Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
INTAN ANGGUN (PINJAMAN TANPA BUNGA TANPA AGUNAN)
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Bangka
UPP: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bangka
Wilayah: Bangka Belitung
Penghargaan: Top 99/2022
Tahun: 2022
Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan
Tag: Efektifitas Institusi Publik untuk Mencapai TPB
Pada tahun 2004 Pemerintah Kabupaten Bangka merumuskan suatu program Pinjaman Tanpa Bunga Tanpa Agunan melalui program untuk kesejahteraan masyarakat yaitu “KELOMPOK KELAPA SAWIT RAKYAT (KKSR)”, pada tahap awal program ini melibatkan 125 KK dengan luas 250 hektar, progran tersebut berlanjut hingga tahun 2021 telah berkembang kebun KKSR seluas 1.392 hektar serta melibatkan sebanyak 697 kk.Harapan dengan adanya program KKSR, masyarakat dapat menjadi raja di daerahnya sendiri, bisa berinovasi dan berkreasi guna mewujudkan kesejahteraannya.
Program KKSR di Kabupaten Bangka memberikan pinjaman bunga tanpa agunan kepada petani yang melibatkan pihak perusahaan perkebunan sawit dan pihak Bank Syariah mandiri. Dampak yang dirasakan masyarakat penerima program KKSR melalui Bunga tanpa agunan, dimana kebun kelapa sawitnya sudah panen dan dibeli oleh perusahaan kelapa sawit dengan harga yang wajar dan sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh Gubernur setiap bulannya. Hasil panen petani KKSR dihargai, dibeli dan ditampung oleh perusahaan sehingga petani berinovatif memelihara kebunnya agar mendapat hasil yang banyak dan pada akhirnya taraf hidup para petani perkebunan sawit di Kabupaten Bangka dapat meningkat.
KOMPAK (Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi) LPPL Ampiang Parak
Jenis Instansi: Kementerian
Instansi: Kementerian Kelautan dan Perikanan
UPP: BPSPL Padang
Wilayah: Sumatera Barat
Penghargaan: Top 99/2022
Tahun: 2022
Kategori SDG’s: Ekosistem Lautan
Tag: Efektifitas Institusi Publik untuk Mencapai TPB
Program Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) merupakan program bagi kelompok masyarakat penggerak konservasi di wilayah Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil yang bergerak di bidang pengelolaan keanekaragaman hayati laut yang terancam punah dan/atau dilindungi serta kawasan konservasi dengan pendekatan Bottom-up melalui kegiatan pemberian bantuan, bimbingan/sosialisasi/pelatihan, serta pusat edukasi berbasis konservasi. Sebelumnya, kawasan Ampiang Parak merupakan daerah pantai gersang yang rawan abrasi dan diperparah dengan perburuan telur penyu oleh masyarakat. Dengan berdirinya LPPL Ampiang Parak serta hadirnya program KOMPAK berdampak signifikan terhadap lingkungan, sosial serta peningkatan ekonomi. Dari sisi lingkungan, saat ini kawasan Ampiang Parak merupakan kawasan hijau yang didominasi cemara laut dan mangrove, serta menjadi salah satu pusat peneluran penyu dengan tercatat sebanyak 2.985 butir telur penyu yang mendarat. Disisi lain, kawasan Ampiang Parak pun telah menjadi tujuan wisata dengan jumlah kunjungan rata-rata 1.000 – 1.500 orang/bulan bahkan saat peak season mencapai 50.000 orang/bulan serta menjadi lahan mata pencaharian bagi 50 KK yang berprofesi sebagai pedagang musiman. Program ini mendukung Program Prioritas Nasional 6 sekaligus mendukung capaian program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) poin 14. Program KOMPAK menjawab tantangan keterbatasan keterbatasan SDM, aksesibilitas dan anggaran pemerintah dalam mengelola Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil yang sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah yang memiliki keterbatasan aksesibilitas.
