Buka Harapan, Pacu Spirit Berubah
Semangat Membangun Diri Difabel dalam Magang Kerja Inklusif
Mengikuti pemagangan, para difabel ini menemukan harapan mengejar impian. Ada yang harus menunda ikut Asian Para Games 2018. Berikut penuturan mereka kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.
Makin Paham Makna Disiplin
DAFFA Kelana Prakhas Melayu mengalami perubahan karakter positif berkat Ayo Inklusif!. Jika sebelumnya remaja 19 tahun itu merasa kekanakkanakan, sekarang dia menjadi lebih bertanggung jawab pada dirinya. Maklum, Daffa adalah peserta termuda di antara kader progresif (pro-generasi kerja inklusif ) Ayo Inklusif!.
”Perubahannya banyak saya rasakan. Terutama soal kedisiplinan, ya. Jika sebelumnya bangun selalu siang, sekarang bangun lebih pagi karena dia harus magang kerja. Ya, seperti sudah mengerti kalau waktunya kerja…” terang Lilik Farida, 50, ibu Daffa.
Pendewasaan remaja penyuka kuliner lele penyet itu tidak terlepas dari didikan tegas Dian Ummu Abdullah, pemilik Fast Bengkel tempat Daffa magang. ”Memang kalau dari segi kemampuan, masih perlu ditingkatkan. Tapi, kami menempatkan Daffa dan memosisikannya sebagai asisten teknisi dulu. Dan soal attitude (sikap, Red), si Daffa juga kami benahi,” ujar perempuan bercadar itu.
Daffa adalah seorang difabel wicara. Kalau bicara, suaranya tidak jelas terdengar. Pada saat kelas XI SMA, Daffa tidak mau melanjutkan sekolah gara-gara bergaul dengan teman-temannya yang tidak baik. Dia juga menjadi sulit di atur. Karena itulah, bagi Farida, perubahan sikap Daffa sangat membahagiakan.
”Di tempat kerjanya, dia diwajibkan makan pakai tangan kanan. Jadinya, dia juga membiasakan diri. Sebelumnya, dia pakai tangan kiri karena kidal. Yang menyuruh atasannya. Jadi, walau susah, dia berusaha,” lanjut Farida, yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online. ”Dia jadi lebih banyak di rumah dari pada keluyuran dengan temannya yang tidak jelas,” lanjutnya.
Ditanya apakah nyaman dengan pekerjaan di bengkel, remaja penghobi futsal dan basket itu merasa gembira dengan aktivitas barunya. ”Senang di bengkel. Kalau diajari, saya mau terus (kerja di bengkel, Red). Nggak berat karena pakai alat semua,” katanya dengan pengucapan terpatah-patah saat di temui di bengkelnya di daerah Jemur sari (26/9).
Daffa menyiapkan diri untuk menjadi lebih dewasa, disiplin, dan bertanggung jawab. Mungkin menjadi asisten teknisi terkesan remeh. Namun, bagi Daffa dan ibunya, perubahan itu membawa harapan baru. ”Setelah Ayo Inklusif!, Daffa akan saya sekolahkan lagi,” kata Farida. (*)
Semangat dari Keluarga
MOHAMAD Reza Pahlevi tanpa kesulitan mengentri data-data penelitian ke dalam lembar kerja komputer di depannya. Sarjana pendidikan bahasa Inggris dari Universitas Brawijaya Malang itu tengah merangkum data penelitian. Pemuda yang lulus pendidikan S-1 pada 2017 itu magang sebagai asisten editor di jurnal ilmiah Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik (MKP) FISIP Unair. Selain me-review artikel jurnal, dia membantu para dosen membuat laporan penelitian.
Reza adalah difabel daksa. Tubuh bagian bawah mulai pinggang hingga kakinya tidak berfungsi karena kerusakan saraf akibat kecelakaan saat masih SMA. Mengakibatkan sosok 27 tahun dari Ngadiluwih, Kediri, itu tidak bisa menggerakkan kedua kaki.
”Dua tahun pertama terasa berat. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Baru di tahun 2011 itu saya bisa duduk dan pakai kursi roda. Alhamdulillah, kini bisa berjalan dengan bantuan walker (alat bantu jalan dengan empat kaki sebagai tumpuan, Red),” terang Reza kepada JPIP di gedung FISIP Unair (3/10).
Namun, semangat Reza untuk mandiri cukup tinggi. Dia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan sekolah. ”Saya belajar dari rumah. Akhirnya lulus meski sangat berat,” ujar Reza.
Reza terus berusaha mandiri. ”Saya sempat buka warung kopi di desa. Namun, kurang berkembang,” ujarnya.
Semangat Reza didorong kondisi keluarganya. Ayahnya, Muhammad Taufiq, pensiun dari PT Rukindo pada 2015. Sebagai anak pertama di antara lima bersaudara, Reza ingin mandiri, bahkan membantu keuangan keluarga. (*)
Selaraskan Hobi dan Cita-Cita
IKA Aprilia Dewi hanya bisa menyaksikan perhelatan Asian Para Games 2018 dari layar televisi. Atlet renang difabel itu tidak bisa bergabung dengan teman-temannya untuk bertanding. Sebab, saat pemusatan latihan, Ika sedang menjalani penyembuhan setelah operasi lutut di RS Al Hu da, Banyuwangi.
”Kemarin itu operasi lutut agar bisa menekuk. Untuk lutut kaki kiri, operasinya berhasil. Namun, yang kanan masih belum bisa. Jadi, setelah Ayo Inklusif! akan coba operasi lagi,” katanya ke pada JPIP (1/10).
Namun, ketidakikutsertaan dalam Asian Para Games tidak membuat gadis 22 tahun itu terlalu bersedih. Sebab, dia malah bisa mengikuti program-program Ayo Inklusif! yang membuka jalan baginya untuk mewujudkan cita-cita. ”Renang itu hobi saya. Tapi, cita-cita saya menjadi seorang penyiar radio,” ujar kader progresif yang masih duduk di kelas X SMALB Adelwis, Banyuwangi, itu.
Berkat Ayo Inklusif!, dia bisa magang di Jeje Radio. Dia juga telah merasakan menjadi narasumber talk show di radio Suara Surabaya.
Atlet dari Sukomaju, Srono, Banyuwangi, tersebut telah mengukir banyak prestasi. Dia meraih medali emas Kejurnas National Para lympic Committee (NPC) 2015 di Solo, peringkat V ASEAN Para Games di Singapura, medali emas Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) di Jawa Barat pada 2016, dan peringkat IV ASEAN Para Games Kuala Lumpur pada 2017.
”Saya sedih, sih. Tapi, juga ikut senang melihat teman-teman atlet mendapat medali untuk Indonesia. Karena kita itu satu tim, Indonesia,” lanjut putri Nursaleh dan Halimah tersebut.
Ika membawa semangat Asian Para Games kepada kader Ayo Inklusif!. ”Mereka bisa terinspirasi, muncul keingintahuan, dan bisa jadi ada keinginan (untuk mencoba jadi atlet, Red),” kata Ika. (www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
