Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
PELUK MY DARLING DENGAN MESRA (Perawatan Luka Kusta Menyeluruh Dengan Garden Healing, Mentoring dan Kolaborasi yang Terintegrasi)
Jenis Instansi: Provinsi
Instansi: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
UPP: RSUD Kelet
Wilayah: Jawa Tengah
Penghargaan: 15 FIN/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: RSUD, partisipasi masyarakat, Kusta
RSUD Kelet merupakan Rumah Sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang terletak di Kabupaten Jepara. Salah satu pelayanan, berlokasi di Donorojo dengan aset Unit Rehabilitasi Kusta (URK), yang juga menjadi pusat rujukan kusta Provinsi Jawa Tengah.
Inovasi pelayanan publik Perawatan Luka Kusta Menyeluruh dengan Garden Healing (Peluk My Darling) mulai dilaksanakan sejak 2015 Inovasi ini meraih penghargaan TOP 99 dan TOP 40 pada KIPP 2017 dengan fokus pada pelayanan intra hospital. Seiring berjalannya waktu, ditemukan permasalahan lain yaitu: masih tingginya kunjungan pasien kusta dari Kabupaten Jepara dengan cacat tingkat 2, kurang optimalnya penemuan kasus baru oleh petugas kusta Puskesmas, belum optimalnya program pemberdayaan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dalam penemuan kasus baru di lingkungan tempat tinggalnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, akhir 2018, RSUD Kelet melakukan pengembangan yang melahirkan inovasi yang diberi nama Perawatan Luka Kusta Menyeluruh dengan Garden Healing, Mentoring dan Kolaborasi yang Terintegrasi (Peluk My Darling dengan Mesra). Inovasi ini juga merupakan implementasi program Rumah Sakit Tanpa Dinding (RSTD) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Penambahan inovasi ini berupa upaya promotif dan preventif. Hal ini diwujudkan melalui pelayanan pre dan post hospital berupa mentoring dengan berperan sebagai narasumber pelatihan petugas kusta Puskesmas dan mantan pasien kusta, serta kolaborasi terintegrasi antara mantan pasien kusta, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara. Termasuk dalam melaksanakan kegiatan promosi kesehatan dan deteksi dini kusta. Selain itu, di intra hospital juga ditambahkan terapi berupa musik relaxing Javanese spa music untuk percepatan penyembuhan.
Pengembangan inovasi “Peluk My Darling dengan Mesra” terbukti membuahkan hasil, hal itu di antaranya dapat dilihat dari penurunan stigma masyarakat terhadap pasien kusta. Dampak lainnya juga terlihat dari peningkatan produktivitas kerja pasien kusta, peningkatan pengetahuan masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), intensifikasi deteksi dini petugas kusta dan pemberdayaan mantan pasien kusta sebagai detektor dini kusta.
Dampak lainya juga dapat dilihat pada lokus di Puskesmas Mayong. Di tempat ini terlihta peningkatan penemuan kasus baru kusta tanpa cacat. Pada 2018 tercatat dari 19 penemuan kasus baru, tiga di antaranya mengalami cacat, angka ini menurun menjadi 15 penemuan kasus baru yang semuanya berhasil ditangani sehingga tak menimbulkan cacat di tahun 201Selain itu adanya 10 orang OYPMK yang diberdayakan sebagai detektor dini penemuan kasus kusta di lingkungannya, sehingga terjadi penurunan kunjungan pasien kusta dengan cacat tingkat 2 di URK Donorojo.
Inovasi ini sangat memungkinkan untuk direplikasi di daerah lain terutama daerah endemik kusta.Terbukti, pada 2019, Inovasi ini telah replikasi di Puskesmas Welahan sebagai daerah endemik kusta dengan kasus cacat tingkat 2 tertinggi di Kabupaten Jepara.
Si MIDUN Chating Ke Faskes
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan
UPP: Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Wilayah: Kalimantan Selatan
Penghargaan: 15 FIN/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: Kesehatan, partisipasi masyarakat, kesehatan ibu dan anak
Awalnya Inovasi ini dinamai Strategi Kemitraan Dukun Kampung dan Bidan merujuk ibu bersalin ke Fasilitas Kesehatan (Si Midun ke Faskes). Lahir pada 2012 karena tingginya angka kematian ibu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pada 2018, inovasi ini dikembangkan menjadi Strategi Kemitraan Dukun Kampung dan Bidan merujuk ibu bersalin ke Fasilitas Kesehatan (Si Midun Chating ke Faskes).
Pengembangan inovasi ini di dasari jumlah kasus stunting yang tinggi. Tercatat pada 2018 jumlah stunting di Kabupaten Hulu Sungai Selatan mencapai 1.400 balita. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan kepercayaan masyarakat terhadap dukun kampung masih sangat tinggi menjadi salah satu penyebab. Sebagian besar masyarakat terutama yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah masih memegang teguh budaya, tradisi, dan adat istiadat.
Berangkat dari permasalahan inilah, Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan melakukan kolaborasi dengan dukun kampung dan bidan. Kolaborasi ini diwujudkan melalui Memorandum of Understanding (MoU), dimana dukun kampung yang merujuk ibu bersalin ke fasilitas kesehatan akan menerima insentif dari pemeritah daerah.
Pada praktiknya, ketika dukun kampung menerima kunjungan dari ibu hamil, ia akan menganjurkan ibu hamil itu untuk memeriksakan kehamilannya kepada tenaga kesehatan. Selain itu, dukun kampung juga akan memberikan informasi tentang makanan yang harus dikonsumsi oleh ibu hamil melalui media kantong cegah stunting sekaligus menganjurkan mereka membawa bayi dan anak balita ke posyandu penimbangan dan imunisasi,
Implementasi kemitraan bidan dengan dukun kampung ini dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu identifikasi masalah, penerbitan surat instruksi kepala Dinas Kesehatan tentang kemitraan bidan dan dukun kampong, lokakarya mini, penandatanganan kesepakatan komitmen kerja sama, pemantauan dan evaluasi yang dilakukan setiap bulan.
Tak dimungkiri, inovasi ini berhasil menurun angka kematian Ibu. Tercatat pada 2012 dari 12 orang (225 KH) turun menjadi 3 orang (80 KH) tahun 201Keberhasilan inovasi ini juga dapat dilihat dari peningkatan angka partisipasi masyarakat (cakupan penimbangan balita), berkunjung ke posyandu sebesar 68,53 % pada 2018 menjadi 79,70 % tahun 2019 dan peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap pada 2018 sebesar 81,3% menjadi 87,2 % tahun 2019, keberhasilan tersebut berujung pada penurunan jumlah angka stunting, dari 1.400 balita pada 2018 menjadi 807 balita pada 2019.
Inovasi ini juga menghasilkan efesiensi waktu dalam deteksi dini baik riwayat ataupun komplikasi yang menyertai kehamilan dan persalinan. Hal ini juga berdampak pada biaya persalinan yang menjadi lebih murah serta anggaran/pembiayaan daerah maupun perorangan ( ibu bersalin ) menjadi lebih hemat.
Inovasi ini tidak berhenti dengan adanya pergantian kepemimpinan kepala daerah karena sudah dijamin dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Nomor 4 Tahun 2012 tentang Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi dan Anak Balita, dan Peraturan turunannya. Melihat keberhasilannya, maka menjadi hal yang wajar bila muncul harapan inovasi ini dapat direplikasi oleh Kabupaten lain khususnya di Kalimantan Selatan yang memiliki kultur dan budaya yang sama.
