07 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

Gerakan Masyarakat Sadar Surveilans

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Pacitan

UPP: UPTD Puskesmas Gondosari

Wilayah: Pacitan

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: puskesmas, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, gerakan masyarakat, elektronik

Gerakan ini dilatarbelakangi oleh Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis pada tahun 2017 dengan angka kematian cukup tinggi yaitu 66% di wilayah Puskesmas Gondosari. Selain itu juga terdapat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sebanyak 102 kasus. Tingginya kasus ini disebabkan oleh sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit dan masalah kesehatan masyarakat masih sangat rendah.

Atas dasar keinginan untuk saling menjaga pada masyarakat, maka timbul ide dari pemerhati kesehatan untuk melakukan suatu gerakan berbasis masyarakat. Gerakan ini dilakukan untuk selalu waspada terhadap faktor risiko penyakit dan rumor yang terjadi di masyarakat. Gerakan ini berbeda dengan konsep Desa Siaga dimana semua kegiatan menunggu aba-aba dari Puskesmas. Sisi inovatifnya antara lain: Pengamatan penyakit secara terus-menerus oleh kader pada 10 rumah di sekitarnya. Konsep kegiatan dan nama kader berasal dari masyarakat (bottom-up). Pelaporan rumor dapat dilakukan secara langsung tatap muka, secara tidak langsung melalui Whatsapp baik grup surveilans maupun langsung ke tenaga kesehatan.

Implementasi dari inovasi ini dilakukan melalui tahapan: Pembentukan kader surveilans (satu dasa wisma satu kader); Pelatihan kader; Pengamatan bulanan terhadap faktor resiko (FR) penyakit oleh kader; Pelaporan rumor penyakit; Verifikasi rumor oleh tenaga kesehatan; Tindak lanjut pelaporan rumor; Evaluasi kegiatan di tingkat dusun (Musdus), musyawarah desa (Musdes), dan mini lokakarya tingkat kecamatan.

Pada saat pandemi, kegiatan dilakukan dengan: Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) minimal masker, faceshield, dan sarung tangan pada saat berkegiatan serta mematuhi protokol kesehatan; Refreshing kader di tempat yang nyaman dan aman; Pemberian informasi kepada kader surveilans melalui media online; Pemantauan kelompok berisiko Covid-19 dan penempelan stiker pemantauan pada pasien terkonfirmasi dan kontak erat pada masa isolasi menggunakan aplikasi SILACAK.

Dengan adanya Gerakan Masyarakat Sadar Surveilans, outcome yang diperoleh antara lain: Masalah kesehatan cepat diketahui dengan adanya forum masyarakat desa yang dilakukan sebulan sekali; Kewaspadaan masyarakat sudah tinggi sehingga angka kematian penyakit menular khususnya Leptospirosis dan DBD menjadi nihil; Masyarakat sudah mulai mengatasi masalah kesehatan secara mandiri; Kasus aktif Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Gondosari sangat kecil; Positivity rate Puskesmas Gondosari 18%; Angka kesembuhan Covid-19 mencapai 100%.

Inovasi ini dapat dengan mudah direplikasi sebab pelaporan rumor penyakit dapat dilakukan oleh kader karena sudah semua memiliki ponsel android, indikator pengamatan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, beban kader sangat ringan karena hanya mengamati 10 rumah. Selain itu petunjuk teknisnya sudah ada sebagai salah satu strategi manajerial untuk replikasi.

PUTRI CERIA (Program asUhan Terpadu Remaja puskesmas candI yang Cerdas, Energik, Responsif, Inovatif dan Adaptif)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Pacitan

UPP: UPTD Puskesmas Candi, Dinas Kesehatan

Wilayah: Pacitan

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Kesetaraan Gender

Tag: pernikahan dini, kehamilan, puskesmas, pendidikan

Inovasi ini muncul untuk mengatasi permasalahan tingginya jumlah kasus pernikahan dini dan kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja di salah satu desa wilayah kerja Puskesmas Candi. Pernikahan di bawah umur dan kehamilan pada remaja ini berakibat pada terjadinya ibu hamil risiko tinggi, komplikasi kehamilan, bayi lahir berat badan rendah, gizi buruk, tingginya AKI dan AKB, serta masalah sosial lainnya.

Inovasi yang mulai diinisiasi sejak tahun 2015 dengan nama Kelas Edukasi Remaja Putri (KEJARI) ini diawali dengan kegiatan kajian khusus bagi remaja putri. Pada awalnya, kegiatan difokuskan kepada remaja putri sebagai tindakan preventif atas kasus yang banyak terjadi. Pada perkembangannya lalu berubah menjadi PUTRI CERIA (Program asUhan Terpadu Remaja Puskesmas candI yang Cerdas, Energik, Responsif, Inovatif dan Adaptif) yang melibatkan remaja putra.

Kegiatan awal berupa kajian yang dirasakan monoton, berkembang menjadi menarik karena diterapkan dengan cara: Simulasi ibu hamil dengan mengikatkan barbel seberat 4 kg ke perut remaja putri, kemudian diminta untuk beraktivitas di luar rumah. Kegiatan ini bertujuan untuk memahamkan betapa berat beban seorang wanita hamil, apalagi jika kehamilan itu tidak pernah diinginkan. Pemberian sugesti atau Neuro Linguistic Programming Pemberian edukasi tentang kehamilan yaitu persiapan kehamilan, pencegahan dan deteksi anemia, minum tablet dambah darah, pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA), nobar film motivasi. Pelibatan orang tua dalam asuhan terpadu sehingga komunikasi dan kedekatan dengan anak terjalin lebih baik. Pelibatan multistakeholder sebagai motivator dan pemateri yaitu Kepolisian, KUA, Pemerintah Desa, Penyuluh KB, TP PKK Desa dan Kecamatan, serta Ormas. Pemberian ketrampilan tambahan kepada remaja sebagai life skills.

Dampak yang diperoleh dari inovasi ini antara lain menurunnya kasus pernikahan dini pada remaja dengan sangat signifikan. Demikian pula dengan kasus kehamilan tidak diinginkan dan kasus komplikasi kebidanan. Sedangkan jumlah remaja sasaran yang mendapatkan edukasi, cakupan remaja terpantau status gizinya dan cakupan pemberian tablet tambah darah semakin meningkat. Pada masa pandemi ini Putri Ceria beradaptasi melakukan pertemuan tatap muka dengan menerapkan prokes dan melalui sistem daring yaitu WA grup.

Inovasi ini tetap akan berlanjut karena efektif untuk mengatasi permasalahan kasus pernikahan dini dan KTD. Sedangkan dukungan dari berbagai pihak dalam keberlanjutan inovasi dapat dilhat dari strategi institusional, strategi manajerial dan strategi sosialnya. Transferabilitas inovasi ini sangat potensial karena biaya yang murah, strategi mudah, dan stakeholder di semua daerah relatif sama. Hanya kemauan dan komitmen untuk saling berbagi dan peduli pada generasi muda yang akan membuat inovasi ini sukses.