Puskesmas tanpa Kertas, Bangkitkan ”Susi”
Kabupaten Lumajang, Peraih Otonomi Awards 2014 Kategori Keberlanjutan Inovasi Pelayanan Publik
Banyak kisah unik dalam keberlanjutan inovasi pemenang Otonomi Award (OA) yang diperkukuh oleh Kabupaten Lumajang. Ada lelaki yang dominan memimpin posyandu, juga puskesmas tanpa kertas. Berikut intisari riset oleh Redhi Setiadi dari JPIP.
RENTANG 2004–2013, Kabupaten Lumajang berhasil meraih tiga kali OA dari JPIP (the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi) untuk kategori pelayanan publik. Diawali pada 2007, di zaman Bupati Achmad Fauzi, dengan inovasi Kantor
Pelayanan Terpadu (KPT). Berikutnya, pada 2008 melalui program inovatif Gerakan Bangga Membangun Masyarakat (Gerbangmas).
Tiga tahun kemudian, pada masa pemerintahan Bupati Sjahrazad Masdar, kabupaten di kaki Gunung Semeru itu kembali memboyong OA untuk bidang kesehatan. Terobosan yang diapresiasi saat itu adalah Puskesmas tanpa Kertas.
Hasil riset JPIP 2014 menunjukkan bahwa tiga inovasi tersebut ternyata terus dikembangkan hingga saat ini. Karena itu, JPIP menganugerahkan OA 2014 kategori keberlanjutan inovasi.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Penghargaan itu tidak menjadikan berpuas diri. Justru mendorong KPT terus berbenah dan meningkatkan pelayanannya. Jika pada 2007 jumlah izin yang dilayani hanya 22 jenis, kini berkembang menjadi 35 perizinan.
Penambahan kewenangan perizinan tersebut juga dibarengi dengan pembenahan sistem pengarsipan pada 2007–2009 dan 2010–2011. Kini, aplikasi terus dikem bangkan ke arah yang lebih terintegrasi. Proses input data terkait perizinan dapat lebih mudah dikerjakan guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu pemrosesan izin.
Selain itu, kepuasan masyarakat atas pelayanan dijaga. Untuk setiap pengurusan perizinan, selalu disertakan kuesioner indeks kepuasan masyarakat (IKM). Hasilnya, pada tiga kuartal 2013, terjadi peningkatan. Dari kuartal I ke kuartal II, terjadi peningkatan 22,05 persen. Lalu, dari kuartal II ke kuartal III, tercatat peningkatan sebesar 20,55 persen. Belum optimal, memang. Tapi, trennya positif.
Pada aspek cakupan perizinan, sampai 2014 ini, bertambah 13 perizinan pada sektor pariwisata (2013), izin klinik dan kesehatan (2012), serta izin pertambangan (2011).
Sementara itu, dari aspek kualitas, dengan semakin terinte grasinya sistem pengarsipan, proses perizinan lebih cepat. Ditambah pelayanan perizinan KPT Lumajang telah diakui paling murah dan efisien bila dibandingkan dengan perizinan di kabupaten/kota lain di daerah tapal kuda. Kini status lembaga perizinan tersebut sudah ditingkatkan dari kantor pelayanan terpadu menjadi badan pelayanan terpadu.
Ada ”Susi” Gerbangmas
Tak kalah menariknya Gerakan Bangga Membangun Masyarakat (Gerbangmas). Fokusnya, revitalisasi posyandu (pos pelayanan terpadu). Posyandu di Lumajang berbeda dengan posyandu pada umumnya. Yang paling terlihat, sebagian besar ketua posyandu di Lumajang adalah kaum pria! Jika di daerah lain posyandu hanya mengurusi masalah kesehatan balita, di Lumajang ada enam hal yang menjadi tugas pokok dan fungsi posyandu. Yakni, pelayanan kesehatan balitadan ibu, ketahanan keluarga, pen didikan luar sekolah, bina mental spiritual, pola hidup bersih dan sehat, serta bidang ekonomi. Posyandu mendorong partisipasi warga dalam enam ranah tersebut.
Pada 2005, awalnya hanya ada 34 po syandu, kemudian berkembang menjadi 500 unit pada 2006 dan 750 unit pada 2007. Saat ini jumlahnya meroket menjadi lebih dari 1.300 posyandu.
Sejak meraih OA 2008, Gerbangmas ternyata berkembang lebih lanjut. Contohnya, di Kecamatan Guci Alit yang mampu mengembangkan Gerbangmas, lahir program yang dinamakan Susi (Suami Siaga). Hal-hal yang berkaitan dengan persiapan kelahiran hingga implementasi desa ODF (open defecation free) telah mampu terintegrasi dalam satu program yang terarah dan terukur.
Saat ini Gerbangmas terharmonisasi dengan program pusat (Desa Siaga) dan program provinsi (Taman Posyandu). Pergantian Bupati dari Achmad Fauzi ke Sjahrazad Masdar pada 2009 dan semakin dekatnya millennium development goals (MDGs) juga turut memperkuat inovasi. Terwujudlah modifikasi menjadi Gerbangmas Siaga. Penambahan nama ”Siaga” ini menitikberatkan pada kesiapsiagaan semua elemen masyarakat dan SKPD dalam mewujudkan masyarakat sejahtera dan mandiri.
