Anak Difabel Dijemput agar Semangat Bersekolah
Inovasi Banyuwangi Peraih Emas Good Practices Otonomi Awards 2018
Kegembiraan menjadi kunci sukses penerapan inovasi Agage Pinter. Anak-anak difabel dibaurkan dalam sekolah inklusi. Sementara itu, kaum rentan non-anak-anak direngkuh dengan kartu Gandrung. Berikut laporan Dani Nurkholis, peneliti JPIP.
BANYUWANGI merasa anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) tak hanya tidak boleh tertinggal. Tapi harus bergegas dipintarkan. Maka, dalam bidang pendidikan, Pemkab Banyuwangi merilis program Agage Pintar. Agage berasal dari bahasa suku Osing (etnik Banyuwangi) yang berarti ’’segera’’. Jadi, Agage Pintar berarti sebuah program untuk mem percepat pembangunan sumber daya manusia, utamanya kaum difabel.
Revolusi kecil terjadi sejak Agage Pintar diluncurkan Bupati Abdullah Azwar Anas pada 2014 saat mendeklarasikan Banyuwangi sebagai kabupaten inklusif. Capaian tinggi program Agage Pintar ini diganjar penghargaan dengan piala emas kategori utama daerah dengan terobosan inovatif untuk orang dengan disabilitas (region in an innovative breakthrough for people with disabilities) dalam Otonomi Awards 2018. Awarding itu dilaksanakan berbarengan dengan anugerah Top 25 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Jatim.
Dalam program ini, poin utama yang ditetapkan adalah kewajiban sekolah mulai jenjang pendidikan usia dini sampai tingkat SMP untuk menerima peserta didik ABK yang tinggal sekitar sekolahnya. Itu terobosan penting karena biasanya ABK bersekolah di SLB yang jauh dari rumahnya. SLB tak sebanyak sekolah umum. Pemkab Banyuwangi juga menerbitkan Perda Nomor 6 Tahun 2017 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
Melayani penyandang disabilitas itu bagian dari inovasi prioritas. ’’Program inovasi wajib ditetapkan dalam dua bidang, yakni pendidikan dan kesehatan. Sedangkan bidang pertanian, pariwisata, dan pengembangan UMKM masuk dalam tiga program unggulan,’’ terang Ustadi, asisten I Pemkab Banyuwangi, saat menjelaskan inovasinya dalam Innovation Summit di Hotel Shangri-La Surabaya kemarin (22/10). Dua inovasi tersebut sangat terkait erat dengan isu inklusi dan disabilitas.
Keseriusan Pemkab Banyuwangi juga terlihat dari peningkatan anggaran tiap tahun. ’’Tahun 2018 ini anggaran yang disediakan untuk program inklusif sebesar Rp 1,365 miliar, meningkat drastis dari tahun 2014 (awal launching program) yang hanya sekitar Rp 60 juta,’’ lanjut Ustadi. Anggaran yang besar tersebut mencakup penyelenggaraan festival ABK dan pengadaan guru pendamping khusus (GPK) untuk tiap sekolah yang memiliki siswa difabel.
Perda disabilitas itu juga memberikan kaum difabel aksesibilitas dalam hal informasi publik. Pasal 119c perda mengatur bahwa kaum difabel pun dilindungi hak berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasinya. Termasuk menggunakan dan memperoleh fasilitas informasi dan komunikasi berupa bahasa isyarat, braille, dan komunikasi augmentatif dalam interaksi resmi.
Pemkab Banyuwangi mendistribusikan regulasi dalam format huruf braille. Sayang, perda braille (juga perda berbahasa Inggris) tak bisa dibuka ketika dicek ke situs http://jdih.banyuwa ngikab.go.id/perda_braille. Menurut catatan JPIP, sebenarnya ak es untuk tunanetra bisa dipermudah dengan aplikasi text reader, tak perlu mencetak dalam huruf braille yang relatif mahal.
Untuk mengajak sekolah, pemkab menerjunkan GPK untuk jemput bola. Mereka mencari anak-anak difabel untuk diterima di sekolah sekitar dan mendampinginya dalam proses pendidikan. ’’Dengan adanya tenaga organik semacam ini, kinerja Agage Pintar mengalami peningkatan drastis. Jika di awal launching jumlah sekolah yang terlibat hanya 30 lembaga, kini sudah 217 yang tercatat menjadi sekolah inklusif,’’ terang Ustadi.
Jumlah siswa difabel yang tercatat mendapat manfaat dari Agage Pintar mencapai 1.065 siswa pada akhir tahun pelajaran 2017. Jumlah tersebut berasal dari semua jenjang, mulai usia dini hingga SMP. Ada peningkatan dari 42 persen ke 80 persen ABK bersekolah. GPK yang menjadi konselor melejit dari 60 ke 275 orang.
’’Kuncinya adalah kesenangan dan kegembiraan,’’ kata Ustadi. Ini diterjemahkan dalam inisiasi beragam event apresiasi kelompok difabel. Di antaranya, menyelenggarakan Festival ABK 2017–2018, talk show disabilitas, Festival Lomba Seni Siswa Nasional khusus pendidikan inklusif, serta Pekan Olahraga Pendidikan Inklusif. Festival seperti itu menjadi semacam apresiasi untuk mendorong tumbuhnya kesadaran disabilitas (disability awareness).
Ketika JPIP mengecek ke beberapa sekolah, pemandangan inklusif ini cukup terasa. Alivi Camelia Maulida kelas IV SDN 3 Karangrejo misalnya. Ketika peneliti JPIP menanyai, anak cantik itu memperhatikan gerak bibir (seperti saat gurunya menerangkan). Difabel tuli ringan itu menjawab dengan suara. ’’Guru saya baik, teman-teman juga baik,’’ katanya. Ketika bermain pun Alivi bisa mengikuti dengan sewajarnya, misalnya dakon.
Kepala SDN 3 Yayuk Prayuwati mengakui ada pertanyaan polos dari anak-anak, mengapa ada anak yang berbeda. Para guru memberikan penjelasan dengan telaten bahwa setiap anak punya kelebihan. Lama-lama terbiasa. ’’Di sini sudah nggak ada bully,’’ katanya senang.

Di SMP Negeri 3 Banyuwangi, peneliti JPIP disambut ABK kelas VIII. Denis yang hiperaktif lebih pintar berbahasa Inggris. Aditya Rifki, difabel slow learner, mempunyai bakat menonjol di bidang drama. Aktingnya meyakinkan. Fitriano juara menyanyi level kabupaten, bahkan piawai menyanyikan lagu-lagu khas Banyuwangi.
Djoko Purnomo, kepala sekolah, mengakui ada tantangan untuk mendidik ABK seperti menyesuaikan dengan kemampuan dan bakat anak. Pembinaan difokuskan bukan semata kepada ni lai akademik, tapi juga bakat-bakat khusus. ’’Guru harus siap menangani tantangan itu,’’ katanya.
Terkait dengan layanan kesehatan untuk difabel, Pemkab Banyuwangi merilis kartu Gandrung yang merupakan akronim dari Gerakan Asuhan Nyata pada Disabilitas, Risiko Tinggi, Usia Lanjut, Veteran Pensiun, dan Gravida (wanita hamil). Kartu ini memberikan prioritas kepada kelompok rentan tersebut dalam mendapatkan layanan kesehatan. Jadi, untuk mereka diterapkan ’’diskriminasi positif’’ yang membahagiakan. (www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
