30 Jan, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

Si MaNEiS (Sidoarjo Maternal dan Neonatal Emergency SMS GATEWAY)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Sidoarjo

UPP: RSUD

Wilayah: Jawa Timur

Penghargaan: Top 99/2016

Tahun: 2016

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: Pelayanan Kesehatan, Pelayanan RS, Pelayanan Kegawatdaruratan

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sidoarjo merupakan rumah sakit rujukan di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Kota Pasuruan dan Kota Mojokerto. Rumah sakit melayani rujukan kelahiran (maternal) dan perawatan bayi (neo natal). Salah satu tahap dalam merujuk pasien adalah mengoordinasikan terlebih dahulu pasien yang akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang menerima rujukan. Sistem rujukan yang terdapat di RSUD Kabupaten Sidoarjo salah satunya adalah rujukan untuk maternal dan neonatal (bayi usia ≤ 28 hari) dengan tingkat permintaan yang cukup tinggi. Pada tahun 2012, data pasien rujukan peristi (Ibu dan Bayi yang berisiko tinggi) menunjukkan jumlah ibu hamil yang datang sendiri sebanyak 438 pasien, yang datang sendiri membawa rujukan sebanyak 902 pasien, dan yang diantar petugas sebanyak 1240 pasien. Sistem ini berjalan kurang efektif karena pengiriman pasien dari berbagai tempat dilakukan tanpa menghubungi RSUD Kabupaten Sidoarjo terlebih dahulu, sehingga tenaga kesehatan kurang siap dalam merawat pasien. Hal ini menyebabkan keterlambatan pelayanan, waktu perawatan yang lebih lama, kondisi sakit memburuk (morbiditas), dan kematian ibu dan bayi. Keterlambatan penyampaian informasi awal rujuk an ini dikarenakan karena beberapa kendala. Semua panggilan telepon dari luar hanya diterima oleh satu operator dan komunikasi antara operator dan Ruang Maternal Neonatal Emergency (MNE) tidak lancar.
RSUD Kabupaten Sidoarjo menerapkan dan mengembangkan inovasi berbasis jejaring informasi yang terorganisir secara tepat, ce pat, efektif, efisien pada rujukan maternal neonatal, diberi nama SIMANEIS (Sidoarjo Maternal Neonatal Emergency SMS Gateway). Inovasi SIMANEIS berbasis teknologi informasi yang dapat diakses oleh semua bidan, klinik Rumah Bersalin, Puskesmas dan rumah sakit lain yang telah terdaftar. Rujukan dapat dilakukan dengan mengirimkan sms ke SIMANEIS call center, dan terdengar bunyi sirene yang tidak akan berhenti sebelum SMS diterima. Sms rujukan ini akan direspon langsung oleh petugas Maternal Neonatal Emergency (MNE) disertai advis tindakan prarujukan yang harus dilakukan oleh pihak perujuk. Strategi inovasi adalah dengan membuat software SMS Gateway bekerja sama dengan program donor asing dan diseminasi terus menerus. Proses uji coba dimulai sejak Agustus 2013 dan bero perasi 12 November 20Dilakukan bimbingan teknis kepada 8 puskesmas proyek percontohan dan lebih dari 800 bidan praktik mandiri, klinik bersalin, dan rumah sakit swasta.
Sebelum ada SIMANEIS, rujukan dari puskesmas ke RSUD Sidoarjo tidak lancar, karena hubungan telepon sangat terbatas. Sesudah SIMANEIS dioperasikan, penanganan rujukan berjalan lancar dan cepat, pelayanan publik makin berkualitas, dan kepuasan masyarakat meningkat. SIMANEIS meningkatkan kualitas ko munikasi menjadi lebih cepat dan murah. Kesiap siagaan petugas meningkat karena pencatatan data berlangsung cepat dan akurat Kondisi ini memudah kan Audit Maternal Perinatal (AMP) serta kemudahan informasi advis dari dokter spesialis Obsgyn, spesialis anak, spesialis gawat darurat karena dapat diberikan secara elektronik. SIMANEIS meningkatkan kualitas pe layanan, mempercepat waktu respon, meningkatkan kenyamanan pasien, pemrosesan data berlangsung lebih cepat dan akurat, risiko kematian menurun, dan meningkatkan kepuasan masyarakat. SIMANEIS juga memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram kepada pasien dan keluarganya.
Pembelajaran dari SIMANEIS adalah dengan penerapan teknologi informasi dapat mendorong pelayanan yang lebih baik, lebih cepat dan lebih tepat. Inovasi ini berpeluang diterapkan pada pelayanan penyakit lain yang berisiko tinggi. SIMANEIS telah direplikasi di 14 Rumah Sakit dan dimanfaatkan oleh 26 Puskesmas dan lebih dari 800 tenaga kesehatan di Kabupaten Sidoarjo.

Percepatan Penanganan Masalah Gizi Melalui Rumah Pemulihan Gizi

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Situbondo

UPP: Dinas Kesehatan

Wilayah: Jawa Timur

Penghargaan: Top 99/2016

Tahun: 2016

Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan

Tag: Gizi Buruk, Balita, Pelayanan Gizi

Status gizi digunakan sebagai salah satu indikator dalam pembangunan kesehatan. Masalah gizi masyarakat Situbondo, yaitu Kurang Energi Protein (KEP), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A (KVA), dan Anemia Gizi Besi. Dalam penanganan masalah gizi, Dinas Kesehatan diangggap tidak berbuat, status gizi balita prevalensi KEP 18,4% (2014) dari 21,3% (2013). Angka ini di atas rata-rata Jatim dan belum mencapai target sebesar 15%. Proporsi balita stunting 41% (2013) menjadi 29% (2014). Kemunculan kasus balita penderita Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmic Kwashiorkor akibat kekurangan energi dan protein.
Dinas Kesehatan menerapkan Rumah Perbaikan Gizi (RPG) sejak bulan Maret 2014 sebagai pusat rehabilitasi gizi yang melayani secara komprehensif balita gizi buruk dan gizi kurang, gangguan kekurangan yodium, dan berdasarkan kondisi individual anak, keluarga dan masyarakat. Metode penanganan kekurangan gizi terdiri dari tahapan screening gizi bayi balita, GAKY, gizi bumil, yang kemudian diperiksa dan terapi. Juga dilakukan integrasi pelayanan kesehatan lain yang mendukung status gizi, yaitu pemeriksaan spesialis, tumbuh kembang, psikolog, konseling terkait menyusui, dan pemberian makanan anak, terapi medis, fisioterapi, akupuntur, dan akupressure. Peningkatan mutu pelayanan secara terus menerus. Penyediaan anggaran melalui APBD dan CSR memadai untuk menopang kegiatan. Tim evaluasi kualitas pelayanan dibentuk untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Sebelum inovasi, timbul masalah kekurangan gizi. Setelah inovasi, masyarakat kekurangan gizi berkurang jumlahnya. Pada tahun 2015 Bupati Situbondo kembali mendapat anugerah Gizi Award Persagi Jatim kategori penggagas penanganan masalah gizi melalui RPG. Setelah ada inovasi berhasil dilakukan penanganan keluhan terkait tumbuh kembang anak dan malnutrisi. Tersedianya unit pengelola pengaduan melalui website Dinkes dan morning call. Pemberian terapi gizi memanfaatkan bahan makanan lokal dari pekarangan. Terapi gizi formula 75 dan formula 100 yang dikemas menarik. Pelaksanaan screening akibat kekurangan yodium dengan diagnosa individual melalui pemeriksaan laboratorium. Sebanyak 357 penderita masalah gizi terlayani. Meningkatkan efisiensi anggaran. Terapi dan screening sesuai tahapan kegiatan yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Penyediaan alat dengan dana APBD sebesar Rp. 160 juta.
Kesediaan pengelola isu kesehatan untuk dikritik, dan kemudian memperbaiki pelayanan yang langsung mengurai masalah sam pai ke akarnya merupakan kunci sukses inovasi ini. Hubungan semakin erat dan saling percaya antara penanggung jawab, penyelenggara, dan pelaksana pelayanan publik dengan masyarakat pengguna.