Kalau Tak Sampai Capek, Itu Bukan Latihan
4 mins read

Kalau Tak Sampai Capek, Itu Bukan Latihan

Serunya Para Difabel Saling Menularkan Pengalaman Menuju Kemandirian

Membuka wawasan selalu jadi pintu ampuh menuju kemandirian kaum difabel. Selain demi meyakinkan diri, juga meyakinkan lingkungannya agar mereka tak dihambat dengan berbagai stigma sosial.

APA yang pembaca pikirkan jika orang berkaki satu melakukan breakdance? Padahal, breakdance adalah seni tari yang membutuhkan kelincahan pelakunya dengan banyak gerak. Baik tangan maupun kaki.

’’Sebenarnya biasa saja. Hanya karena orang melihat b-boy-nya berkaki satu, maka kelihatan luar biasa.’’ Begitu kata Arif Setyo Budi saat memberi motivasi kepada peserta Kemah Pemuda Ayo Inklusif! di Hotel Atria Malang (10/4). Dengan satu kaki Arif tetap mampu menjadi seorang penari breakdance. ’’Asal ditekuni dan sesuai dengan passion, sesulit apa pun, akan terasa mudah,’’ imbuhnya.

Breakdance, lanjut Arif, telah menjadi passion-nya sebelum mengalami kecelakaan kerja pada 2007. ’’Ketika teman menggotong saya, sementara kaki kanan saya masuk mesin, saya menganggap ini semua sudah menjadi suratan takdir,’’ ceritanya.

Tapi, Arif kadung cinta pada dunia breakdance. Meski kaki tinggal satu, dia tetap menekuni seni tari kejang itu. Awalnya tentu tidak mudah. Tapi, berkat ketekunan dan latihan, gerakan breakdance tetap bisa dia lakukan dengan beberapa penyesuaian.

’’Saya bisa melakukan yang orang lain lakukan meskipun hanya dengan satu kaki. Semua sama saja dengan menggunakan satu kaki maupun dua kaki. Tergantung bagaimana kita menyikapi keadaan diri kita sendiri,’’ ujar Arif yang dalam sesi itu juga ’’mengajarkan’’ beberapa gerakan dasar breakdance kepada peserta Kemah Pemuda.

Menerima kenyataan diri dan memahami difabel sebagai keragaman (sejak lahir maupun karena insiden) memang bukan persoalan mudah. Terlebih, ada beberapa keluarga yang justru menyembunyikan difabel dari pergaulan. ’’Maka, yang pertama kali harus dilakukan adalah advokasi pada diri sendiri,’’ jelas Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Disabilitas Wawan Kurniawan SH (11/4).

Berangkat dari pemikiran itu, Wawan secara rutin melakukan advokasi kepada para difabel. Tujuannya, difabel mendapat perhatian yang semestinya dari keluarga. ’’Kita sering mengunjungi keluarga yang menyembunyikan difabel. Bukan apa-apa, hanya ingin menyatakan bahwa mereka itu tidak sendiri,’’ jelas pengacara yang juga difabel itu.

Wawan juga punya jurus ampuh agar difabel tidak terus-terusan ’’disembunyikan’’ oleh keluarganya. Yakni menyadarkan keluarga bahwa difabel juga harus bisa mandiri.

’’Mohon maaf, jika Bapak-Ibu sudah tidak ada di dunia ini, siapa yang akan merawat putra-putrinya yang difabel?’’ Begitu jurus Wawan agar difabel juga diperlakukan layaknya nondifabel di dalam keluarga.

Buka Wawasan
Kemah Pemuda Ayo Inklusif! membuka banyak wawasan bagi 25 peserta yang semuanya difabel. Arief Burhan Effendi misalnya. Pemuda dengan disabilitas pendengaran itu mengaku sangat senang bisa bergabung. ’’Senang, banyak teman,’’ jelasnya dengan bahasa isyarat.

Selama empat hari (9–12/4) Kemah Pemuda, materi yang paling disukainya adalah advokasi diri. Juga, bagaimana mencari solusi kerumitan permasalahan kehidupan.

Lulus dari Manajemen Universitas Brawijaya Malang, difabel 31 tahun itu juga punya cita-cita untuk bekerja. ’’Sudah melamar beberapa kali lewat dinas tenaga kerja, tapi belum diterima,’’ jelasnya. Sambil menunggu panggilan kerja, Arief yang kesehariannya menjaga sang nenek di Pasuruan berusaha memperdalam bahasa Inggris.

’’Dulu pernah ditawari untuk bekerja, tapi di bagian komputer. Sementara saya tidak bisa dalam masalah komputer,’’ jelasnya sambil menyatakan bahwa passion-nya memang dalam sumber daya manusia (SDM).

Suasana perkemahan yang menyenangkan juga dirasakan Ika Aprilia Dewi, atlet nasional renang Paralympic. Menurut dia, pelatihan yang dijalani kali ini berbeda dengan pelatihan-pelatihan lainnya. Bedanya ada pada materi mengenali dan mengembangkan diri.

Ika sebenarnya adalah difabel berprestasi. Beberapa kejuaraan renang berhasil dia menangkan, khususnya untuk gaya dada 100 meter. Dalam Kejuaraan Nasional 2015 di Solo, Ika langsung meraih emas. Prestasi itu mengantarkannya berpartisipasi dalam ASEAN Paragym di Singapura pada Desember 2015.

Memasuki tahun 2016, dia mengikuti Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) yang diselenggarakan di Bandung. ’’Mendapat 1 emas dan 2 perak,’’ kisah Ika. Prestasi itu lantas membawanya ikut bertanding di ASEAN Para Games yang diselenggarakan di Malaysia pada Oktober 2017. ’’Berada di peringkat 4,’’ katanya.

Pada Oktober 2018, sebenarnya ada momen olahraga internasional yang dihelat di Indonesia Asian Para Games. Namun, Ika terpaksa melewatkan event multinasional itu. ’’Saya tahun ini izin cuti untuk melakukan operasi kaki. Tapi, opera sinya gagal,’’ jelas difabel asal Banyuwangi itu. Karena kadung cuti untuk operasi selama setahun, dia tidak dipanggil mengikuti pelatihan terpusat.

Di Kemah Pemuda, Ika juga berbagi pengalaman dengan peserta lain. Menurut dia, sebagai atlet dirinya harus tekun berlatih. Bahkan, sehari-hari dia mengha biskan banyak waktu di kolam renang. Pagi dan sore latihan, sedangkan siangnya istirahat. ’’Kalau latihan capek, ya capek. Itu artinya latihan betulan. Kalau tidak capek, ya bukan latihan namanya,’’ jelas nya tentang makna latihan. (mka/www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :