31 Jan, 2026

Direktori Inovasi

4 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

SIRAMI GIZI (Aksi ramah peduli dan Pemulihan terhadap gizi)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

UPP: UPTD Puskesmas Singotrunan Dinas Kesehatan

Wilayah: Jawa Timur

Penghargaan: Top 99/2016

Tahun: 2016

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: Gizi Buruk, Balita, Pelayanan Gizi

Gizi buruk masih menjadi masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini dan banyak dialami oleh bayi di bawah lima tahun (balita). Pada dua tahun terakhir ini Puskesmas Singotrunan menduduki peringkat pertama di tingkat Kabupaten Banyuwangi dalam angka kejadian gizi buruk pada balita yang bisa menyebabkan kematian. Balita penderita gizi buruk berjumlah 61 (2013) dan 60 orang (2014). Masalah utama yaitu masih banyaknya kasus gizi buruk sehingga mengalami kematian pada balita di Puskesmas Singotrunan.
Program aksi ramah dan peduli gizi (SIRAMI GIZI) adalah sebuah layanan jasa bidang kesehatan secara gratis pada masyarakat utamanya pada balita yang mengalami resiko dengan masalah gizi dengan cara visible service (dilihat langsung). Kegiatannya meliputi penanganan balita yang menderita gizi buruk, pencegahan, pertolongan, pendampingan, kunjungan rumah, pemantauan balita gizi buruk, pemeriksaan Hb (hemoglobin), layanan 24 jam, dan rujukan ke rumah sakit tanpa biaya. Strategi inovasi meliputi pelibatan masyarakat dan kaum ibu sebagai sebagai motivator gizi. Bekerja sama dengan Kepala Kelurahan/Desa di wilayah kerja Puskesmas. Melakukan promosi dan pencegahan. Kunjungan ke rumah balita gizi buruk.
Sebelum inovasi, balita gizi buruk belum ditangani dengan baik. Sesudah inovasi, jumlah kasus balita gizi buruk turun. Setelah ada inovasi tersedia motivator gizi di lingkungan masyarakat. Klinik gizi dilaksanakan oleh konselor gizi. Tersedianya standar operasional (SOP). Terbentuknya akses komunikasi dengan masyarakat.Terselenggaranya berbagai kegiatan di Puskesmas Singotrunan dalam upaya membangun balita sehat. Inovasi SIRAMI GIZI telah memberikan perubahan, yaitu tidak ada lagi bayi/balita gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Singotrunan. Masyarakat menjadi puas akibat penurunan angka gizi buruk, peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat, peningkatan jumlah ibu memberikan ASI Eksklusif pada bayi.
Terciptanya hubungan yang kooperatif antar pemangku kepentingan menghindarkan kesalahpahaman dalam pelayanan sehingga meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menurunkan jumlah balita dengan gizi buruk.

Pembinaan Dan Pelayanan Kesehatan Pada Komunitas Adat Terpencil Suku Anak Dalam Melalui Team Mobile Di Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Batanghari

UPP: Dinas Kesehatan

Wilayah: Jambi

Penghargaan: Top 35/2016

Tahun: 2016

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: Pelayanan Kesehatan, Masyarakat Adat

Batang Hari merupakan salah satu kabupaten dari 11 kabupaten dan kota di Provinsi Jambi. Kabupaten ini memiliki penduduk berjumlah 264.741 jiwa yang dilayani oleh 17 Puskesmas Induk, 60 Puskesmas Pembantu, 60 Pos Kesehatan Desa serta dua Rumah Sakit, yang tersebar di 8 Kecamatan, 110 desa, dan 14 kelurahan. Di antara penduduk tersebut, terdapat Komunitas Adat Terpencil/Masyarakat Terasing (KAT) yaitu Suku Anak Dalam (SAD) berjumlah 926 KK yang tersebar di empat lokasi. Mereka memiliki permasalahan sosial yang kompleks seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan.
SAD memiliki keyakinan bahwa penyebab sakit itu adalah roh jahat dan guna-guna manusia. Orang yang sakit akan diobati oleh orang pintar (dukun) dengan teknik tradisional termasuk ritual “besale” untuk mengobati orang yang sakitnya sangat parah.
Pembinaan dan pelayanan kesehatan pada SAD melalui Team Mobile dimulai sejak tahun 200Inovasi ini mendekatkan pelayanan kesehatan kepada SAD menggunakan mobil melalui jalan yang terjal dan belum beraspal. Petugas mem bawa keperluan seharihari seperti pasta gigi, biskuit, dan mie instan. Strategi meliputi identifikasi masalah, koordinasi formal dan informal, dan mini lokakarya di Puskesmas, dan sinergi semua pemangku kepentingan.
Sebelum inovasi, SAD belum terjangkau pelayanan kesehatan. Setelah inovasi, pelayanan kesehatan dilakukan ke lokasi permukiman mereka mengggunakan mobil pelayanan, penyembuhan menggunakan obatobatan dan pelayanan memanfaatkan praktek medis modern. Setelah ada inovasi, SAD memahami konsep pola hidup sehat, bahayanya ancaman penyakit, pentingnya penyembuhan menggunakan obat, dan memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan. Angka kejadian penyakit menurun. Kualitas kesehatan dan pemanfaatan fasi litas pelayanan kesehatan meningkat. Masyarakat SAD kini berbaur dan membuka diri dengan masyarakat sekitar. Kepercayaan kepada petugas pelayanan kesehatan dan pemerintah mulai tumbuh.
Komitmen pemerintah, upaya mendatangi komunitas yang membutuhkan, dukungan sarana yang mendukung, serta pendekatan budaya yang baik menjadi kunci sukses inovasi ini.