Berkah Belimbing di Lahan Banjir
Kabupaten Bojonegoro, Pemenang Otonomi Awards Kategori Pertumbuhan Ekonomi
Dengan petani yang kreatif, pemerintah desa dan pemkab mengubah ’’kutukan geografis’’ menjadi sumber rezeki baru. Selain lumbung migas, Bojonegoro mulai mewujudkan impian menjadi sentra buah. Berikut laporan Joko Purnomo dari JPIP.
SETIAP tahun, Kabupaten Bojonegoro rutin menerima banjir dari Bengawan Solo. Kecamatan Kalitidu menjadi salah satu kawasan yang selalu terendam. Gagal panen dan hilangnya unsur hara tanah pun tak terelakkan. Akibatnya, kondisi ekonomi daerah yang rutin banjir sulit berkembang.
Berbagai upaya dicoba untuk memaksimalkan lahan tidak produktif. Coba-mencoba aneka tanaman, akhirnya dua tokoh Desa Ngringinrejo, Sunyoto atau Mbah Wo dan Zaenuri atau Mbah Nur, menemukan tanaman yang bersahabat dengan banjir, yakni belimbing.
’’Mulai 1984, Mbah Wo dan Pak Zaenuri menanam pohon belimbing,’’ kata Moh. Safe’i, kepala Desa Ngringinrejo. Ikhtiar tidak menyerah pada banjir dan penemuan tanaman belimbing itu mirip alur tembang Lir-Ilir yang digubah Sunan Kalijaga. ’’Cah angon-cah angon/peneknabelimbing kuwi/lunyu-lunyu penekna/kanggo mbasuh dodotira’’ (Anak gembala/anak gembala/panjatlah belimbing itu/licin-licin panjatlah/untuk membasuh pakaianmu).
Para pelopor tersebut menempuh upa ya ’’berlicin-licin’’ untuk meyakinkan warga bahwa tanaman belimbing itu cespleng di kawasan banjir. Setelah melihat perkembangan yang bagus, penanaman belimbing mulai menular ke warga desa di Kalitidu. Satu per satu warga terlanda demam penanaman belimbing. Ngringinrejo, yang semula merana oleh banjir tahunan, mulai ’’memanjat’’ ke status sebagai sentra belimbing.
Semangat warga tersebut mengundang pemerintah Desa Ngringinrejo dan Kabupaten Bojonegoro untuk turun tangan. Awal 2000, pendampingan dan fasilitasi bagi pengembangan usaha mulai diintensifkan. Pemerintah, rupanya, mulai melihat percepatan pengembangan belimbing akan mampu ’’membasuh’’ warga dari status keterbelakangan ekonomi.
Pada 2004, para petani belimbing mendirikan kelompok tani (poktan) Mekarsari. Lahirlah sistem pertanian kolektif di kalangan petani belimbing. Poktan memperkuat usaha penanaman belimbing yang sebelumnya dilaksanakan secara individu dan tanpa koordinasi. Hingga 2013, sebanyak 104 petani belimbing menjadi anggota Poktan Mekarsari.
Poktan tersebut mengintegrasikan kebun-kebun belimbing milik individu menjadi satu kawasan kebun bersama. Hasilnya, di Desa Ngringinrejo dan kemudian Desa Mojo, dibangun kawasan kebun belimbing bersama. Berkah ekonominya pun makin terasa. Penjualan belimbing memperbaiki kesejahteraan warga. Terlebih setelah pada 2008 Pemkab Bojonegoro menetapkan Desa Ngringinrejo dan Mojo sebagai Agrowisata Belimbing.
Penguatan terus dilakukan. Sekolah lapang diintensifkan untuk membekali warga dalam budi daya tanaman belimbing. ’’Sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) hingga sekolah lapang good agriculture practice dilaksanakan di dua desa pembudi daya belimbing,’’ jelas Ahmad Jupari, kepala dinas pertanian. Intinya, pemerintah hadir di tengah warga.
Yang spesial, Agrowisata Belimbing dikelola secara terintegrasi dengan melibatkan dinas-dinas terkait. Dinas pertanian, dinas perdagangan dan perindustrian, dinas pekerjaan umum, serta dinas pariwisata dikompakkan mengembangkan serta mempromosikan agrowisata khusus tersebut.
Bupati Suyoto makin bersemangat melihat warganya bersemangat. ’’Kami mengubah lahan yang tidak produktif menjadi kawasan ekonomi baru,’’ kata Kang Yoto, panggilan akrab sang bupati (wawancara selengkapnya dengan Kang Yoto bisa dilihat di bagian lain halaman ini).
Saat diwawancarai Rabu (4/12), Kang Yoto sedang berada di Brasil. Dia diminta UNDP untuk berbicara dua sesi tentang pengelolaan industri migas untuk pembangunan berkelanjutan (http://www.extractivedialogue.com/thematic- bacground-papers).
