30 Jan, 2026

Direktori Inovasi

4 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Kulonprogo

UPP: Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDPKB)

Wilayah: DI Yogyakarta

Penghargaan: Top 99/2016

Tahun: 2016

Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan

Tag: Pemberdayaan Masyarakat, Pengentasan Kemiskinan, Bantuan Sosial

Kabupaten Kulon Progo terletak di sebelah Barat Kota Yogyakarta dengan luas 586,28 km2 dikenal sebagai kabupaten yang memiliki banyak penduduk miskin. Memiliki 12 kecamatan dan 87 desa dengan mayoritas daerah perbukitan, menyulitkan petani menanam padi, sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) kecil. Kemiskinan di Kabupaten Kulon Progo disebabkan karena terbatasnya lapangan pekerjaan, terbatasnya kegiatan wirausaha, dan kemiskinan keluarga. Proporsi penduduk miskin mencapai 36% dari total penduduk.
Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melakukan inovasi Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) sebagai bagian dari Pos Pemberdayaan Keluarga dengan sembilan kegiatannya yaitu Posyandu, Pengajian, Kelompok Tani, PAUD, Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga Lansia, PKK, Karang Taruna dan KAKB. KAKB memfokuskan kegiatan pada pemberantasan kemiskinan pada Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Miskin Absolut. Strategi yang dilakukan: Pendampingan, penyuluhan, dilaksanakan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan.
Sebelum inovasi, banyak kepala keluarga tidak memiliki mata pencaharian tetap dan jiwa wirausaha. Sesudah inovasi, jumlah keluarga Pra Sejahtera yang berwirausaha meningkat dan kemiskinan cenderung menurun. Setelah inovasi meningkatnya bimbingan, pendampingan, penyuluhan, dan fasilitas wirausaha keluarga berupa warung, pertanian, ternak, perikanan, makanan, kerajinan, dan jasa. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Meningkatnya peran perusahaan untuk membantu inovasi. Keluarga Sejahtera memiliki kepedulian terhadap Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Miskin Absolut di lingkungannya. Keluarga Pra Sejahtera makin menyadari dan memiliki motivasi untuk berwirausaha. Usaha yang dilakukan oleh Keluarga Pra Sejahtera ini secara langsung maupun tidak langsung telah meningkatkan pendapatan keluarga, dan akan berpengaruh positif terhadap fungsi keluarga yang lain
Pemberdayaan ekonomi Keluarga Pra Sejahtera dan keluarga Absolut Miskin dapat dilaksanakan dengan program yang terpadu berupa pelatihan, pendampingan dan pemberian modal usaha. Dukungan pembinaan, pelatihan, dan kesempatan untuk berwirausaha telah mampu membangkitkan semangat keluarga miskin untuk memberdayakan diri.

MBAK RITA (Tambak Direvitalisasi)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

UPP: Dinas Kelautan dan Perikanan

Wilayah: Kalimantan Timur

Penghargaan: Top 35/2016

Tahun: 2016

Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan

Tag: Budidaya Pertanian, Petani Rumput Laut

Kutai Kartanegara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Sumber daya alam melimpah seperti batu bara dan minyak bumi, tetapi tingkat kemiskinan masih tinggi. Di Kelurahan Muara Sembilang, Kecamatan Samboja terdapat banyak tambak terlantar, dari luasan 76.673 ha yang tersedia, yang berfungsi hanya 60%. Tanggul tambak sering mengalami kebocoran dan membutuhkan biaya tinggi untuk melakukan rehabilitasi tambak.
Dinas Kelautan dan Perikanan melakukan pendekatan kepada masyarakat petambak untuk mengaktifkan tambak tidak produktif dengan biaya rendah yaitu mengembangkan komoditas rumput laut jenis glacylaria dengan nama inovasi MBAK RITA yaitu Tambak Direvitalisasi. Empat strategi inovasi yaitu 1) Merencanakan kapan waktu dimulai penebaran rumput laut di dalam tambak; 2) Mempersiapkan tambak yang menjadi objek pemeliharaan rumput laut; 3) Mendatangkan bibit rumput laut; 4) Bibit ditebar, dipelihara, dipanen dan dipasarkan.
Teknologi tepat guna dapat dengan mudah diaplikasikan kepada para petambak rumput laut. Waktu yang diperlukan untuk membudidayakan rumput laut singkat (45 hari saja). Pemasaran hasil budidaya rumput laut mudah dan pendapatan petambak meningkat. Dalam kurun waktu 2 tahun ini petambak memperoleh manfaat dari revitalisasi lahan tambak. Sebelum inovasi, lahan tambak terlantar. Setelah inovasi, masyarakat memperoleh peningkatan pendapatan dari budidaya rumput laut. Produksi panen dalam 1 periode menghasilkan 128 ton rumput laut basah, omset Rp. 320 juta dengan waktu pemeliharaan 45 hari. Tidak ada lagi tambak yang tidak berfungsi. Masyarakat petambak menjadikan rumput laut sebagai komoditas budi daya. Pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja meningkat. Angka kemiskinan menurun.
Peningkatan kualitas hidup masyarakat dapat dilakukan dengan pemanfaatan sumber daya yang terlantar dan menggunakan program revitalisasi yang berbiaya murah.