Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
RM PAPEDA (Rumah Masyarakat Papua Penuh Damai)
Jenis Instansi: Lembaga
Instansi: Kepolisian Negara RI
UPP: Polres Jayapura
Wilayah: Papua
Penghargaan: 5 OAPSI/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan
Tag: keamanan, partisipasi masyarakat, pengaduan masyarakat
Inovasi RM Papeda yang diterapkan Polres Jayapura berhasil mengurangi angka kriminalitas. Polda Papua mereplikasikan inovasi ini ke seluruh Polres di Papua. Inovasi ini sangat mudah diakses dan mampu memangkas waktu, biaya, serta tenaga.
Sejak ditetapkan sebagai Top 40 pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) tahun 2018, Rumah Masyarakat Papua Penuh Damai (RM Papeda) semakin populer di Kabupaten Jayapura dan sekitarnya. Tak dimungkiri, hal ini menjadi salah satu faktor yang memudahkan pengembangan RM Papeda. Dalam waktu dua tahun, jumlah distrik yang dijangkau oleh RM Papeda meningkat menjadi 34 kampung atau meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan tahun 2018 yang hanya mengcover 18 kampung di 3 distrik.
Pesatnya perkembangan RM Papeda tidak lepas dari dukungan bupati Jayapura yang telah menginstruksikan seluruh kepala kampung untuk turut mengembangkan RM Papeda di wilayahnya masing-masing, dengan memanfaatkan potensi wilayah dan menggunakan dana kampung.
Selain diterapkan di kampung, RM Papeda juga telah diadopsi oleh Polda Papua. RM Papeda menjadi salah satu program kerja Direktorat Binmas Polda Papua. Bahkan, Kapolda Papua Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw juga telah memerintahkan seluruh Polres di wilayah Papua untuk mereplikasi RM Papeda.
Di samping memperluas area jangkauan, Polres Jayapura juga menjalin kerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (Orari) untuk mengembangkan RM Papeda sehingga dapat diakses melalui aplikasi TeamSpeak sehingga dapat diunduh secara gratis melalui Playstore.
Pengembangan ini menjadikan RM Papeda sebagai alat komunikasi yang dapat diakses dari mana saja selagi pengguna terhubung dengan internet. Hal lainnya yang juga tidak kalah penting, berkat pengembangan ini, masyarakat tidak perlu lagi membeli HT untuk bergabung di RM Papeda.
Berkat pengembangan yang dilakukan, manfaat RM Papeda kian terlihat hasilnya. Hal itu dapat terlihat dari beberapa manfaat yang dirasakan yaitu, meningkatnya angka respons cepat personil Polres Jayapura terhadap laporan/pengaduan masyarakat. Tahun 2019 terjadi peningkatan sebanyak 10,8% dibandingkan tahun 201Hal ini kemudian berimplikasi langsung terhadap meningkatnya angka penyelesaian masalah pada 2019 sebesar 4% dibanding tahun 2018.
Manfaat berikutnya adalah menurunnya angka kriminalitas di Kabupaten Jayapura. Pada 2019 terjadi penurunan sebanyak 18% dibandingkan tahun 20Hal ini terjadi karena pada praktiknya RM Papeda sejalan dengan Community Policing. RM Papeda juga menjadi backbone sinergitas komunikasi di saat situasi darurat dimana sarana komunikasi konvensional tidak berfungsi. Hal itu di antaranya terbukti ketika terjadi bencana alam banjir bandang pada maret 2019 di Kabupaten Jayapura. Manfaat serupa juga dirasakan saat terjadi kerusuhan dugaan rasisme pada mahasiswa Papua pada Agustus 201Keberhasilan RM Papeda juga tak terlepas dari kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan. Dengan menggunakan RM Papeda, masyarakat cukup melapor dari rumah. Dengan cara ini selain memangkas waktu, juga menghemat biaya dan tenaga.
Kami Datang, Penglihatan Terang
Jenis Instansi: Provinsi
Instansi: Pemerintah Provinsi Bali
UPP: UPTD Rumah Sakit Mata Bali Mandara – Dinas Kesehatan
Wilayah: Bali
Penghargaan: 15 FIN/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: kesehatan, kesehatan mata, operasi, katarak, pengelihatan
Program inovasi “Kami Datang Penglihatan Terang” terus dikembangkan untuk memperbesar akses layanan kesehatan mata bagi masyarakat miskin, lanjut usia, dan masyarakat yang tinggal di pelosok.
Tahun 2007 prevalensi kebutaan Indonesia 0,9% tertinggi di Asia Tenggara. Lebih tinggi dari prevalensi global 0,7%. Angka prevalensi kebutaan di Provinsi Bali juga 1% lebih tinggi dibandingkan nasional. Penyebab utama kebutaan di Indonesia adalah katarak senilis (80%).
Persoalan inilah yang mendorong lahirnya Inovasi “Kami Datang Penglihatan Terang”. Program ini merupakan inovasi layanan yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara. Inovasi ini bertujuan mengatasi masalah kebutaan di Provinsi Bali dengan mempermudah akses pelayanan kesehatan mata melalui kegiatan skrining dan operasi katarak keliling menggunakan Mobile Eye Clinic (MEC). Layanan ini diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan lansia yang jauh dari pusat pelayanan mata; serta pemberdayaan masyarakat dalam penjaringan pasien di masyarakat yang dicurigai menderita kebutaan.
Setelah meraih predikat Top 35 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, RSM Bali Mandara terus mengembangkan inovasi “Kami Datang Penglihatan Terang” dengan menambahkan beberapa kegiatan seperti screening retina dan glaukoma yang menjadi penyebab gangguan penglihatan tertinggi setelah katarak, screening anak sekolah dasar, pemberian kacamata gratis serta bakti sosial berupa pengobatan penyakit mata.
Inovasi ini juga dikembangkan keluar pulau/ provinsi dengan membawa tim dan mendirikan kamar operasi darurat di Pulau Nusa Penida dan Nusa Lembongan serta bekerjasama dengan NGO dalam pelaksanaan operasi katarak di Kabupaten Soe, Kabupaten Lombok Tengah, serta Situbondo Jawa Timur.
Pengembangan inovasi ini berhasil meningkatnya partisipasi masyarakat, kader PKK dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu), mahasiswa dan siswa sekolah dalam penjaringan pasien yang mengalami kebutaan dengan teknik hitung jari kurang dari tiga meter. Dukungan juga datang stakeholders dan institusi lain seperti Kepolisian, Kejaksaan, dan Angkatan Laut. Dukungan yang diberikan berupa penjaringan pasien hingga pembiayaan.
Keseriusan dalam penyelenggaraan program membuat masyarakat miskin, lanjut usia, dan mereka yang tinggal jauh di pelosok menjadi lebih mudah dalam mengakses pelayanan kesehatan mata. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah layanan luar gedung termasuk MEC. Selain itu, jumlah pemeriksaan mata umum dan pemeriksaan mata anak sekolah juga meningkat menjadi 2.109 dibandingkan tahun 2010 yang tercatat sebanyak 1.35
Bukan hanya berhasil memperbesar akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan mata, inovasi ini juga turut berperan dalam penurunan angka kebutaan dari 1% pada tahun 2007 menjadi 0,3% pada tahun 2013 (Riskesdas), meningkatkan Cataract Surgery Rate di Provinsi Bali, yaitu 1.020,6/ 1 juta penduduk pada 2010 menjadi 1.746/ 1 juta penduduk pada 2018; dan meningkatkan 80,2% kualitas hidup penderita katarak dan mengurangi beban keluarga akibat kebutaan serta mencegah masyarakat menjadi miskin atau lebih miskin (Survey Universitas Udayana, 2017).
Rumah Sakit Mata Bali Mandara berjanji untuk terus mengembangkan inovasi layanan ini. Hal ini salah satunya disebabkan karena program penanggulangan kebutaan belum menjadi program prioritas sehingga perlu diintegrasikan dengan kegiatan Posbindu (Pos Binaan Terpadu) dalam deteksi dini kebutaan. Selain itu, dengan berkembangnya teknologi informasi di era 4,0, sistem pencatatan dan pelaporan gangguan kebutaan di masyarakat akan dikembangkan melalui aplikasi SiGaLih.
