Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
“One Stop Service Toilet”, Trendsetter Gaya Hidup Remaja Peduli Kesehatan Reproduksi
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
UPP: UPTD SMK Negeri 3 Wonosari
Wilayah: DI Yogyakarta
Penghargaan: Top 99/2016
Tahun: 2016
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: Pelayanan Kesehatan, Edukasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi
SMKN 3 Wonosari berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul, Jawa Tengah dengan komposisi pelajar 574 siswi dan 388 siswa. Kepedulian pelajar terhadap kebersihan toilet dan kesehatan reproduksi masih rendah. Siswi mempunyai kebutuhan yang lebih kompleks, tidak sekedar buang air besar maupun kecil, tapi juga kebutuhan ektra menggunakan toilet secara rutin setiap bulan ketika mereka sedang haid. Siswi tersebut sering mengalami kesulitan dan merasa malu, akhirnya pulang ke rumah, tidak mengikuti kegatan belajar berikutnya. Mereka juga tidak memahami kesehatan reproduksi yang berakibat pada kasus kehamilan remaja.
SMKN 3 Wonosari mene apkan inovasi “One Stop Service Toilet” sebagai program pelayanan terpadu bagi siswa, guru dan karyawan putri dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan reproduksi. Inovasi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan siswi haid, tetapi juga edukasi berupa ceramah umum dan coaching clinic kesehatan remaja. Pembentukan Komunitas Pecinta Toilet Bersih. Program toilet Bersih Sehat Jujur dimulai dengan penyediaan sarana meliputi lemari, pembalut, celana dalam, kantung palstik, tempat sampah, kotak uang, pewangi, keset, dan banner toilet, gantungan baju, dan papan pengumuman. Penyuluhan kesehatan reproduksi bekerja sama dengan puskesmas dan universitas.
Sebelum inovasi, siswi menghadapi masalah toilet. Setelah inovasi, tumbuh budaya bersih dan sehat di sekolah. Toilet sekolah menjadi bersih. Warga sekolah bertanggung jawab menjaga kebersihan. Siswi haid tidak mengalami gangguan dalam kegiatan belajar karena tersedia toilet bersih. Tumbuhnya budaya bersih dan sehat bagi guru dan siswa/siswi, dan menjadi contoh toilet sekolah yang bersih.
Perubahan pola pikir dan gaya hidup dapat didorong oleh penyediaan fasilitas yang memadai di lingkungan sekolah. Inovasi yang sederhana dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar di sekolah.
Pengembangan Klinik Konsultasi Agribisnis
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
UPP: Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan (BP2KP)
Wilayah: DI Yogyakarta
Penghargaan: Top 35/2016
Tahun: 2016
Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan
Tag: Pertanian, Kelompok Tani, Budidaya Pertanian
Kegiatan agribisnis Gunungkidul didominasi oleh petani dengan proporsi 54,41% dari total jumlah penduduk, dengan total luas lahan 148.536 ha. 75,43% dari petani merupakan petani gurem yaitu petani yang memiliki luas lahan kurang dari 5.000 m2 mencapai 125.415 rumah tangga. Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabu paten Gunungkidul membantu para petani gurem untuk meningkatkan produktivitasnya.
Penyuluhan yang dilakukan BP2KP dalam bentuk Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA) masih bersifat konvensional berupa tatap muka petugas dengan petani dan kelompok tani dan bersifat top down. Kontribusi kegiatan ini belum dirasakan manfaatnya oleh petani/kelompok tani untuk meningkatkan produktivitasnya.
Sejak akhir tahun 2014, BP2KP melakukan revitalisasi KKA sehingga menjadi layanan yang lebih baik. Perbaikan yang dilakukan adalah sistem dan standar pelayanan, kepastian pelayanan menyangkut persyaratan, biaya, dan waktu penyelesaian, dan kompetensi petugas.
Kegiatan penyuluhan di kecamatan dan desa dilakukan dengan memetakan potensi pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Pelayanan KKA diberikan dalam bentuk pelatihan, pemagangan, pengembangan jejaring, dan inkubator agribisnis. Prosedur KKA meliputi konsultasi di tingkat kecamatan, pencatatan permasalahan, konsultasi didukung informasi berupa perpustakaan, ruang display, atau kebun percontohan, dan pendampingan bisnis pertanian.
Sebelum inovasi, petani dan kelompok tani tidak mendapat sarana konsultasi yang memadai tentang bisnis pertanian. Sesudah inovasi, mereka memperoleh pendampingan untuk meningkatkan bisnis pertanian. Setelah ada inovasi, permasalahan agribisnis pertanian, perikanan, dan kehutanan telah mendapat bantuan konsultasi dan pembinaan. Konsultasi dihadiri rata rata 288 peserta, 16 penyuluhan per bulan dengan 116 penyuluh dan 1.856 penerima penyuluhan. Kerja sama antar pemangku kepentingan terlaksana. Penghargaan dari pemerintah pusat diraih. Kemampuan petani dan hasil panen meningkat. Keberhasilan penyuluhan berdampak langsung pada peningkatan kegiatan petani, peningkatan penghasilan, kepemilikan aset, dan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan sektor pertanian meningkat. Keberhasilan inovasi membutuhkan komitmen petugas penyuluhan, kerja sama pemangku kepentingan, dan partisipasi petani. Pelatihan dan peningkatan kapasitas penyuluh ter bukti meningkatkan kualitas petani yang dibimbing.
