Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
KAS ANAK KASIR, ANAK PELORENA, ANAK LAPAS (Sebuah Model Pemberdayaan Anak-Anak Marjinal di Bidang Pendidikan)
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Deli Serdang
UPP: Dinas Pendidikan
Wilayah: Sumatera Utara
Penghargaan: TOP 99/2021
Tahun: 2021
Kategori SDG’s: Pendidikan Berkualitas
Tag: pendidikan, pesisir, sekolah, putus sekolah
Kas Anak Kasir, Anak Pelorena, Anak Lapas (Kembali Bersekolah Anak Kawasan Pesisir, Anak Penghuni Loka Rehabilitasi Narkoba, Anak Lembaga Permasyarakatan) adalah inovasi Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk meningkatkan akses layanan pendidikan bagi masyarakat yang mengalami masalah sosial dan kaum marjinal. Inovasi ini bagian dari Gerakan Kembali Bersekolah yang dicanangkan Bupati Deli Serdang H. Ashari Tambunan tanggal 7 Maret Tahun 20Inovasi ini dilatarbelakangi tingginya angka putus sekolah di kawasan pesisir Pantai Labu Deli Serdang karena anak harus bekerja membantu ekonomi orang tua sebagai nelayan, tukang cuci sampan, pekerja kandang ayam, pembantu rumah tangga, dan berbagai pekerjaan kasar lainnya. Selain itu, anak penghuni Loka Rehabilitasi Narkoba dan anak penghuni Lapas tidak mendapatkan layanan pendidikan dan putus sekolah.
Kebaruan dari inovasi ini meliputi sasaran program, yang menyasar anak-anak yang memiliki masalah sosial dan kaum marjinal. Anak-anak tersebut dapat belajar di mana saja: di pinggir pantai, di Loka Rehabilitasi dan bahkan di Lapas/penjara, dengan menghadirkan tokoh inspiratif untuk menginspirasi anak-anak agar kembali bersekolah. Dalam inovasi ini, anak-anak diberikan pendidikan kecakapan hidup (life skills). Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, Kepala Loka Rehabilitasi, Kepala Lapas, dan Masyarakat melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Implementasi dari inovasi ini diawali dengan penyediaan anggaran dari APBD, sosialisasi Program Kembali Bersekolah bagi anak, koordinasi program dengan Kepala Loka Rehabilitas dan Kepala Lapas (termasuk penandatanganan MoU), pemberian bantuan alat pembelajaran dan beasiswa kepada siswa, dan pelaksanaan pembelajaran, kelas inspirasi, pendidikan kecakapan hidup, dan pendidikan karakter.
Dari inovasi ini, sebanyak 100 anak kawasan pesisir, 10 anak Loka Rehabilitasi dan 18 anak Lapas kembali bersekolah. Sebagiannya telah lulus dan mendapatkan ijazah. Dengan dilaksanakannya Gerakan Kembali Bersekolah, terjadi peningkatan siswa kembali bersekolah dari 6.321 anak pada tahun 2017 menjadi 8.894 orang pada tahun 2021 atau meningkat 28,92%. Selain itu, indikator kinerja pendidikan dalam bentuk Angka Partisipasi Kasar, Angka Partisipasi Murni, Angka Melanjutkan, dan Angka Putus Sekolah turut meningkat. Begitu pula motivasi bersekolah siswa, hingga akhirnya siswa lebih siap memasuki dunia kerja.
Keberlanjutan dari inovasi ini ditopang secara institusional melalui Perda No 5 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Peraturan Bupati No 85 Tahun 2017 tentang Gerakan Kembali Bersekolah dan Keputusan Kadisdik tentang Tim Gerakan Kembali Bersekolah. Secara sosial, kolaborasi antara Pemkab Deli Serdang dengan Kepala Loka Rehabilitasi, Kepala LAPAS dan Masyarakat turut menopang sustainability inovasi. Selain itu, secara manajerial didukung pula dengan peningkatan kapasitas SDM melalui pemberian beasiswa bagi siswa dan mahasiswa S1 dan SInovasi ini memiliki potensi untuk direplikasi di tempat lain dan telah direplikasi secara internal di Kabupaten Deli Serdang.
