07 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

ATRAKTIF dalam Integrated Ecofarming (Aksi Microbachter Alfaafa Mengubah Lahan Kritis menjadi Produktif dalam Integrated Ecofarming)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Bangka Barat

UPP: Dinas Pertanian dan Pangan

Wilayah: Bangka Belitung

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Ekosistem Daratan

Tag: lahan kritis, pertanian, produktif

ATRAKTIF dalam Integrated Ecofarming adalah inovasi yang lahir sebagai sumbangsih bidang pertanian dalam mengubah lahan kritis menjadi produktif. Lahan kritis menjadi permasalahan berkepanjangan bagi daerah penghasil tambang seperti Kabupaten Bangka Barat. Jumlah lahan kritis di Kabupaten Bangka Barat seluas 24.217 hektar. Lahan kritis dikenal sebagai lahan yang miskin hara, membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit untuk mengolah lahan, sehingga masyarakat pesimis lahan kritis masih bernilai.

Inovasi ini menggunakan MA-11 yang merupakan superdecomposer microba aktivitas tinggi (un-aerob), yang mampu merombak semua materi organik dalam tempo yang sangat cepat. MA-11 merombak limbah pertanian menjadi pupuk, pakan, dan mengembalikan unsur hara tanah. Pada lahan ekstrim sekalipun, dapat dibangun lahan pertanian yang berdampingan dengan peternakan dan perikanan sekaligus, sehingga terciptalah integrated ecofarming. Inovasi ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya Kelompok Tani, Kelompok Ternak, dan Kelompok Pembudidaya Ikan. Inovasi ini tidak menghasilkan limbah, karena seluruh limbah dapat diolah dan bermanfaat tepat sasaran, from zero value with zero waste get great value.

Inovasi dirintis sejak tahun 2017 dengan didirikan mini lab unit produksi MA-11 pertama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan (P4S) yang sudah mendapat predikat Kelas Utama dari Kementerian Pertanian. Kelompok Tani Makmur tempat pelaksanaan inovasi ini mendapat predikat klaster terbaik 1 Nasional Bank Indonesia Award. Produksi MA-11 dipasarkan hingga ke luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Inovasi bergerak dari hulu ke hilir dan berhasil sebagai aktualisasi kemandirian petani sesungguhnya di masa pandemi.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berkomitmen untuk keberlanjutan inovasi dengan perluasan replikasi, membuat regulasi, menjalin kemitraan kerja sama penelitian, pengembangan pertanian organik, dan kolaborasi penta-helix. Replikasi inovasi dilakukan dengan pola edukasi berkelanjutan, pelatihan, farm field day, rembug tani, dan pendampingan kontinyu. Inovasi ini berpotensi direplikasi mengingat kondisi daerah yang relatif sama (daerah tambang di dalam maupun di luar Kabupaten Bangka Barat), mudah untuk diadopsi, biaya murah, SOP lengkap, pelatihan dan pendampingan kontinyu, dan tidak terbatas pada lahan kritis saja.

Inovasi ini terbukti efektif mengubah lahan kritis menjadi produktif, terdapat ±20 hektar di Kabupaten Bangka Barat, dan ±5400 hektar di luar Kabupaten Bangka Barat lahan kritis yang sudah produktif dari hasil mereplikasi inovasi ini. Stigma masyarakat yang awalnya pesimis kini berubah menjadi optimis. Dengan Integrated Ecofarming, masyarakat mendapat pemasukan ekonomi dari berbagai produk sekaligus. Inovasi ini dapat menjadi jawaban tantangan ketahanan pangan masa depan dan sebagai solusi alternatif sumber pertumbuhan ekonomi baru pasca tambang.

Inovasi GEBRAKs Penghapusan Jamban Terapung

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Banjar

UPP: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Wilayah: Kalimantan Selatan

Penghargaan: TOP 45/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Air Bersih dan Sanitasi Layak

Tag: akses sanitasi, jamban terapung, pencegahan stunting, kesehatan

Isu strategis yang menjadi permasalahan utama di kawasan permukiman tradisional tepian sungai adalah akses sanitasi yang rendah berakibat pencemaran sungai. Kadar e-coli yang melebihi ambang batas, salah satunya bersumber dari kotoran manusia yang langsung dibuang ke sungai, ditandai dengan keberadaan ribuan jamban apung di Sungai Martapura. Dari 290 desa/kelurahan di Kabupaten Banjar, terdapat 169 Desa/Kelurahan masyarakatnya bermukim di kawasan tersebut dengan memanfaatkan sungai untuk keperluan rumah tangga (buang air besar/mandi/cuci) di atas jamban apung.

Inovasi GEBRAKS (Gerakan Bersama Realisasi Akses Sanitasi) sebagai upaya pemecahan permasalahan dengan suatu gerakan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dengan tujuan gerakan yang ingin dicapai yaitu:
Mengurangi pencemaran air sungai Martapura;
Mewujudkan partisipasi aktif Pemerintah Pusat, Kabupaten, dan Desa, TNI/POLRI, BUMD, swasta serta lembaga keswadayaan masyarakat;
Meningkatkan akses capaian sanitasi Kabupaten Banjar.

Inovasi ini memberikan akses sanitasi gratis dengan segmen masyarakat berpenghasilan rendah yang buang hajat di jamban apung. Setelah dibangunkan infrastruktur sanitasi maka dilakukan pertukaran dengan kesediaan masyarakat untuk membongkar sendiri jamban terapungnya. Inovasi ini menciptakan wadah baru bagi stakeholder terkait, khususnya masyarakat penerima manfaat dengan membentuk kelompok swadaya masyarakat sebagai mitra pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, serta kolaborasi pendanaan pembangunan jamban yang aman antara Dinas PUPR dan pemerintah desa, dan layanan pengelolaan air limbah (sedot lumpur tinja) berbiaya rendah yang menjadi peluang usaha bagi BUMDES dan KPP.

Dalam implementasi penanganan pandemi COVID-19, upaya mewujudkan physical distancing yang optimal dilakukan dalam hal menggunakan formula baru infrastruktur akses sanitasi yang dibangun yaitu pembangunan tangki septik individual di rumah masing-masing, yang sebelumnya menggunakan pengolahan air limbah komunal (MCK komunal) yaitu penggunaan tempat mandi, cuci dan kakus secara bersama-sama oleh warga masyarakat.

Inovasi ini berdampak positif, ditandai dengan masyarakat membongkar jamban terapung secara swadaya dan kesadaran sendiri. Target penghapusan jamban terapung sebanyak 1.000 buah selama 5 tahun (2016-2020) dengan realisasi sebanyak 1.019 buah jamban terapung di tahun 2020, sehingga terjadi percepatan akses sanitasi dengan hasil tambahan panorama sungai di beberapa sungai terlihat bersih dan rapi. Jumlah kelembagaan swadya masayarakat di sektor sanitasi di desa juga semakin bertambah yaitu Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) Sanitasi 48 kelompok dan Wirausaha Sanitasi 5 kelompok.

Program ini berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan menjadi industri pariwisata susur sungai dengan tetap mempertahankan keaslian kawasan, menjadi lapangan usaha baru bagi BUMDES dalam kemandirian serta terobosan baru sebagai alternatif peningkatan pertumbuhan ekonomi guna menjadikan Kabupaten Banjar yang MANIS (Maju, Mandiri, Agamis).