”Wisata Rohani” Difabel Gugah Semangat Pakde
5 mins read

”Wisata Rohani” Difabel Gugah Semangat Pakde

Pencanangan Program Ayo Inklusif untuk Membekali Penyandang Disabilitas Muda

”Ayo Inklusif!” pekik Soekarwo alias Pakde Karwo di panggung pembukaan Jambore Inovasi Jawa Timur. Yel-yel yang diteriakkan gubernur Jawa Timur itu secara serentak diikuti 300-an hadirin. Spontanitas dari orang nomor satu di Jatim tersebut ikut menandai dimulainya program upaya membekali kaum difabel Jatim agar lebih siap menghadapi dunia kerja.

YEL-YEL dari Pakde Karwo itu merupakan ”bonus” setelah Direktur Program Ayo Inklusif! Rohman Budijanto menyerukan pekik serupa. Teriakan semangat yang mengajak Jawa Timur lebih inklusif tersebut menandai dimulainya program. Selain meminta dukungan kepada Pakde Karwo dan semua yang hadir, Rohman menjelaskan secara singkat program Ayo Inklusif! yang akan beroperasi selama 1,5 tahun (bisa diperpanjang lagi 3,5 tahun) di Jawa Timur.

Ayo Inklusif! merupakan program untuk membekali penyandang disabilitas dengan soft skill maupun hard skill. Sekaligus bertugas menjalin relasi dengan dunia kerja agar makin ramah untuk penyandang disabilitas. ”Ayo Inklusif! adalah ikhtiar kami semua dalam membekali kaum difabel atau penyandang disabilitas agar mereka siap bekerja sebagaimana kita semua,” jelasnya dalam acara di Santika Premiere Hotel, Surabaya, kemarin (5/12) itu. Rohman menyebut United States Agency for International Development (USAID) sebagai donor yang membiayai program itu.

Peluncuran program Ayo Inklusif! dihadiri pula oleh Deputi Men PAN-RB Diah Natalisa, Sekretaris Daerah Pemprov Jatim A. Sukardi, Konjen Australia di Surabaya Chris Barnes, dan perwakilan GIZ Jerman Elke Rapp. Acara tersebut diikuti 38 bupati dan wali kota se-Jatim atau perwakilannya serta delegasi daerah dan dinas daerah. Acara peluncuran program tersebut berbarengan dengan Jambore Inovasi Publik untuk merayakan Jatim sebagai kiblat inovasi. Sebanyak 25 besar terbaik Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) dan peraih nilai terbaik dalam SAKIP/LAKIP diberi penghargaan oleh Pakde Karwo. Acara Jambore Inovasi itu terselenggara berkat kerja sama Pemprov Jatim dan mitra pembangunan, yakni Kompak, JPIP, GIZ, dan Inovasi Palladium.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Rohman dengan meminta dukungan semua pihak, terutama para pemegang kebijakan di tiap-tiap daerah, agar program tersebut berjalan dengan lancar. ”Sudah saat nya kita makin melibatkan kaum difabel. Mohon dukungan agar satu lagi ikhtiar dari Jawa Timur ini bisa menjadi percontohan yang baik untuk Indonesia,” pinta Rohman kepada peserta untuk ikut mendoakan dan mendukung.

Tak lupa, dalam kesempatan itu Rohman juga memperkenalkan berbagai lembaga yang terlibat dalam Ayo Inklusif!. Selain JPIP sebagai leader proyek tersebut, ada Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya Malang yang diwakili Slamet Thohari, tunadaksa yang sehari-hari menjadi dosen FISIP.

Selain PSLD, ada dua lembaga yang sejak jauh hari bergelut dengan isu-isu disabilitas. Hadir Tetty Sianipar dari Saujana Yogyakarta, yang salah satu programnya adalah menyediakan platform lowongan kerja khusus penyandang disabilitas, yakni Kerjabilitas. Juga ada Christoffel Blindenmission (CBM) yang diwakili Adrian Brahma. Dilengkapi dengan perusahaan besar yang punya konsen serupa, United Tractors (UT), yang diwakili Monika Dewayanti. Konsorsium Ayo Inklusif juga bekerja sama dengan Mitra Kunci yang diwakili LeRoy Hollenbeck, chief of party lembaga yang ditugasi USAID itu.

