Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
APLIKASI KUDU SEKOLAH KABUPATEN PEKALONGAN (Menjamin Anak Tidak Sekolah Terdata, Terkonfirmasi, Terpantau, dan Terdampingi untuk Kembali Bersekolah)
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Pekalongan
UPP: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengembangan
Wilayah: Pekalongan
Penghargaan: TOP 45/2021
Tahun: 2021
Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan
Tag: digital, aplikasi, web, pembangunan manusia, pendidikan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pekalongan Tahun 2018 sebesar 68,97 (11 terendah di Jawa Tengah). Angka ini menunjukkan pembangunan manusia terutama pendidikan masih menjadi permasalahan serius. Permasalahan yang perlu ditangani adalah masih banyaknya Anak Tidak Sekolah (ATS). Berdasarkan BDT-Kemensos, EMIS-Kemenag, DAPODIK-Kemdikbud dan data PUS didapatkan 32.426 ATS. Untuk mengembalikan ATS ke sekolah, pada 2 Mei 2019 diluncurkan Gerakan KUDU Sekolah. Gerakan ini awalnya mengalami permasalahan karena data ATS tersaji dengan versi yang berbeda-beda, dari banyak sumber data, belum menyeluruh, lama dalam penyajian, miskin informasi.
Aplikasi KUDU Sekolah berbasis web dan android menjawab kebutuhan pendataan, updating, rekonfirmasi dan monev ATS dalam satu jendela informasi. Fitur dan variabel lebih lengkap termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Data ATS dari berbagai sumber termasuk dari masyarakat dipadukan berdasarkan format aplikasi, diverifikasi dan validasi, diintegrasikan dengan SIAK, direkonfirmasi, dilakukan pendampingan untuk kemudian dimonitor. Data diproses otomatis dan ditampilkan dalam bentuk infografis sehingga mudah dipahami.
Perubahan sesudah 2 tahun Aplikasi KUDU Sekolah diterapkan dapat terlihat dari tersedianya data ATS melalui aplikasi sebanyak 4.521 anak; terkonfirmasinya ATS sebanyak 788 anak kembali bersekolah; terpantaunya ATS kembali bersekolah sebesar 96,98%; terbitnya 3 regulasi pendukung; bertambahnya dukungan anggaran; terstrukturnya kelembagaan tingkat kabupaten, kecamatan (19) dan desa/kelurahan (285); dan bertambahnya sekolah inklusi menjadi 22 SD dan 20 SMP.
Beberapa perubahan dilakukan sesuai tuntutan masa pandemi: proses pendataan, rekonfirmasi, dan monev ATS kini dilaksanakan secara online oleh operator kecamatan, desa dan satuan pendidikan. Perubahan lain adalah masyarakat dapat berpartisipasi secara online dalam memperoleh data maupun mengusulkan data ATS.
Keberlanjutan inovasi ini terjamin karena diperkuat dengan Perbup Wajib Belajar 12 Tahun, Perbup Penunjukan Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusi, juga didukung Perbup tentang Kajen Satu Data. Kelangsungan inovasi ini dijamin dengan adanya Panduan KUDU Sekolah dan Tutorial Penggunaan Aplikasi. Pengembangan SDM dilaksanakan melalui ToT, pelatihan operator, dan sosialisasi kepada masyarakat. Penjaminan mutu ditempuh melalui evaluasi program secara berkala dan adanya sharing knowledge bahasa program.
Aplikasi KUDU Sekolah berpotensi untuk diterapkan ke wilayah/program lain, karena permasalahan ATS hampir sama dialami daerah-daerah lain. Aplikasi ini mudah dioperasikan/ ditransfer, karena menggunakan pemrograman dan logika berpikir sederhana. Beberapa daerah telah melakukan studi banding, seperti Lombok Utara yang juga menyatakan keinginan untuk mengadopsi aplikasi ini. Sampai awal 2021 Kabupaten Pekalongan telah dilibatkan dalam beberapa agenda nasional oleh KOMPAS, Bappenas, Forum Kajian Pembangunan maupun Kemendikbud RI. Dari sisi program, Aplikasi KUDU Sekolah saat ini diintegrasikan dengan Kajen Satu Data agar mudah diakses/dibagipakaikan antarpengguna data.