Sejak mengalami penambahan kata Siaga, cakupan program lebih dikerucutkan pada Dasawisma (10 rumah) saja. Dengan demikian, Gerbangmas Siaga dapat terimple mentasi dengan lebih terpantau dan terarah. Pengerucutan ini semakin gairahkan gerakan yang lebih mengakar di masyarakat Lumajang.
Sakit ”Nyaman” di Puskesmas
Sejak 2009, Puskesmas Pasirian mengembangkan sistem pelayanan administrasi online untuk melayani pasien. Pasien yang sakit pun bisa lebih nyaman karena cepat terlayani dengan data sejarah medis yang akurat.
Sistem informasi tersebut berisi database 88.813 pasien (dengan nama dan alamat), laporan data kesakitan (LB1) yang bisa otomatis tersusun setiap akhir bulan pada tanggal yang ditentukan. Sistem informasi itu berisi data pemakaian obat, data hasil pemeriksaan laboratorium, data penyakit karena kerja, dan klinik sanitasi.
Sistem yang baru ini telah mampu mengintegrasikan data-data medis pasien dan perujukan ke dokter spesialis. Selain itu, sistem monitoring kesehatan telah berkembang dengan pengintegrasian program pada klinik rumah sehat. Sebagai catatan kritis, ini, tam pak nya, masih memerlukan penam bahan jumlah personel tenaga kesehatan. (www.jpipnetwork.id)
Sinambung sejak Warga Ditanyai
SEBENARNYA JPIP sudah mem punyai para pemenang Otonomi Awards (OA) sejak 2002, kali pertama acara tahunan itu digelar. Mengapa OA kategori kesinambungan inovasi baru diukur pada 2004 hingga 2013? Bukan sejak 2002? Itu sebenarnya terkait dengan kematangan parameter dan metode penilaian yang digunakan JPIP.
Metodologi penelitian OA kali pertama diperkenalkan kepada publik pada 23 Agustus 2001. Seperangkat alat penilaian lengkap dengan penjelasannya tersebut dimuat harian Jawa Pos hari itu dalam empat halaman penuh. Intinya menekankan keberadaan data existing dan penelitian kepada para inisiator inovasi, yakni kepala daerah serta pimpinan dinas.
OA 2002 sebagai produk dari metodologi 2001 itu memberikan banyak pelajaran kepada JPIP. Diperlukan penyempurnaan untuk mengukur kinerja pemerintah kabupaten/kota secara lebih objektif, namun juga efektif dan efisien. Penyusunan metode yang lebih sahih pun dilakukan. Itulah fase inisiasi (pematangan) bagi JPIP, yakni 2002 dan 2003.
Fase berikutnya kami sebut stabilisasi. Pada tahap tersebut, keandalan desain riset beserta instrumen-instrumennya kian teruji. Pemerintah kabupaten/kota yang menjadi fokus penilaian juga relatif sudah memahami secara lebih baik metode penilaian itu.
Pada tahun ketiga tersebut, semangat kompetisi antardaerah pada berbagai parameter sudah bisa dirasakan. Itu klop dengan misi kami, ”tiada kemajuan tanpa kompetisi”. Pada fase itulah, misi utama JPIP untuk mengarahkan kemajuan (driving the progress) di daerah menemukan titik optimumnya. Metode dan kategori Otonomi Awards yang digunakan sejak 2003 tersebut pada perkembangannya tidak mengalami banyak perubahan hingga 2013.
Sejak diberikan kali pertama pada 2002 hingga 2013, terdapat perubahan untuk penyesuaian. Misalnya, menetapkan standar tiga metode sejak 2004 dan meniadakan kategori pelembagaan politik pada 2009 karena minimnya inovasi yang ditemukan.
Untuk keperluan riset itu, JPIP memutuskan hanya menggunakan data-data pada fase stabilisasi atau 2004–2013. Alasannya, pertama, pada fase tersebut inovasi-inovasi yang dibuat pemerintah daerah relatif bisa diperbandingkan secara fair satu dengan lainnya. Hal itu bisa dilakukan karena pada 2004 untuk kali pertama JPIP menggunakan metode gabungan dari riset kualitatif dan kuantitatif.
Kedua, survei publik merupakan salah satu ”nyawa” JPIP dalam menilai kinerja pemerintah daerah. Inovasi bernilai kecil kalau tak disambut oleh masyarakat yang menggunakan layanan. Survei itu mewancarai langsung para pengguna layanan untuk memverifikasi pengenalan dan kemanfaatan program. Apa gunanya inovasi kalau tak dirasakan publik? Sejak 2004, JPIP menggandeng Unit Penelitian dan Pengembangan Potensi Daerah (UP3D) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Tahun ini, setelah OA berlangsung 13 kali, kita melihat, ternyata inovasi-inovasi yang memenangi OA sejak 2004, ketika metodologi JPIP sudah menemukan jati diri, kebanyakan masih dipertahankan, bahkan diperkuat. Kesinambungan pun terjadi. Masyarakat pun mengakui. Itu membesarkan hati. (redhi setiadi/www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
