Sebar Pesan Mesra hingga Crit Crut
6 mins read

Sebar Pesan Mesra hingga Crit Crut

Kabupaten Trenggalek, Peraih Otonomi Awards Kategori Inovasi Kesehatan Promotif dan Preventif

Jurus promosi kesehatan puskesmas ini sungguh unik, melalui jalur seni panggung oleh tenaga kesehatan juga. Gusi Remek jadi andalan. Berikut tulisan peneliti JPIP Sumarlin.

BADE tindak pundi Bu (Mau ke mana, Bu)?” ”Bade teng dukun (Mau pergi ke dukun)” ”Oh, mboten usah teng dukun. Kan sampun wonten jampersal (Oh, tidak usah ke dukun. Kan sudah ada jampersal).”

Begitulah dialog sederhana di pentas yang di bangun Gusi Remek untuk mengajak kaum ibu agar tidak lagi bersalin ke dukun bayi. Ada jampersal (jaminan persalinan) yang bisa dimanfaatkan.

Gusi Remek adalah kependekan ’’maksa’’ dari Grup Kesenian Promosi Kesehatan. Grup tersebut piawai mementaskan tari, lawak, dan sandiwara ala Opera van Java. Grup yang di bentuk pada 2011 tersebut beranggota belasan orang dari seluruh pimpinan dan staf Puskesmas Karangan ditambah kader ke sehatan di wilayah itu.

Sedikitnya, mereka ’’pentas’’ seminggu sekali ke pasar, alun-alun, atau ruang publik lainnya guna mengampanyekan pentingnya hidup sehat. Tugas utama mereka adalah menyebarkan Pesan Mesra (Penyuluhan Kesehatan Melalui Seni Rakyat) yang berisi empat kegiatan. Pertama, Mentis (Ngamen Gratis), yakni penyuluhan dan pengobatan keliling (pusling) ke desa-desa. ’’Kami yang ngalahi jemput bola,’’ terang Kepala Puskesmas Karangan dr Tita Riskana.

Kedua, Kacer (Kamis Wage Ceria), yaitu penyuluhan dan konsultasi kesehatan di Pasar Karangan yang buka tiap Kamis Wage. Ketiga, Jasat Aman (Jumat Sehat Ceria Manfaat) yang berupa senam bersama untuk umum dan lansia. Keempat, Gemas (Gerakan Masyarakat).

Untuk kegiatan kesenian, dokter Tita menggubah syair lagu bertema kesehatan, mendompleng lagu hit. ’’Kalau ditotal, kira-kira ada 20 lagu yang saya ciptakan. Yang terakhir lagu Sakitnya Tuh di Sini. Syairnya saya pelesetkan untuk mempromosikan progam JKN (Jaminan Kesehatan Nasional),’’ ungkapnya.

Efektifkah? Dia mencontohkan, Karangan sejak dulu dikenal sebagai daerah endemis DBD (demam berdarah dengue) yang terbilang kronis, bisa 300–400 kasus setahun. Dibantu kader kesehatan setempat dan juru pemantau jentik-jentik (jumantik), Puskesmas Karangan bekerja keras memberikan penyuluhan. Hasilnya cukup mencengangkan. ’’Sampai akhir 2014 ini, kami baru menemukan 40 kasus,’’ kata Tita.

Puskesmas Karangan juga sarat prestasi. Yakni, menyabet peringkat II Kinerja Puskesmas 2013 Tahun Anggaran 2014 Trenggalek; juara III KP ASI Jatim 2013 atas nama Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan; peringkat II Puskesmas Berprestasi Jatim 2013; juara Lomba Karya Tulis Inovasi Program Posyandu Tingkat Jatim 2013 atas nama Nina Wiji Astuti SKM; serta juara harapan II Desa Siaga Mandiri Jatim 2014 untuk Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan.

Dengan anggaran Rp 450 juta–Rp 500 juta per tahun, Puskesmas Karangan mempunyai fasilitas lumayan komplet. Selain gedung megah lengkap dengan pos keamanan, ada pojok laktasi (menyusui), area bermain anak, serta lahan toga (healing garden). Puskesmas tersebut sudah berstatus KPA (kuasa pengguna anggaran) dengan tingkat penyerapan rata-rata 99 persen. Sehari-hari, Puskesmas Karangan terlihat bersih dan bebas asap rokok. Maklum, ada aturan denda Rp 5 ribu bagi siapa pun yang tertangkap basah membuang sampah atau merokok sembarangan.

