07 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

IMACE (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports)

Jenis Instansi: Kementerian

Instansi: Kementerian Pertanian

UPP: Badan Karantina Pertanian

Wilayah: DKI Jakarta

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan

Tag: pertanian, ekspor, karantina, investasi, digital, aplikasi, web

Presiden Jokowi memberikan perhatian khusus terhadap investasi dan ekspor karena keduanya merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sejalan dengan arahan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program utama dalam meningkatkan ekspor pertanian melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (GRATIEKS).

Inovasi peta komoditas pertanian ekspor Indonesia atau Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (IMACE) lahir untuk mendorong tercapainya target GRATIEKS tersebut. IMACE menyajikan ragam potensi komoditas pertanian ekspor, negara tujuan, daerah sentra, pelaku usaha yang terlibat (eksportir), volume transaksi, juga analisa pasar lainnya, yang digunakan sebagai referensi dalam pengambilan keputusan dan pendekatan kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan komoditas pertanian ekspor berbasis kawasan.

IMACE menyajikan informasi dan metode baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam upaya peningkatan ekspor komoditas pertanian. Informasi tersebut diberikan melalui akses data potensi ekspor pertanian secara real-time berdasarkan sertifikasi ekspor karantina pertanian.

Melalui informasi yang disajikan IMACE, Kementan melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) bersama instansi terkait melakukan pemetaan potensi komoditas pertanian ekspor di daerah sentra dan melakukan upaya pemberdayaan masyarakat ekspor, baik dalam bentuk rumusan kebijakan maupun pendampingan langsung di 1.129 desa pendukung GRATIEKS.

Barantan bersama pemda juga memanfaatkan IMACE sebagai referensi informasi peta komoditas ekspor. Saat ini terdapat 9 pimpinan daerah yang telah bekerjasama dalam upaya percepatan ekspor komoditas pertanian yang berbasis kawasan.

Hal tersebut di atas terbukti efektif dalam upaya bersama mendorong ekspor pertanian. IMACE mencatat penambahan 90 komoditas ekspor baru pada tahun 2020, penambahan jumlah eksportir sebanyak 1.300 pelaku, serta turut memberikan dorongan peningkatan ekspor pertanian sebesar 33,33% (year-on-year).

IMACE tersaji dalam bentuk website dan aplikasi android (bebas akses). Telah digunakan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Pertanian, serta instansi pusat dan daerah sebanyak 54 akun (versi website). Dalam versi android, saat ini IMACE tercatat digunakan oleh 1.678 pengguna aktif, yang terdiri dari pengguna dalam negeri dan luar negeri. IMACE juga digunakan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di daerah sentra (desa pendukung GRATIEKS) berupa pendampingan, pelatihan dan bimbingan teknis ekspor lainnya.

Barantan selalu melakukan perbaharuan aplikasi IMACE secara berkala untuk meningkatkan interaksi dan kepuasan layanan pengguna instansi dan perorangan (sustainable growth). Kini IMACE juga tengah menjajaki kerjasama dengan marketplace (saat ini dengan Alibaba dan TaniHub) untuk memperluas jangkauan, jaringan, dan interaksi antara pengguna/ calon eksportir dengan pasar global. IMACE memilih desain sistem yang apik dan ringkas, sehingga sangat memungkinkan untuk adanya replikasi oleh instansi, lembaga, atau pihak lain, selain juga untuk mempermudah proses knowledge transfer.

Geoliterasi Bagi Penyandang Disabilitas Netra melalui Atlas Taktual

Jenis Instansi: Lembaga

Instansi: Badan Informasi Geospasial

UPP: Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas

Wilayah: DKI Jakarta

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan

Tag: peta, disabilitas, inklusif, disabilitas netra, geospasial

Badan Informasi Geospasial (BIG) bertugas sebagai penyelenggara Informasi Geospasial (IG) di Indonesia. Umumnya, IG berupa peta, baik dalam media cetak ataupun elektronik. Peta merupakan penggambaran secara visual objek-objek pada permukaan bumi yang tertuang dengan gradasi warna, berupa garis, titik, area, dan simbol lainnya. Sehingga, ketidakniscayaan bagi mereka penyandang disabilitas netra dapat membaca peta.

Kenyataannya, dengan menggunakan Peta Taktual, mereka penyandang disabilitas netra kini dapat membaca peta. Peta Taktual yang menggambarkan objek-objek sebagai media timbul, baik itu yang berupa titik, garis, maupun area, dilengkapi informasi dengan huruf braille, dapat diraba dan ‘dibaca’ oleh para penyandang disabilitas netra.

Sejalan dengan program Nawa Cita khususnya pembentukan karakter melalui kurikulum yang mengedepankan cinta tanah air dan semangat bela negara, Atlas Taktual diharapkan dapat meningkatkan kesadaran spasial yang penting dalam memahami suatu wilayah bagi penyandang disabilitas netra. Demikian juga program Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), dengan semangat no one left behind – tidak ada satu orang pun yang tertinggal termasuk penyandang disabilitas netra.

Para penyandang disabilitas netra umumnya mendapatkan informasi kewilayahan melalui buku pelajaran geografi atau IPS dan mendengarkan dari audio, sehingga tidak sepenuhnya memahami suatu wilayah secara komprehensif. Melalui Atlas Taktual, penyandang disabilitas netra bisa meraba bentuk, sebaran, posisi relatif antara satu lokasi dengan lokasi lain, dan ukuran relatif suatu objek, sehingga informasi kewilayahan dapat dipahami lebih komprehensif.

BIG terus mengembangkan Atlas Taktual dalam berbagai tema sejak 2010, antara lain wilayah administrasi provinsi/kabupaten/kota, transportasi, sebaran gunung dan sungai, bangunan bersejarah, pariwisata, dan industri. Selain itu, juga telah dibuat Peta Dunia Taktual yang menggambarkan lima benua, empat samudera, dan negara-negara di seluruh dunia dalam satu lembar peta taktual berukuran 85 cm x 60 cm.

Atlas ini telah diujicobakan dan disebarluaskan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Tipe A hampir di seluruh wilayah Indonesia. Atlas Taktual pun telah digunakan sebagai pelengkap dalam pembelajaran IPS atau Geografi di SLB Tipe A, dilengkapi Petunjuk Teknis Cara Membaca Atlas Taktual untuk memudahkan proses belajar mengajar. Selain itu juga telah disusun SNI 8310.1-2016 Penyajian Atlas Taktual (Tactile) sebagai pedoman dalam penyusunan atlas taktual oleh pihak lain.

Penyelenggaraan Atlas Taktual tidak terlepas dari kebijakan dan komitmen pimpinan BIG, yang telah tertuang dalam Renstra 2020-202Dengan semangat no one left behind dalam mengakses informasi geospasial yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, menjadikan komitmen BIG untuk terus memberikan pelayanan Informasi Geospasial yang terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat.