Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
JOGJAPLAN: Perencanaan Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta yang ORDINATE (Konsisten, Responsif, Dinamis, dan Akuntabel) dengan e-Planning
Jenis Instansi: Provinsi
Instansi: Pemerintah Provinsi D. I. Yogyakarta
UPP: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Wilayah: DI Yogyakarta
Penghargaan: 5 OAPSI/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
Tag: Website, sistem informasi, prtisipasi masyarakat, transparansi, pembangunan
Perencanaan pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta yang konsisten, responsif, dinamis, dan akuntabel dengan e-Planning (Ordinate)
Jogjaplan adalah inovasi perbaikan tata kelola pemerintahan berkelanjutan yang mulai diinisiasi Pemda DIY tahun 20Inovasi ini lahir sebagai upaya membangun institusi publik yang efektif dan akuntabel (Developing effective and accountable public institutions), meningkatkan akuntabilitas (Improves accountability), dan meningkatkan tranparansi serta menyediakan akses atas informasi (increases transparency and people’s access to information) atas informasi perencanaan pembangunan. Jogjaplan digunakan untuk memastikan perencanaan disusun secara disiplin mengikuti program prioritas, visi misi pembangunan daerah dengan mengimplementasikan logical framework cascading indicator yang membatasi terjadinya penyimpangan perencanaan yang dapat menimbulkan risiko tindak pidana korupsi.
Sistem informasi berbasis teknologi ini menjadi salah satu alat pendukung yang digunakan oleh Bappeda DIY dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. Sistem ini mulai dibangun tahun 2010 dan terus mengalami pengembangan sehingga mampu menjawab tantangan yang juga terus berkembang. Pada 2020 misalnya, Jogjaplan menjadi salah satu alat untuk memenuhi kebutuhan perencanaan pembangunan yang harus diperbarui akibat perubahan regulasi dan kebutuhan permasalahan publik yang disebabkan pandemi global Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pembaruan kebijakan dalam penyusunan rencana pembangunan daerah menjadi sumber materi pengembangan aplikasi tersebut.
Pasca penetapan Jogjplan sebagai Top Inovasi Sinovik 2015, aplikasi ini menjadi bagian dari beberapa keberhasilan yang diraih oleh Pemda DIY. Keberhasilan itu di antaranya membuat perencanaan pembangunan yang sesuai peraturan perundangan yang berlaku, menjamin konsistensi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah, baik APBD, Dana Keistimewaan maupun dukungan prioritas nasional.
JogjaPlan juga mampu menjadi alat pengendali dalam mewujudkan pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis pemerintah daerah sesuai RPJMD DIY 2017-202Sistem ini mampu memasilitasi masyarakat dan legislatif dalam perencanaan pembangunan daerah serta mendukung keterbukaan informasi publik sekaligus memperkuat menu lintas sektor untuk perencanaan lintas SKPD. Berkat penerapan JogjaPlan Pemda DIY berhasil mencatatkan capaian yang memuaskan dalam Penilaian Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Pemda DIY yang dilaksanakan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. Sejak tahun 2014 -2018 Pemda berhasil mempertahankan predikat A, dan predikat AA tahun 2019-2020, atau peringkat tertinggi di Indonesia.
Kader Peduli Luka Dan Perawatan Luka Diabet Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo
Jenis Instansi: Provinsi
Instansi: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
UPP: PKC Pasar Rebo
Wilayah: DKI Jakarta
Penghargaan: 15 FIN/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: puskesmas, kesehatan, jemput bola, partisipasi masyarakat, diabetes
Berkat inovasi ini, penderita diabetes dapat ditangani dengan baik. Berkat penanganan yang holistik, 100 persen pasien yang ditangani terbebas dari risiko amputasi.
Puskesmas Pasar Rebo menerapkan inovasi layanan Poli Perawatan Luka Diabet dengan menggunakan metode modern. Bersama “Kader Peduli Luka dan Perawatan Luka Diabetes” Puskesmas Pasar Rebo memberikan pelayanan berupa perawatan luka diabetes kepada masyarakat menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan fisik dan finansial.
Berkat inovasi ini, Puskesmas Pasar Rebo menjadi pionir perawatan luka secara holistik untuk tingkat Puskesmas. Tingginya antusiasme masyarakat yang mengakses layanan ini, mendorong Puskesmas Pasar Rebo untuk terus mengembangkan jenis layanan. Bila awalnya fokus layanan adalah perawatan luka diabetes, maka pada 2018 layanan berkembang hingga perawatan luka bakar dan luka kronik lainnya, dimana perawatan luka yang dihadirkan menggunakan prinsip lembab dan cost effective.
Inovasi ini dikategorikan kreatif karena melibatkan masyarakat yang dilatih dan dibina secara berkala menjadi Kader Peduli LuKa untuk menemukan kasus luka diabet yang belum terdeteksi. Melalui Inhouse training dan pembinaan kader secara berkala, layanan juga dikembangkan pada layanan prolanis, konsultasi gizi, psikologi. Implementasi dari pengembangan inovasi ini terbukti mampu menangani kasus sebesar 99% (637 dari 638 kasus) dengan 100% pasien sembuh, dan 0% pasien diamputasi.
Puskesmas Pasar Rebo juga telah merencanakan pengembangan layanan perawatan luka yang merupakan salah satu dari komitmen keberlanjutan inovasi. Dari sisi layanan, sejak 2018 Puskesmas Pasar Rebo membuka layanan perawatan luka bakar dan luka kronik lainnya. Sejumlah anggaran telah dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan, ruang layanan, pelatihan serta sarana dan prasana. Perawatan ini terbukti efektif dilaksanakan, hal ini menjadi alasan Pemda DKI Jakarta untuk mereplikasi inovasi ini ke seluruh Puskesmas DKI Jakarta. Pemda merasa yakin, inovasi ini dapat diterapkan di tempat lain dengan menyesuaikan kebutuhan, keadaan fasilitas kesehatan yang ada di wilayah.
Selain melakukan replikasi, Pemda DKI juga telah mempersiapkan rencana pengembangan layanan dimana salah satunya adalah optimalisasi pencegahan luka pada pasien Penyakit Degeneratif melalui skrining potensi terjadinya luka dengan uji sensitifitas kaki sehingga risiko terjadinya luka dapat dicegah. Rencana tindak lanjut pengembangan inovasi ini dipilih, karena peningkatan signifikan kasus selama empat tahun terakhir mencapai tujuh kali lipat (700%).
Inovasi ini bersifat holistik karena melibatkan multidisiplin ilmu, lintas sektor, pemangku jabatan dan peran aktif masyarakat. Inovasi ini secara nyata memberikan manfaat luar biasa pada masyarakat, hal ini terbukti sampai dengan 2018, terdapat kenaikan jumlah kunjungan yang signifikan sebesar 325%, sebesar 99% kasus dapat tertangani, dan 100% pasien yang ditangani sembuh. Hanya 3% dirujuk ke rumah sakit, dan 100% bebas dari amputasi. Dari sisi biaya, inovasi ini berhasil menekan biaya perawatan hingga Rp.3.712.976.000.