Jika dibandingkan dengan 21 puskesmas lainnya di Trenggalek, Puskesmas Karangan paling getol berinovasi. Contoh program yang mendapat sambutan bagus adalah Sambil Menyelam Minum Air di Taman Posyandu Cahaya Insani, Desa Karangan. Ketika anak belajar di PAUD, sang ibu sambil menunggu diajari membuat kerajinan tangan.

Ada pula program Di Posyandu Ada Crit Crut (Curahan Rezeki Insan Tuhan, Ciptakan Rasa untuk Tenggang Rasa). Yaitu, kegiatan donasi jimpitan warga di masing-masing posyandu untuk operasi posyandu dan kader kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek dr Soegito Teguh menggarisbawahi, upaya promotif dan preventif menjadi fokus utama karena menganut paradigma sehat. Artinya, masyarakat harus dibuat sehat agar tidak direpotkan urusan pengobatan.

’’Seluruh puskesmas gencar melakukan upaya promotif dan preventif. Hanya, yang dilakukan Puskesmas Karangan memang lain. Tidak konvensional. Mereka punya tim kesenian segala,’’ ungkapnya.

Khusus untuk promotif dan preventif kesehatan, Dinkes Trenggalek menyiapkan Rp 4 miliar setahun. Sementara itu, Rp 4 miliar lagi dialokasikan untuk pembelian barang, obat-obatan, serta membiayai program lainnya. Puskesmas-puskesmas juga menerima dana BOK (bantuan operasional kesehatan) dari pusat sekitar Rp 75 juta.

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) pun bisa ditekan, demikian pula kasus gizi buruk. AKI di Trenggalek mencapai 98,4 persen per 100.000 kelahiran, di atas AKI provinsi yaitu 97,43 persen.

Selain itu, untuk program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), setidaknya 60 desa –di antara 152 desa plus 5 kelurahan di Trenggalek– sudah ODF (open defecation free) alias bebas buang air besar sembarangan.

Anggaran Rp 600 juta dikucurkan ke 60 desa itu untuk memicu pembangunan jamban sehat. ’’Ternyata, sambutan warga luar biasa karena total dana yang dihabiskan mencapai Rp 2 miliar. Artinya, muncul dana partisipasi sampai Rp 1,4 miliar,’’ ujarnya. (www.jpipnetwork.id)

Tahun Depan Naikkan Anggaran

Mulyadi

PAK Bupati Mulyadi, apakah kegiatan promotif dan preventif kesehatan jadi perhatian utama Pemkab Trenggalek selama ini?
Oh, jelas selalu jadi perhatian utama. Kita berpikir lebih baik mencegah dari pada mengobati. Promotif bisa dilakukan dengan berbagai cara dan setiap puskesmas punya inovasi sendiri-sendiri. Ada yang dengan lagu, lawak, dan kesenian lainnya. Semua dilakukan agar masyarakat merasa nyaman ketika mendapat informasi kesehatan, tidak merasa digurui.

Adakah anggaran khusus untuk itu?
Tahun ini untuk upaya promotif, anggarannya sekitar Rp 300 juta, sedangkan preventif Rp 400 juta. Tahun depan mau kita naikkan jadi Rp 500 juta dan Rp 700 juta. Itu khusus. Turunnya bisa lewat dinkes, puskesmas, pemerintah desa, dan kelurahan.

Apa kendala utama upaya promotif dan preventif kesehatan di Trenggalek?
Kendala secara prinsip tidak ada. Hanya, Trenggalek itu kan secara geografis bergunung-gunung. Medannya kurang bersahabat, terutama yang di daerah terpencil. Tapi, apa pun tantangannya, kita tetap berusaha maksimal menyadarkan masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

Manfaat apa yang didapat masyarakat ?
Banyaklah, dari yang tidak kenal jadi kenal, dari tidak tahu jadi tahu, dan dari yang tidak bisa berbuat jadi bisa. Misalnya, mempersiapkan kehamilan, menjaga kesehatan kandungan, mengatasi gizi buruk pada anak, mengetahui pentingnya ke posyandu, dan sebagainya. Pendek kata, warga Trenggalek sekarang jadi lebih mandiri. Begitu pula masalah dukun bayi. Meski tinggal sedikit, semuanya sudah kita diklat secara medis sehingga bisa menolong persalinan dengan benar. (Sumarlin/www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :