubayri harus berjuang meyakinkan orang tuanya agar diperbolehkan ikut Ayo Inklusif!. ’’Hampir 15 hari saya meyakinkan orang tua agar boleh berangkat. Bahkan, orang tua baru mengizinkan pada malam sebelum saya berangkat. Itu saya sempat ingin nekat berangkat kalau orang tua tidak setuju. Alhamdulillah, akhirnya boleh,’’ ujarnya.

Keberatan orang tuanya bukannya tidak beralasan. Zubayri memang diminta ayahnya, Sura’i, agar tinggal di rumah saja menjadi difabel secara tiba-tiba. ’’Suatu saat saya bangun subuh dan seluruh tubuh saya panas (saat SMA). Kata dokter akibat saraf kejepit, rasanya sakit sekali. Dua tahun awal saya hanya bisa berbaring di ranjang tanpa bisa melakukan apa-apa,’’ kata lulusan SMP Syuhdul Ikhwan itu.

Zubayri kini menerima keadaannya sehingga lebih tegar setelah berinteraksi di Ayo Inklusif!. Dia lebih terbuka dan percaya diri. Hanya dalam waktu setengah bulan sejak pertama magang, Zubayri mampu mengoperasikan mesin di tempat magangnya, misalnya mesin pemotong logam (cutoff) atau sliding saw, gerinda, dan mesin plong (punch) logam.

’’Hampir semua mesin bisa ia kuasai. Bahkan, mesin yang membutuhkan kaki untuk mengoperasikan juga bisa ia jalankan. Dengan menggunakan tongkat atau ditekan pakai tangan. Tapi, prinsipnya ia bisa,’’ ujar Kasiadi, pemilik bengkel KS Pro. Kasiadi pun mengimbau pengusaha sejenis untuk tidak takut menerima pekerja difabel. ’’Mungkin hanya soal mobilitas yang harus disiapkan, seperti lebar jalan, agar bisa dilaluinya dengan kursi roda,’’ lanjutnya. (*)

Ingat Santri Tunanetranya

SITI Muniroh merasa sampai di titik berbeda karena ikut Ayo Inklusif!. Sosok 28 tahun asal Brondong, Lamongan, itu terbuka mata dan batinnya bahwa kaum difabel juga bisa berbuat banyak. Kini dia sedang membuktikan diri lewat ma gang sebagai admin di Auto 2000 Kertajaya, Surabaya.

’’Sebelumnya tidak banyak interaksi saya dengan difabel. Nah, saat bertemu dengan teman-teman sesama peserta program saya baru tahu kalau mereka punya kemampuan hebat yang harus saya tiru. Bahkan, kemampuan mereka melebihi teman-teman saya yang nondifabel,’’ katanya kepada JPIP (20/9).

Muniroh sangat bersyukur karena merasakan dunia kerja yang memerlukan keahliannya. ’’Alhamdulillah bertemu dengan Ayo Inklusif!, jadi bisa merasakan suasana kerja sesungguhnya,’’ kata lulusan SD Negeri Telogoretno, Podang, Lamongan, itu. Disabilitas dia dapatkan saat masih bayi berusia 1 tahun. Saat itu dia mengalami sakit panas, lalu dibawa orang tuanya berobat ke dokter. Tapi, kemudian diketahui dia terjangkit polio yang membuatnya kehilangan fungsi kaki.

Di kampungnya Muniroh menjadi ustadah ngaji diniyah Masjid Al-Hidayah, Tlogoretno, Brondong. Muridnya ter masuk difabel tunanetra bersaudara. Sang adik laki-laki masih kelas II SD, sedangkan sang kakak perempuan sudah kelas VI SD.

’’Mereka selalu cari saya. Orang tua mereka juga cari saya. Ini karena saya cukup dekat denganmereka dan me ngem bangkan metode tersendiri agar keduanya mudah menghafal Alquran,’’ ujarnya. (*)

Kian Semangat demi si Kecil

MOCHAMMAD Arief Kurniawan menapaki jalan hidup yang dia cintai: menekuni hidroponik. Mengikuti program Capacity Building for Person with Disabilities Ayo Inklusif!, Wawan –panggilannya–menemukan jalan fokus tanam-menanam itu. Kini Wawan sedang mengikuti pemagangan sebagai staf corporate social responsibility (CSR) United Tractors (UT).

Dia terlibat dalam salah satu program CSR dari industri alat-alat berat tersebut, yakni program ’’Kampung Berseri’’. Program tersebut mengedukasi warga di kampung binaan UT di RW 1 dan 4, Rungkut Menanggal, dalam bidang lingkungan seperti mem buat bank sampah, kompos komunal, dan pertamanan.

’’Saya senang berkebun. Merawat tanaman,’’ ujar alumnus SMALB Wiyata Bhakti Tuban itu dengan bahasa isyarat saat di temui di kantor UT di daerah Rungkut, Surabaya (24/9). Wawan adalah difabel tuli plus tunanetra low vision. Disabilitas itu dialami karena saat dalam kandungan ibu Wawan terjangkit virus lantaran tidak mengikuti imunisasi.

’’Saya belajar kerja, belajar hidroponik. Ingin jadi pengusaha hidroponik,’’ lanjut Wawan. Setelah mengikuti kursus hidroponik di BLKI Wonojati, sosok asal Tuban itu merasa pertanian perkotaan (urban farming) adalah pekerjaan yang bisa dilakukan. ’’Teman-teman Ayo Inklusif! beri saya pekerjaan ini. Hidroponik. Saya senang,’’ kata ayah berusia 31 tahun itu.

Semangat Wawan untuk mandiri dan berkembang muncul dari keinginan menyiapkan masa depan buah hatinya. Istrinya, Wulan, juga seorang difabel tuli, sedangkan anaknya, Putri, yang masih berusia 4 bulan terlahir non difabel. Karena merupakan pasangan difabel tuli, Wawan tidak bisa membawa serta keluarganya di Tuban ke Surabaya. Sebab, pasangan difabel tuli yang punya anak harus didampingi non difabel untuk merawat anaknya. ’’Ingin Putri nanti bisa kuliah. (Juga) masuk pondok (pesantren), belajar agama,’’ ujarnya. (*)

Arsip PDF :