Program Ayo Inklusif! merupakan salah satu upaya memenuhi ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam pasal 53 disebutkan, untuk pemerintah pusat maupun daerah, diwajibkan ada 2 persen penyandang disabilitas dari seluruh pegawainya.

Masih dalam pasal yang sama, UU juga memerintahkan perusahaan swasta mempekerjakan penyandang disabilitas minimal 1 persen dari seluruh pekerjanya. Program itu didesain secara seksama agar bisa menjadi kenyataan dan bermanfaat untuk satu dengan lain. Khususnya mengajak anak-anak muda penyandang disabilitas yang berusia 18–34 tahun.

Untuk mempermudah pengenalan program, Ayo Inklusif! juga menayangkan video pendek rangkuman program. Selama 2 menit 45 detik peserta pembukaan Jambore Inovasi menahan haru saat melihat ringkasan perjuangan para penyandang disabilitas. Mulai gambaran masih adanya kasus diskriminasi terhadap mereka hingga kelebihan skill mereka.

Video diawali dengan kehadiran sosok penyandang disabilitas yang terpaksa tidak mendapat pendidikan yang layak. Kebutuhan dasar itu tidak bisa diakses Teguh, penyandang disabilitas tersebut, karena yang bersangkutan merupakan penyandang cerebral palsy. Padahal, dalam kesehariannya, dia mampu bekerja keras layaknya kaum nondisabilitas.

Kasus diskriminasi yang tidak kalah menyayat hati dialami pria muda dalam tayangan selanjutnya. Mengalami kecelakaan ketika kecil membuat pendengaran Sandy Rahmad bermasalah. Akibatnya, dia tunarungu. Ketika sudah tumbuh besar dan berusaha memasuki dunia kerja, dia selalu ditolak. Masalah pendengaran itulah yang selalu dijadikan alasan berbagai instansi dan perusahaan untuk mengabaikannya sebagai salah satu pegawai.

Padahal, jika tanpa perlakuan diskriminatif, juga tentu saja didukung pelatihan untuk memupuk soft skill maupun hard skill, masih dalam video yang sama, disabilitas bukanlah halangan yang berarti saat bekerja. Penyandang tunadaksa yang sehari-hari memakai kursi roda, papan skate, maupun tongkat kruk hingga mereka yang tunawicara dan tunarungu pun bisa beraktivitas layaknya kaum nondisabilitas. Bahkan, dalam beberapa kasus, kinerja mereka malah jauh lebih produktif jika dibandingkan dengan kaum nondisabilitas.

”Kita baru merasakan betapa kesehatan itu cukup berarti kalau melihat tayangan seperti ini,” kata Soekarwo, menanggapi tayangan video garapan Rubby Emir, pimpinan Saujana, tersebut. ”Ini seperti wisata rohani bagi kita semua,” lanjut Soekarwo tentang video yang memang sarat makna rohani tersebut.

Saat ditemui seusai acara, Gubernur Soekarwo menjanjikan komitmennya untuk mendukung program Ayo Inklusif!. ”Pasti kami akan mendukung program yang baik ini,” ucap Soekarwo, lalu menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah punya peraturan daerah (perda) khusus untuk penyandang disabilitas. Tepatnya Perda Provinsi Jatim Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pelayanan bagi Penyandang Disabilitas.

Aturan normatif lain juga sudah ada dalam Perda Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan. ”Jelas kami bantu (Ayo Inklusif!, Red). Kami akan dorong agar kaum penyandang disabilitas lebih punya akses ke pekerjaan formal,” tegas Setiadjit, kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jatim. (mkh/www.jpipnetwork.id)

Arsip PDF :