07 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

RAT HUNTER

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Grobogan

UPP: Dinas Pertanian

Wilayah: Grobogan

Penghargaan: TOP 45/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan

Tag: lahan sawah, hama, kelompok tani

Kabupaten Grobogan memiliki lahan sawah seluas 83.833 ha, merupakan penyangga pangan beras tingkat nasional nomor 7 dan tertinggi di Jawa Tengah. Kabupaten Grobogan juga penghasil jagung dan kedelai terbesar di Jawa Tengah dengan konstribusi 33,3% untuk jagung dan 34% untuk kedelai.

Tikus sawah merupakan salah satu hama utama yang sulit dikendalikan. Berbagai upaya pengendalian mulai dari pengemposan, pengasapan, gerakan pengendalian massal, pengumpanan, dan penggunaan perangkap tidak efektif. Tahun 2009 Pemerintah Kabupaten Grobogan membuat inovasi pengendalian hama tikus dengan memanfaatkan predator alami burung hantu spesies Tyto alba sebagai pemburu tikus (Rat Hunter).

Penggunaan predator Tyto alba dapat memburu tikus secara berkelanjutan, ramah lingkungan, serta lebih efektif dan efisien. Pengembangan Tyto alba didukung dengan sistem kandang karantina pada setiap penambahan lokasi baru Rumah Burung Hantu (Rubuha) yang jauh lokasinya, dan pemberdayaan Regu Pengendali Hama (RPH) untuk pengembangan, pemeliharaan, serta pengawasan burung hantu dan Rubuha. Lokasi Rubuha yang sudah optimal digunakan oleh kelompok tani lain sebagai lokasi edukasi dan studi banding.

Komponen inovasi terdiri dari: 1) Burung hantu Tyto alba, yang memiliki karakteristik hanya mau memangsa tikus; 2) Kandang karantina, berfungsi untuk menangkarkan burung hantu pada lokasi pengembangan, perawatan burung sakit atau anakan, dan setelah dewasa/sehat dilepasliarkan ke alam; dan 3) Rubuha, merupakan sarang buatan sebagai rumah burung hantu di areal persawahan.

Inovasi Rat Hunter telah memberikan dampak positif. Jumlah Rubuha meningkat dari 85 unit (2011) menjadi 944 unit (2020), Intensitas serangan hama tikus menurun dari 60-90% (2011) menjadi 20-30% (2020), dan luas serangan tikus menurun dari 990 ha (2011) menjadi 137 ha (2020). Secara tidak langsung, inovasi berdampak terhadap peningkatan produksi padi dari 574.671 ton GKG (2011) menjadi 806.139 ton GKG (2020) dan peningkatan produksi jagung dari 502.212 ton (2011) menjadi 771.957 ton (2020).

Pemerintah Kabupaten Grobogan mendorong keberlanjutan inovasi dengan strategi:
1) Mendorong pemerintah desa menerbitkan Peraturan Desa tentang pelestarian dan pemanfaatan Tyto alba; 2) Merancang Raperda tentang perlindungan dan pemanfaatan Tyto alba; 3) Mendorong RPH melakukan pemeliharaan Rubuha secara swadaya; 4) Meningkatkan peran tokoh masyarakat untuk menggerakkan pembuatan Rubuha; 5) Melakukan sosialisasi secara terus-menerus kepada para petani; 6) Menerapkan SOP pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan; dan 7) Meningkatkan populasi Tyto alba.

Sampai saat ini inovasi Rat Hunter telah direplikasi antardesa antarkecamatan dan berpotensi untuk direplikasi di seluruh Indonesia, karena Tyto alba merupakan satwa asli Indonesia yang mudah beradaptasi dan dikembangkan. Rubuha dan kandang karantina mudah dibuat secara sederhana, dengan bahan murah dan mudah diperoleh.

BELL BOX TB BERKESAN: Berantas dan Eliminasi Penyakit Tuberkulosis melalui Bell Box Dering Kesembuhan

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Gunung Mas

UPP: Dinas Kesehatan

Wilayah: Gunung Mas

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: kesehatan, tuberkolosis, pendidikan, puskesmas

Salah satu masalah yang dihadapi Kabupaten Gunung Mas dalam bidang kesehatan adalah jumlah penderita Tuberkolusis ditemukan cukup banyak. Pada tahun 2016 ditemukan 77 kasus, tahun 2017 ditemukan 133 kasus dan tahun 2018 dengan 193 kasus. Beberapa hal penyebab banyaknya kasus antara lain rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat, masih banyak daerah dalam kategori lokasi terpencil, dan angka drop out yang cukup tinggi akibat ketidakpatuhan meminum obat. Tentunya penemuan kasus yang banyak ini harus dikelola dengan pendekatan yang baik sehingga angka kesembuhan meningkat. Melihat kondisi yang ada, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan melakukan terobosan dengan membuat sebuah inovasi yang bernama “Bell Box TB Berkesan: Berantas dan Eliminasi Penyakit Tuberkulosis Melalui Bell Box Dering Kesembuhan” yang dilakukan pada akhir tahun 2018 pada 1 Desa dengan 2 kasus.

Keunikan dari inovasi ini terletak pada 2 aspek yaitu:
Aspek pengawasan. Sebelumnya untuk pengawas lebih menitikberatkan pada keluarga sebagai PMO (Pengawas Meminum Obat). Pada inovasi ini PMO dilakukan oleh dua pihak yaitu keluarga dan tenaga kesehatan.
Aspek sarana. Dari sebelumnya tanpa sarana penunjang, pada inovasi ini digunakan beberapa sarana penunjang seperti jam waker, kalender pengobatan dan boks/kotak. Pelaksanaan program inovasi ini diawali dengan penentuan sasaran, kunjungan rumah untuk meminta kesediaan anggota keluarga sebagai PMO. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan edukasi kepada sasaran dan PMO tentang inovasi ini.

Inovasi ini mulai diterapkan pada skala lokal di Desa Rangan Hiran wilayah Puskesmas Tumbang Masukih. Inovasi ini berdampak positif terhadap perkembangan 2 pasien di Desa Rangan Hiran, sehingga keduanya sembuh tepat waktu.

Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan memandang perlu untuk menerapkan inovasi ini pada skala yang lebih besar di 17 Puskesmas yang ada di Kabupaten Gunung Mas. Beberapa hal yang telah dilakukan antara lain dengan mengeluarkan surat Kepala Dinas Kesehatan perihal penerapan Inovasi Bell Box TB Berkesan di semua Puskesmas, Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan tentang kewajiban pemberlakuan Inovasi “Bell Box TB Berkesan” di setiap wilayah kerja Puskesmas, menerapkan SOP Pengawas Menelan Obat, dan sosialisasi ke seluruh Puskesmas.

Dalam masa pandemi penerapan inovasi ini menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Sebelum pandemi, porsi kehadiran dan pengawasan fisik seorang PMO adalah 40% tenaga kesehatan dan 60% keluarga. Sedangkan pada masa pandemi, porsi kehadiran fisik dikurangi menjadi 20% tenaga kesehatan dan 80% keluarga. Kehadiran fisik tenaga kesehatan masih tetap diperlukan untuk memberi edukasi, efek psikis dan memotivasi ketaatan penderita minum obat.