GL-Pro SASABESA (Gerakan Lansia Produktif Saiyo Sakato Beringin Sakti)
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Dharmasraya
UPP: Dinas Sosial P3APPKB
Wilayah: Sumatera Barat
Penghargaan: TOP 45/2021
Tahun: 2021
Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan
Tag: pemberdayaan masyarakat, lansia
Lansia pada umumnya identik dengan penurunan fisik, mental, sosial dan ekonomi dan adanya paradigma masyarakat yang keliru menilai bahwa lansia merupakan kelompok lemah, sakit-sakitan, tidak berpenghasilan/produktif, tidak berdaya guna/ tidak ada manfaat dan menjadi beban bagi keluarga. Jumlah Lansia di Kabupaten Dharmasraya 18.372 jiwa atau 8,3% dari penduduk Dharmasraya yang berjumlah 222.305 jiwa. Jumlah Lansia di Jorong Beringin Sakti sebanyak ±550 jiwa (10,83% dari jumlah penduduk 5.079 jiwa) dan 45%-nya berada di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, per tahun 2018, kunjungan lansia sakit ±240 orang/tahun.
Solusi terhadap permasalahan di atas yakni menyatukan berbagai ide dan gagasan guna pengembangan potensi lansia agar tetap produktif diusia senja dengan menerbitkan inovasi pemberdayaan masyarakat agar “Lansia Mandiri, Tangguh, Sehat dan Berdaya Guna” yakni dengan memberdayakan lansia secara maksimal dan terorganisir melalui inovasi “GL-Pro SASABESA”. Keunikan dari inovasi GL-Pro SASABESA adalah kegiatan pemberdayaan Lansia yang dilaksanakan: a) dari lansia, oleh lansia dan untuk lansia itu sendiri; b) lansia menjadi agen perubahan; dan c) melibatkan banyak pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal.
Lansia yang tergabung dalam GL-Pro SASABESA diwajibkan melakukan proses asesmen untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kemandirian lansia. Kegiatan ini juga disesuaikan dengan minat dan bakat lansia. Jenis dan bentuk kegiatannya meliputi:
Jenis Kegiatan Bentuk Kegiatan
Pelatihan Keterampilan Sekolah Lanjut Usia SASABESA
Keagamaan Pengajian, Wirid
Kesehatan Posyandu Lansia, Olah Raga dan Pemeriksaan Kesehatan
Perikanan Budi daya ikan nila, gurami, lele
Peternakan Budi daya ayam kampung, bebek
Pertanian Jagung dan sayur-sayuran
Kebahagiaan Rekreasi lansia, menari, menyanyi, bermain alat musik
Peningkatan ekonomi UMKM, pasar tradisional, pameran-pameran
Selama Pandemi Covid-19, kegiatan GL-Pro SASABESA tetap dilaksanakan dengan mempedomani protokol kesehatan.
Inovasi ini memberikan dampak positif bagi lansia seperti tergambar pada tabel berikut:
Sebelum Inovasi Setelah Inovasi
Kunjungan rata-rata lansia yang sakit ke Fasyankes per bulan 20 orang Terjadi penurunan jumlah kunjungan sakit lansia ke Fasyankes sebesar 95 persen atau sebanyak 2-3 orang per bulan
Lansia tidak mempunyai penghasilan Memiliki penghasilan tambahan dari hasil kerajinan dan keterampilan lansia sebesar Rp 200.000 per bulan
Lansia sering sakit-sakitan Lansia sehat dan aktif
Lansia menjadi beban bagi Keluarga Lansia yang produktif
Untuk berlanjutnya kegiatan ini, maka pemerintah membuat kebijakan: Penetapan Inovasi GL-Pro SASABESA sebagai Inovasi Daerah Kabupaten Dharmasraya Tahun 2021 dengan SK Bupati Dharmasraya Nomor 189.1/186/KPTS-BUP/2021; Memasukkan inovasi GL-Pro SASABESA ke dalam Program Prioritas dalam RPJMD Kabupaten Dharmasraya 2021-2026; dan Pemanfaatan Dana Desa guna pelaksanaan kegiatan.
Sampai saat ini GL-Pro SASABESA telah direplikasi di 17 jorong/nagari.