MIRA KANSIL (Mini Ranch Tingkatkan Hasil)
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara
UPP: Dinas Pertanian
Wilayah: Penajam Paser Utara
Penghargaan: TOP 99/2021
Tahun: 2021
Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan
Tag: peternakan, peternak, sapi, sapi potong
Berbagai upaya ditempuh dalam pengembangan peternakan di Kabupaten Penajam Paser Utara dengan mengakomodasi berbagai kondisi baik kondisi geografis, manajemen pemeliharaan, sosio kultural, dan lainnya.
Keberagaman bukan berarti sebuah hambatan, melainkan merupakan tantangan untuk dicarikan solusi terbaiknya. Rata-rata pengembangan peternakan di Kabupaten Penajam Paser Utara tidak disediakan lahan khusus, ada juga yang diintegrasikan dengan lahan pertanian, perkebunan ataupun pemukiman dan polanya masih sebagai usaha sambilan. Kebiasaan peternak mengelola usaha peternakannya ada yang menggunakan pola intensif, semi intensif maupun ekstensif dengan berbagai keuntungan dan kerugiannya. Berdasarkan hal tersebut muncul gagasan inovasi untuk pelan-pelan merubah paradigma beternak masyarakat agar lebih sistematis dengan mempertimbangkan keadaan yang ada khususnya keterbatasan lahan dengan mengembangkan sistem mini ranch. Manfaat yang ingin diperoleh yaitu peningkatan populasi ternak, efisiensi biaya produksi, peningkatan kualitas produksi dan reproduksi ternak serta meningkatnya pendapatan peternak.
Inovasi ini merupakan sarana untuk mendorong cara budidaya sapi potong menjadi lebih baik dan benar dengan mengedepankan perbaikan pakan baik hijauan maupun pakan tambahan, sarana pagar keliling dan shelter untuk memaksimalkan sistem budidaya secara semi intensif, optimalisasi reproduksi ternak baik secara kawin alam dengan penyediaan pemacek unggul maupun dengan inseminasi buatan. Dengan berbagai sentuhan inovasi tersebut diharapkan akan terjadi perbaikan-perbaikan parameter budidaya yang ingin dicapai seperti peningkatan jumlah ternak dengan meningkatnya kelahiran dan menurunnya kematian, meningkatnya pemasaran dan agribisnis ternak, pengelolaan pupuk organik, peningkatan BCS (Body Score Condition) dan turunnya interval jarak beranak (Calving Interval). Data dan parameter perkembangan mini ranch dapat dilakukan dengan aplikasi siranch dan aplikasi isikhnas sehingga mudah untuk mengevaluasi segala kendala yang terjadi untuk di carikan solusi sehingga mini ranch ini dari tahun ke tahun dapat berkelanjutan dan makin berkembang baik secara jumlah maupun kualitas kegiatan oleh kelompok. Sampai tahun 2020, telah terbangun 3 unit mini ranch yaitu di KT Sumber Rejeki Saloloang, KT Semoga Jaya Nenang, dan KT Sinar Abadi Tanjung Tengah.
Dari evaluasi terhadap pelaksanaan inovasi terlihat kenaikan populasi ternak rata-rata sebesar 12,43% per tahun, peningkatan angka kelahiran 15,23%, penurunan angka kematian 4,55%, peningkatan pemasaran 30%, kenaikan BCS 8,33%, luasan HPT 30,77%, dan penurunan calving interval sebesar 44 hari. Unit mini ranch yang terbangun sebanyak 3 unit dan bertambah 3 unit lagi tahun 202Ke depannya, data akan terus dievaluasi agar dampak ekonomis dari mini ranch akan terlihat dan terukur sehingga peternak makin sejahtera sejalan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
