Ajak Kelompok Kritik Meng-”Gertak” Kaum Duafa
5 mins read

Ajak Kelompok Kritik Meng-”Gertak” Kaum Duafa

Inovasi Kabupaten Trenggalek yang Meraih Emas Otonomi Awards

Mencetuskan ide inovasi, mungkin banyak orang bisa. Namun, memastikannya berjalan baik tidak semudah membalikkan daun. Dibutuhkan identifikasi masalah serta solusi yang kolaboratif dan inklusif, juga ”sedekah informasi”. Berikut catatan M. Aqib Ma’rufin dari JPIP.

RAJIN-RAJINLAH menengok ke bawah untuk mengetahui persoalan kelompok rentan di lapisan dasar piramida sosial. Mereka harus diajak bicara. Dengan begitu, bisa diidentifikasi cara mengentas mereka. Dari proses bersabar mendengarkan mereka itu, Pemkab Trenggalek menggulirkan inovasi yang cespleng. Persoalan orang miskin diselesaikan dengan mem bangkitkan harapan dan mendampingi mereka serta melibatkan mereka dan tetangganya.

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak mafhum bahwa faktor penyebab kemiskinan memang kompleks. Mulai rendahnya kompetensi hingga tidak meratanya akses terhadap peluang bisnis. Namun, hambatan terbesarnya justru terdapat pada mentalitas masyarakat itu sendiri, yakni menyerap kultur kemiskinan turun-temurun.

”Paradigma sebagai orang miskin harus diselesaikan terlebih dahulu jika ingin memberantas kemiskinan,” tegas Emil saat memaparkan inovasinya yang bertema Solusi Inklusif untuk Pelayanan Publik di Hotel Shangri-La Surabaya, Senin (22/10). Seminar itu digelar pagi sebelum malamnya Emil menerima piala emas Otonomi Awards yang diserahkan oleh Mendagri Tjahjo Kumolo. Trenggalek meraih predikat sebagai daerah dengan profil menonjol bidang pembangunan inklusif dalam Good Practices Awards yang berkolaborasi dengan penyerahan penghargaan Top 25 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Pemprov Jatim.

Gertak (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan) memang tidak gegap gempita menurunkan angka kemiskinan. Namun, capaiannya jelas. Daerah dengan penduduk 761.730 jiwa menurut survei BPS tahun 2017 tersebut lumayan mampu mengurangi tingkat kemiskinan. Penduduk miskin di Kabupaten Trenggalek pada 2015 sebanyak 92.170 jiwa (13,39 persen). Angka tersebut turun menjadi 91.490 jiwa (13,24 persen) pada 2016, lalu turun lagi pada 2017 sehingga menjadi 89.770 jiwa (12,96 persen). Meskipun juga harus diakui, angka tersebut masih berada di atas rata-rata angka kemiskinan Provinsi Jawa Timur yang sebesar 11,7 persen dan nasional sebesar 10,12 persen. Namun, tren penurunan kemiskinan itu membesarkan hati.

Gertak diawali dengan melakukan perbaikan basis data kemiskinan. Sudah menjadi permasalahan klasik data kemiskinan antarinstansi berbeda. Selain karena metode yang di gunakan berbeda, terdapat rentang yang cukup lama, yakni tiga tahun, dari data naik sampai turun kembali. ”Dalam rentang waktu tersebut, tentunya terdapat perubahan-perubahan status ekonomi masyarakat. Ada yang naik status ekonominya, ada pula yang turun. Karena itu, Pemkab Trenggalek melakukan perbaikan data melalui golden standard classification,” lanjut pa sangan Khofifah Indar Parawansa dalam Pilgub Jatim 2018 ter sebut.

Pendekatan itu berupaya mengidentifikasi orang-orang rentan yang betul-betul bisa dientas dan yang tidak. Dengan demikian, gerakan tak salah sasaran. Kelompok yang tak bisa dientas, misalnya, lansia sebatang kara yang sepuh. Mereka perlu penyantunan saja. ”Mereka se harusnya dikeluarkan dari kelompok miskin karena sudah tak bisa dientas,” papar Emil.

