Banyuwangi-Trenggalek Raih Piala Emas
5 mins read

Banyuwangi-Trenggalek Raih Piala Emas

Kovablik-Otonomi Awards 2018

SURABAYA – Inovasi yang dilakukan pemda Banyuwangi dan Trenggalek mendapat penghargaan spesial dalam acara yang diadakan The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) tadi malam.

Dua kabupaten tersebut mendapat anugerah Piala Emas. Banyuwangi unggul berkat program Agage Pintar. Trenggalek dianggap berhasil menjalankan program Gertak.

Program Agage Pintar yang artinya cepat pintar itu dimulai pada 2014. Pemkab melarang sekolah menolak anak berkebutuhan khusus (ABK). Lewat program itu, ABK bisa belajar di sekolah reguler. Dengan demikian, ABK memiliki kepercayaan diri. Mereka mendapat hak yang sama dengan siswa lainnya.

Sementara itu, Gertak merupakan kependekan dari Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan. Program tersebut dianggap berhasil mengatasi kemiskinan di Trenggalek. Selama ini banyak masyarakat miskin yang mengeluh tidak mendapat layanan dari pemkab.

Program tersebut mendapat penilaian cukup tinggi bila dibandingkan dengan inovasi lainnya. Banyuwangi dan Trenggalek memberikan solusi bagi warga yang membutuhkan. Acara tersebut diselenggarakan JPIP bersama Pemprov Jatim. Masing-masing memberikan penghargaan dengan kategori berbeda. Pemprov menganugerahkan award kepada daerah yang memiliki inovasi pelayanan publik. Pemprov memberi nama event tersebut Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik).

Anugerah yang diberikan JPIP lebih fokus pada layanan difabel. Utamanya layanan yang bertujuan memberikan ruang kepada penyandang disabilitas untuk mendapat pekerjaan. Anugerah itu muncul kembali setelah vakum selama tiga tahun.

Penganugerahan tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Gubernur Jatim Soekarwo, Dirut PT Jawa Pos Koran Leak Kustiya, dan Direktur JPIP Rohman Budijanto. Ada juga mantan peneliti JPIP yang kini menjadi ketua KPU, Arief Budiman.

Dalam sambutannya, Leak mengungkapkan bahwa tidak ada yang kalah dalam kompetisi pelayanan publik ini. ”Yang ada adalah daerah yang mendapatkan penilaian paling unggul. Tapi bukan kalah yang benar-benar kalah,” tuturnya.

Gubernur Soekarwo mengapresiasi acara itu. ”Sudah sejak 16 tahun yang lalu Jawa Pos memikirkan kemajuan Jawa Timur,” ungkapnya. Pakde Karwo –sapaan Soekarwo– juga mengungkapkan bahwa acara tersebut sangat mendorong pemerintah untuk selalu memberikan inovasi-inovasi baru dalam melayani masyarakat.

Di sini Jawa Pos menyumbangkan sebagian kekayaannya, seperti kekayaan intelektual, kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” sambungnya.

Tjahjo Kumolo yang mewakili Presiden Joko Widodo menyatakan, acara itu dapat memperkuat otonomi daerah. Sebab, daerah-daerah makin berani membuat terobosan dan inovasi baru. ”Kami sangat mengapresiasi acara ini. Mudah-mudahan bisa ditiru seluruh daerah dan juga provinsi.” (ama/riq/c10/c9/oni)

Mengapresiasi Renovator

Oleh ROHMAN BUDIJANTO
Direktur eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP)

TUNTUTAN orisinalitas sering jadi faktor kontra produktif dalam mempercepat penyebaran praktik-praktik yang baik. Dalam inovasi pelayanan publik, inovator sering habis waktu memikirkan bagaimana inovasi bisa orisinal.

Padahal, tak ada yang baru di bawah matahari. Inovasi-inovasi yang bagus, seperti yang diberi penghargaan Kovablik dan Otonomi Awards tadi malam, juga tidak selalu kental unsur kebaruannya. Dan, kebaruan mestinya bukan hal terpenting. Yang jelas, inovasi-inovasi unggulan itu sudah mempunyai dampak baik dalam menyelesaikan persoalan publik.

Mementingkan dampak baik tersebut semestinya lebih ditonjolkan ketimbang pusing memikir kan orisinalitas. Di saat zaman yang makin ”cerewet”, publik lebih suka melihat hasil.

Mereka tak peduli orisinal atau tidak. Orisinalitas sering berada di wilayah gengsi. Merasa kurang ciamik kalau men jadi pengikut (follower) yang mereplikasi atau memodifikasi inovasi orang lain.

Karena itulah, kenapa istilah replikasi atau modifikasi kurang disambut di kalangan inovator. Mereka kerap berkeras bahwa inovasinya adalah orisinal.

Belum ada yang melakukan sebelumnya. Padahal, setiap inovasi jelas ada jejak inovasi sebelumnya. Silakan dicermati para pemenang inovasi bagus (good practices) dari pemkab/pemkot serta organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Jatim yang diapresiasi Mendagri Tjahjo Kumolo dan Gubernur Soekarwo tadi malam.

Dari judulnya tersirat ada pengembangan dari inovasi yang ada sebelumnya. Tidak jadi masalah. Karena pada hakikatnya inovasi tidak selalu harus temuan baru (discovery, invention).

Inovasi lebih dekat secara definisi dengan pembaruan. Memberi unsur-unsur solusi yang di nilai cocok dengan persoalan yang dihadapi. Misalnya, bisa saja sama-sama inovasi memberantas kemiskinan.

Tetapi, ada yang pendekatannya kepada kaum perempuan sebagai agen. Sebab, kemiskinan lebih ber wajah perempuan (feminisasi kemiskinan). Yang lain dengan pendekatan inovasi produk perbankan yang mudah di akses kaum miskin.

Ada pula yang mengutamakan pemberdayaan kaum penyandang disabilitas. Sebab, sulitnya mengakses pelayanan publik menjadikan mereka lapisan besar kaum miskin.

Ada yang memakai pendekatan membekali kaum muda miskin dengan keterampilan atau kewirausahaan. Semuanya baik, semuanya bisa diterima, asal mempunyai dampak yang nyata mengentas kemiskinan.

Setiap persoalan dalam pelayanan publik memang punya kesamaan. Tetapi, perbedaan kultur, wilayah, religiusitas, etnis, tingkat pendidikan, level ekonomi, serta perbedaan lain bisa menuntut pen dekatan yang berbeda. Nah, di sinilah pentingnya merenovasi suatu solusi agar tajam menuntas kan persoalan di depan mata.

Solusi adaptif untuk menyelesaikan keunikan persoalan itu lah yang menjadi titik terpenting renovasi. Dan, ini terkait dengan tingkat penerimaan dan kepuasan publik penerima manfaat renovasi itu. Karena solusi yang beradaptasi dengan keadaan senyatanya itulah yang akan memudahkan partisipasi masyarakat.

Namanya saja pelayanan publik, maka kepuasan publiklah yang jadi target terpenting. Bukan geng si para inovator pelayanan publik. Tapi, apa pun bentuk solusi, kalau manjur jelas bisa menaikkan gengsi inovator.

Menandai publik yang puas itu sederhana. Mereka mungkin tak akan memuji atau berterima kasih. Tetapi, kalau mereka diam setelah dilayani, itu bisa jadi tanda mereka sudah terlayani dengan layak. Bukankah kalau tidak puas, publik zaman ini kerap langsung komplain, bahkan menyambar HP untuk ”curhat sosial”? (*)

Arsip PDF :