Kawasan Agrowisata Belimbing menjadi ikon baru pariwisata. Setiap hari sentra itu didatangi pengunjung yang ingin menikmati suasana hijau kawasan belimbing dan membeli buah belimbing. Wisatawan juga bisa ikut serta menanam, memanen, serta merawat tanaman belimbing di kawasan Agrowisata Belimbing. Berdasar data 2013, rata-rata pengunjung mencapai tiga ribu orang setiap bulan. Lumayan.
Secara ekonomi, pada 2013, Agrowisata Belimbing mampu memproduksi sekitar 855.000 kilogram buah belimbing dari total luas kawasan 20,4 hektare. Diperkirakan, perputaran uang dari kawasan tersebut mencapai Rp 3 miliar pada 2013.
Warga desa yang tidak memiliki lahan belimbing juga mendapat berkah dari usaha tersebut. Baik sebagai penjual buah belimbing maupun pekerja perawatan dan pemeliharaan tanaman belimbing. Anak-anak muda di sekitar wilayah agrowisata tidak perlu khawatir tidak mendapat pekerjaan, asalkan mereka mau berkeringat.
Perkembangan usaha belimbing secara nyata telah membangun fondasi ekonomi yang kuat di kawasan yang menjadi langganan banjir. Peluang usaha agrobisnis juga ikut menjaga lingkungan. Ekonomi hijau tersebut menjadi pendamping manis citra Bojonegoro yang dikenal sebagai lumbung minyak dan gas bumi Blok Cepu.
Masyarakat yang kreatif, ditunjang pemerintahan desa yang responsif dan dukungan penuh pemerintah daerah, menjadi kunci keberhasilan pengembangan Agrowisata Belimbing di Kabupaten Bojonegoro. Sinergi itulah yang menjadikan Kabupaten Bojonegoro memperoleh Otonomi Awards di bidang Pertumbuhan Ekonomi pada 2014. Selamat atas spirit maju Kabupaten Bojonegoro. (www.jpipnetwork.id)
Sesulit Apa pun Ternyata Bisa
Pak Bupati Suyoto, tolong ceritakan bagaimana pengembangan usaha tanaman belimbing di kawasan banjir Kalitidu yang kian diminati petani.
Yang dilakukan pemkab bagaimana membuat belimbing itu bernilai ekonomi tinggi dan berkelanjutan. Cara yang ditempuh adalah, pertama, menjadikan kawasan belimbing sebagai kawasan wisata. Kami bangun infrasruktur jalan menuju dan di dalam kebun. Penyediaan area parkir, promosi. Khusus promosi, berbagai acara pemkab kami gelar di sana, para tamu luar negeri dan tokoh kami ajak dalam acara di sana.

Kedua, sejak awal penanam belimbing sebenarnya telah melibatkan peran pemkab, lewat petugas penyuluh lapangan (PPL). Karena itu lah, pembinaan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas dapat diterima pemilik. Antara lain, pengenalan bibit baru berkualitas, menjaga kualitas buah yang dipanen.
Ketiga, bersama pemerintah desa membantu petani belimbing bertransformasi dari individual ke kelompok. Kami memfasilitasi pembentukan kelembagaannya, norma, dan mekanisme.
Keempat, mendukung penuh festival belimbing sebagai ajang promosi dan penguatan budaya masyarakat menjaga kelestarian belimbing.
Apakah sudah ada antisipasi, misalnya kalau 20 ha lahan belimbing itu panen, plus belimbing dari daerah lain, harga bisa anjok?
Sudah beberapa tahun ini mereka dilatih dan mulai memproduksi jus belimbing, selai, dan makanan olahan lainnya. Menjadikannya sebagai kawasan wisata salah satu upaya agar harga tidak anjlok. Kawasan ini menjadi trigger bagi daerah sekitar. Sekarang pemkab membagikan bibit jambu merah, lengkeng, dan sawo.
Sudah berapa tahun dianggarkan?
Sejak 2008 kami memberikan perhatian lewat APBD. Kawasanini lalu menjadi ikon bahwa kita bisa menundukkan keadaan sesulit apa pun. Ya, kita bisa.
Berapa banyak masing-masing bibit yang dibagi? Ditanam di lahan produktif, lahan banjir, atau pekarangan warga?
Semua kawasan langganan banjir, di pekarangan, kanan kiri rumah, atau kebun. Karena dekat bengawan, jadi waktu musim apa pun biar menghasilkan ekonomi rakyat. Tahun ini kita akan tanam 47 ribu bibit jambu merah. Tadinya kami mau beli 250 ribu bibit, tapi tidak ada barangnya. Masih banyak peluang untuk bantu rakyat. Kita sedang kembangkan tanaman buah yang berbuah sepanjang tahun. (roy/www.jpipnetwork.id)
Arsip PDF :