Upaya mempertajam data dilakukan melalui musyawarah desa dan/atau kelurahan. Musyawarah itu melibatkan perangkat desa, RT, dan RW dengan di dampingi tim Gertak Kabupaten Trenggalek. Diharapkan, dengan musyawarah tersebut, program yang diberikan tepat sasaran. Sebab, merekalah yang tahu siapa tetangga yang benar-benar pantas menerima manfaat. Untuk melancarkan gerakan itu, Wakil Bupati Muhammad Nur Arifin sampai menginap di rumah warga miskin agar bisa lebih mendalami persoalan mereka. Bupati juga kerap turun langsung untuk melihat rumah-rumah warga yang masuk daftar bedah.

SINERGIS: Emil Elestianto Dardak (kanan) saat menerima trofi emas Otonomi Awards 2018 di Hotel Shangri-La.

Pendekatan teknologi lebih memudahkan ikhtiar itu. Emil menamakannya ”sedekah informasi” melalui Gertak Online dan Gertak Apps yang bisa dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Mekanisme tersebut dilaksanakan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Pelapor dapat mengunggah foto rumah atau foto seseorang yang kiranya memang pantas untuk menerima manfaat program.

Setelah ada laporan tersebut, tim Gertak akan melakukan verifikasi ke lapangan. Yang melakukan verifikasi itu disebut Tim Task Force Posko Gertak atau Pasukan Pink. ”Kenapa pink? Agar yang didatangi senang dan tidak kaget. Beda dengan war na hitam, misalnya,” kata wakil gubernur in waiting itu, setengah bercanda.

Pasukan tersebut pada awalnya merupakan puluhan anggota grup Facebook Info Seputar Trenggalek yang kemudian dilanjutkan dengan membentuk paguyuban Ikatan Sedulur Trenggalek (IST). Pada awalnya, komunitas itu menjadi pengkritik kinerja pemerintah daerah. Berbagai keluhan terpampang di sana. Pokoknya, cerewet lah. Bukan menjauhi atau membungkam, Pemkab Trenggalek kemudian merangkul mereka dalam implementasi meng-Gertak agar kaum duafa bisa dientas.

Pasukan Pink juga bertugas membantu mengusulkan, mengurus surat-surat yang dibutuhkan seperti surat keterangan tidak mampu (SKTM), surat ke dinas sosial, Baznas Trenggalek, dan surat-surat lain serta melakukan verifikasi lapangan mengenai informasi yang dilaporkan, salah satunya melalui Gertak Online dan Gertak Apps.

Inovasi itu menampilkan sisi inklusif di garis depan. Yakni, melibatkan Suyanto dan Slamet yang tunadaksa bawah menjadi pengurus administrasi di pusat lalu lintas informasi tersebut di Posko Gertak. ”Ternyata, keduanya mampu bekerja dengan baik,” kata suami Arumi Bachsin itu.

Untuk memperlancar pelaksanaan Gertak, tak menunggu APBD, pemkab menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat. Melalui kolaborasi tersebut, pemkab mengarahkan aparatur sipil negara di lingkungannya untuk menyalurkan zakat dan sedekahnya ke Baznas. Uang itu dikelola untuk membantu percepatan penanganan ma syarakat miskin. Ada beberapa program yang ditangani Baznas dalam hal pembiayaan. Yaitu, bedah rumah, pembiayaan BPJS mandiri, dan bantuan pendidikan.

Selain perbaikan data, pembentukan Pasukan Pink, dan kerja sama dengan Baznas, terdapat program-program di bawah naungan Gertak yang lebih bersifat pemberdayaan ekonomi. Antara lain, anti-poverty program (APP). Itu merupakan program lama, tapi kembali dioptimalkan. (www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :