Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
FROM ZERO TO HERO : “Membangun Generasi Cinta Sehat di Sekolah yang Siap Membangun Negeri : Tinjauan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Puskesmas Talagabodas Kota Bandung”
Jenis Instansi: Kota
Instansi: Pemerintah Kota Bandung
UPP: Dinas Kesehatan
Wilayah: Jawa Barat
Penghargaan: Top 35/2016
Tahun: 2016
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: Pelayanan Kesehatan, Kesehatan Remaja
Puskesmas Talagabodas berada di wilayah Kota Bandung. Di sekolah-sekolah terdapat Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah dengan menjadikan gaya hidupo sehat sebagai paradigm. Akan tetapi kegiatan UKS belum mem perlihatkan prinsip hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik belum memenuhi harapan. Perilaku hidup bersih dan sehat belum mencapai sasaran dan tingkat yang diinginkan. Sarana dan prasarana masih terbatas, pelaporan belum teratur, dan komitmen rendah. Kondisi ini diperburuk dengan pendanaan puskesmas dan sekolah yang sangat terbatas.
Puskesmas Talaga Bodas memperkenalkan inisiatif From Zero to Hero yaitu membentuk Tim UKS Tingkat Kecamatan yang dike tuai oleh Camat Lengkong dan mengajak partisipasi perusahaan untuk mendanai lewat program Corporate Social Responsibility (CSR). Inisiatif ini unik dan kreatif karena memiliki sistem yang berbeda dengan yang selama ini ada. Pertama, menyelenggarakan lomba setahun sekali. Kedua, memanfaatkan dana CSR dari bebrbagai perusahaan terkemuka. Ketiga, mereno vasi ruang Sekretariat UKS Kecamatan Lengkong. Keempat, mengajak seluruh sekolah berpartisipasi dalam program UKS. Kelima, mengalokasikan dana kesehatan swadaya anak sekolah dengan iuran Rp1.000 sehari untuk setiap orang. Keenam, memebuat pojok Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) sebagai sarana rujukan yang nyaman untuk para remaja bisa berkonsultasi di Puskesmas Talagabodas.
Sejak tahun 2013, dilakukan upaya mendorong UKS melalui pembinaan anak sekolah secara terintegrasi antara puskesmas dan sekolah. Dilakukan advokasi untuk ikut serta dalam perlombaan. Mendorong penciptaan dokter kecil dan kader kesehatan remaja. Membentuk koordinator sekolah sehat. Melaksanakan studi banding dengan adopsi pendekatan ATM (amati tiru modifikasi). Pengenalan permainan ular tangga raksasa untuk mengajarkan inovasi.
Meningkatnya perilaku hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik. Juga menciptakan lingkungan sekolah yang sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal. Setelah ada inovasi From Zero to Hero, telah banyak prestasi yang diraih sekolah-sekolah di Kecamatan Lengkong baik di tingkat daerah maupun nasional.
Keluaran yang paling berhasil adalah adanya pendekatan baru dalam pengelolaan UKS. Dimanfaatkannya teknologi informasi (WhatsApp group) dan partisipasi seluruh pihak yang terlibat. Cukup banyak prestasi pembinaan sekolah yang diraih SD, SMP, dan SMA selama tahun 2013-2015 pada tingkat Kota, Provinsi, dan Nasional.
Manfaat yang dihasilkan meliputi per baikan sarana dan prasarana serta peningkatan derajat kesehatan peserta didik dan peningkatan kualitas puskesmas dan sekolah di wilayah lain. Kunci keberhasilan yaitu komit men kuat, semangat juang tinggi, keinginan untuk maju, kemitraan, dan berwawasan ke depan. Pemanfaatan dana dari perusahaan menjadi salah satu kunci sukses kegiatan.
OMABA (Ojek Makanan Balita) – Penanganan Gizi Buruk Melalui OMABA dan COOKING CENTER di UPT Puskesmas Riung Bandung
Jenis Instansi: Kota
Instansi: Pemerintah Kota Bandung
UPP: UPT Puskesmas Riung Dinas Kesehatan
Wilayah: Jawa Barat
Penghargaan: Top 35/2016
Tahun: 2016
Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan
Tag: Gizi Buruk, Balita, Pelayanan Gizi
Kelurahan Cisaranten Kidul berada di Kecamatan Riung Bandung, Kota Bandung. Puskesmas Riung Bandung meupakan unit pelayanan kesehatan yang melayani penduduk Kelurahan Cisaranten.
Kasus gizi buruk merupakan permasala han utama di kelurahan tersebut, pada tahun 2013 ditemukan 22 kasus gizi buruk, 20 kematian bayi dan 1 kasus kematian ibu. Kualitas perumahannya memiliki komposisi rumah sehat (46,29%) dan rumah di bawah standar (53,71%). Kondisi kesehatan rumah ini diperburuk dengan kondisi kepala keluarga yang miskin sebesar 35,85 dan kepemilikan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (jamkesmas) sebesar 38,91%.
OMABA (Ojek Makanan Balita) dan Cooking Center (tempat pembuatan makanan) merupakan inovasi penanggulangan gizi buruk yang dilakukan Puskesmas Riung Bandung. OMABA memastikan makanan dikirim menggunakan motor ke Posyandu, dimakan oleh balita sasaran dan juga memvalidasi data berat badan dan tinggi badan/panjang badan balita dan dibantu oleh Petugas Gizi Puskesmas Riung Bandung. Menu yang dibuat terjamin keamanan (tanpa MSG dan pengawet) dan kebersihannya terjamin karena dibantu dan dibina oleh relawan gizi dari lulusan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Bandung.
Strategi pendistribusian dan pemberian makanan dilakukan secara langsung oleh OMABA ke rumah balita sasaran, dengan tujuan untuk memastikan bahwa makanan tersebut dikonsumsi sampai habis oleh balita sasaran. Selain itu adanya pembinaan dengan pelatihan memasak serta pela tihan konseling gizi kepada para kader di setiap RW untuk meningkatkan pengetahuan gizi. Dari segi menu selalu diadakan evaluasi setiap sebulan sekali sesuai kesukaan balita agar pemberian makanan ini optimal. OMABA bertujuan memberikan makanan sehat dan bermutu secara merata kepada bayi dan balita. Pada tahun 2015, inovasi ini memperoleh bantuan dana dari salah satu perusahaan besar.
Sebelum inovasi, masih banyak terjadi kasus gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Riung Bandung. Sesudah inovasi, terjadi perubahan signifikan balita sehat, diminati masyarakat, sinergi pendanaan pemerintah dan swasta, kesehatan bayi dan balita makin baik, dan minat masyarakat datang ke Puskesmas makin besar. Berkurangnya kasus gizi buruk di Kelurahan Cisaranten Kidul, indikator hasil pemulihan kesehatan yang baik, peningkatan balita datang ke Posyandu dengan berat badan naik 75% tahun 2015, perbaikan gizi balita, dan kolaborasi pemberdayaan masyarakat.
Perbaikan status gizi balita, pember dayaan masyarakat untuk menangani masalah ke sehatan masyarakat khususnya penanggulangan gizi buruk. Sinergi petugas, pemangku kepentingan, dan pakar, menentukan keberhasilan inovasi ini. Edukasi kepada masyarakat/kader penting dalam mendorong pelayanan berkualitas, efisien, dan efektif. Pengenalan konsep baru, adap tasi, dan inovasi dinamis, dari proses ATM (amati, tiru, dan modifikasi) terbukti mampu menyelesaikan permasalahan gizi buruk.
