Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
SIMPATEN Sistem Informasi dan Manajemen Pelayanan Adminisrasi Terpadu Kecamatan
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Banjar
UPP: UPT Kecamatan Martapura Timur
Wilayah: Jawa Barat
Penghargaan: Top 99/2016
Tahun: 2016
Kategori SDG’s: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
Tag: Pelayanan Kecamatan, Kecamatan, Aplikasi Pelayanan Kecamatan
Kabupaten Banjar di ujung timur Provinsi Jawa Barat termasuk kabupaten yang belum lama usianya. Berbagai cara perbaikan diupayakan dalam penyelenggaraan tata pemerintahan menuju tata kelola pemerintahan yang baik, khususnya perubahan pelayanan dari sistem manual ke sistem elektronik. Selama ini pelayanan pemerintah kecamatan terhadap masyarakat kurang memuaskan. Pelayanan masih manual dan lambat, banyak terjadi kesalahan dan kekeliruan pencatatan data, back up data sulit dilakukan, penelusuran arsip lama karena data arsip tercecer atau penempatan yang tidak jelas, pelaporan tidak didukung data akurat, database belum dimiliki, dan para petugas belum memiliki jiwa pelayanan. Akibatnya adalah prosedur berbelit-belit, lambat, tidak transparan, terbatasnya fasilitas pelayanan, kurangnya kepastian hukum,wak tu dan biaya, petugas cenderung santai dan tidak memberikan pelayanan yang baik, praktik pungutan liar, dan tindakan yang berindikasi penyimpangan dan kolusi korupsi dan nepotisme.
Kabupaten Banjar menerapkan inovasi bernama Sistem Informasi dan Manajemen Pe layanan Administrasi Terpadu Kecamatan (SIMPATEN) dengan basis perangkat software aplikasi yang dipergunakan untuk otomatisasi sistem dan prosedur serta pengelolaan pelayanan. Kecamatan Martapura Timur menjadi percontohan keberhasilan pelayanan SIMPATEN. Dengan sistem ini, petugas pelayanan dituntut memahami, mengerti, dan melaksanakan pelayanan berbasis teknologi informasi.
Strategi inovasi pada tahun 2013-2014 dimulai dengan diskusi dan focus group discussion (FGD), persiapan, pengenalan peralatan komputer, pelatihan petugas pelayanan, pengembangan aplikasi pelayanan, penyiapan template pelayanan meliputi pendaftaran, pemrosesan, registrasi, pencetakan, dan pelaporan, sosialisasi, kalkulator biaya pelayanan, sistem pengarsipan, dan penilaian kepuasan masyarakat dapat diselesaikan. Pengembangannya berupa SMS Gateway informasi pelayanan, touchscreen, pelayanan keliling, dan in tegrasi SIMPATEN dengan database kependudukan dan layanan online berbasis web.
Sebelum inovasi diterapkan banyak terjadi keluhan dan pengaduan masyarakat tentang pelayanan yang tidak berkualitas dan sesudah ada SIMPATEN, terjadi perubahan signifikan menjadi pelayanan cepat berbasis teknologi informasi. Pelayanan yang cepat, mudah, berkualitas, dan transparan, meningkatkan kepedulian, kepercayaan, dan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Kecamatan Martapura Timur. Waktu pelayanan dari 45 menit menjadi 25 menit.
Keluaran meliputi otomatisasi pelayanan, peningkatan profesionalitas petugas pe layanan, otomatisasi pelaporan dan pengukuran kualitas pelayanan, pengarsipan teratur, dan penghitungan cepat biaya retribusi, peningkatan kepuasan masyarakat, dan tersedianya database pelayanan. Manfaat inovasi meliputi pelayanan cepat dan mudah,efisien dan efektif, transparan, terdapat kepastian waktu, biaya, dan penyelesaian pelayanan. Komitmen semua pemangku kepentingan menjadi prasyarat keberhasilan program ini. Perubahan pola pikir, budaya kerja, dan perilaku pelayanan dapat didorong oleh penerapan sistem berbasis teknologi informasi.
PUJASERA (pergunakan jamban sehat, rakyat aman)
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
UPP: UPTD Puskesmas Tampo Dinas Kesehatan
Wilayah: Jawa Timur
Penghargaan: Top 35/2016
Tahun: 2016
Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan
Tag: BABS, ODF, Jamban, Sanitasi
Kabupaten Banyuwangi berada di ujung Timur pulau Jawa dan wilayahnya dikelilingi gunung dan lautan. Dalam kurun waktu 2013-2014, dari 217 desa di Banyuwangi terdapat 27 desa dengan status open defecation free (ODF). Akan tetapi, di wilayah kerja Puskesmas Tampo belum ada desa yang mencapai status ODF. Komposisi penyakit karena faktor sanitasi buruk sangat tinggi yaitu diare (28,2%), thypoid (8,7%), penyakit kulit (12%), demam berdarah dengue (0,25%), dan influenza (10,3 %). Sebagian besar penduduk melakukan aktivitas buang air besar (BAB) di sembarang tempat sehingga banyak penyakit muncul di masyarakat. Penduduk bergantung pada aliran sungai yang juga menjadi tempat membuang sampah, mencuci, mandi, dan BAB. Perilaku ini disebabkan oleh budaya turun temurun, ketidakmampuan masyarakat, dan rendahnya pendidikan.
Puskesmas Tampo membuat gebrakan inovasi Pergunakan Jamban Sehat, Rakyat Aman (PUJASERA) menuju desa ODF. Pelaksanaan inovasi memberdayakan masyarakat lewat pemben tukan kader, satuan tugas ODF, pelatihan, arisan pembuatan jamban sehat, kampanye ODF, dan klinik sanitasi. Pujasera dilaksanakan sejak tahun 2014, melibatkan kepala desa dan perang katnya, tokoh masyarakat dan agama, pemuda, dan kader PUJASERA. Dibuat standar operasional prosedur (SOP). Pelatihan diselenggarakan untuk membentuk tenaga profesional kesehatan ling kungan. Media massa cetak dan radio mensosiali sasikan inovasi melalui acara khusus dan talkshow. Masyarakat diberi pemahaman mengenai kriteria jamban sehat dan budaya hidup bersih dan sehat. Juga dilakukan pelatihan cara membuat jamban sehat dan arisan pembuatan jamban.
Sebelum inovasi, masyarakat BAB di sembarang tempat. Sesudah inovasi, masyarakat BAB di jamban sehat. Dalam satu tahun terjadi kenaikan kepemilikan jamban dari 1.034 menjadi 5.025 dari 8.045 jumlah KK. Penurunan penyakit akibat sanitasi jelek dari 35% menjadi 18%. Terwujudnya status ODF di dua dari empat desa di wilayah Puskesmas Tampo. Inovasi ini mampu meningkatnya taraf kesehatan masyarakat karena jamban sehat semakin banyak. Pelayanan kesehatan di puskesmas lebih optimal dan petugas bekerja sesuai SOP. Meningkatnya status sosial masyarakat dan membaiknya kondisi lingkungan.
Penyediaan jamban sehat dan perubahan pola hidup masyarakat menjadi kunci sukses pemutusan mata rantai penyakit. Keberhasil an ditunjang dengan berdirinya klinik sanitasi yang setiap hari melayani penderita kesehatan lingkungan. Setelah masyarakat menikmati manfaat kesehatan yang diperoleh, mereka berbondongbondong menyukseskan inovasi ini.
