Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
Tanda Aman Calon Pengantin (TANCAP NIKAH) Menuju Generasi Unggul
Jenis Instansi: KOTA
Instansi: Pemerintah Kota Gorontalo
UPP: Dinas Kesehatan
Wilayah: Gorontalo
Penghargaan: TOP 99/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
Tag: persiapan, konsultasi, pra nikah
Angka Kematian Ibu (AKI) Kota Gorontalo pada 2016 menempati urutan ke-2 di Provinsi Gorontalo. Angkanya mencapai 249,1/100.000 KH atau 10 kasus kematian. 70 % kematian ini disebabkan penyakit penyerta. Tingginya AKI dan AKB disebabkan antara lain oleh layanan kesehatan reproduksi belum maksimal, penyakit penyerta yang tidak terdeteksi, kunjungan ibu hamil tidak sesuai standar ANC, belum terintegrasinya program lintas sektor, serta pola pikir masyarakat tentang persiapan pranikah masih rendah. Berangkat dari berbagai permasalahan di atas Pemerintah Kota Gorontalo melahirkan inovasi Tanda Aman Calon Pengantin (Tancap Nikah ).
Keunikan dari inovasi ini adalah layanan kesehatan bagi calon pengantin laki-laki dan perempuan berupa pemeriksaan fisik, laboratorium, konseling dan suntikan TT. Dengan layanan ini data awal status kesehatan calon ibu dapat dipantau oleh bidan kelurahan dan kader kesehatan, selain itu, layanan ini pun disediakan gratis sehingga dapat diakses oleh masyarakat.
Untuk mengakses layanan ini, calon pengantin dapat melakukan pendaftaran di kantor kelurahan untuk memperoleh formulir N2 dan surat pengantar, selanjutnya Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan dan surat keterangan. Setelah itu, calon pengantin dapat mengikuti bimbingan mental spiritual di KUA bagi muslim, dan lembaga agama nonmuslim bagi warga nonmuslim. Setelah mengikuti bimbingan ini, calon pengantin menerima Sertifikat Tancap Nikah
Layanan inovasi ini dapat meminimalkan masalah kesehatan dan mental calon pengantin, selain itu layanan ini pun dapat menjadi semacam deteksi dini sekaligus pencegahan dan pengobatan penyakit tertentu. Dengan mengikuti layanan ini, calon pengantin juga dapat mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental, sehingga ketika pasangan ini hamil dan melahirkan mereka dapat mengakses layanan kesehatan yang dapat mencegah terjadinya stunting pada anak yang mereka lahirkan.
Tidak dimungkiri, layanan ini terbukti dapat mengubah pola pikir masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari jumlah peserta yang terus meningkat. Dari 852 calon pengantin di tahun 2017, meningkat menjadi 1325 Catin pada 2018 dan pada 2019, tercatat ada 1.295 calon pengantin yang telah menjalani program ini dan menerima Sertifikat Tancap Nikah.
Akumulasi kunjungan sampai tahun 2020 berjumlah 3.880 calon pengantin. Dari jumlah itu, sebanyak 614 (15,8%) calon pengantin memiliki risiko tinggi dan diberikan intervensi pengobatan, sehingga AKI menurun dari 249,1/100.000 Kelahiran Hidup (KH) pada 2016 menjadi 73,3/100.000 KH pada 201Angka kematian Bayi (AKB) di tahun 2016 sebesar 11,2/1000 KH menjadi 7,6/1000 KH pada 201Stunting juga dapat ditekan dari 36,1% tahun 2017 menjadi 28,2% tahun 2018, dan pada 2019 sesuai hasil surveilans gizi melalui Elektronik Pencatatan Pelaporan Berbasis Gizi Masyarakat (E-PPBGM) tercatat 9,7%.
Pelayanan Tancap Nikah terbukti efisien dalam penganggaran, dapat dibiayai melalui upaya pelayanan kesehatan perorangan (UKP) dan Upaya kesehatan Masyarakat (UKM) yang ada di puskesmas. Dalam dokumen RPJMD Kota Gorontalo Tahun 2019-2024, menjadi salah satu indikator pelayanan usia produktif dengan target 100. Dalam pengembangannya inovasi tancap nikah dapat menambah pemeriksaan deteksi TORCH. Inovasi ini hanya membutuhkan ketersediaan SDM, keterlibatan masyarakat, peran aktif sektor terkait dan komitmen Pimpinan Daerah, sehingga potensi keberlanjutannya sangat besar.
Tani Jago Daulat Jagung Indonesia Dari Lamongan (TANI JAGO DILAN)
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Lamongan
UPP: Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan
Wilayah: Jawa Timur
Penghargaan: TOP 45/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Tag: pertanian, peningkatan produksi
Jagung merupakan komoditi multiguna. Penggunaan jagung untuk pakan ternak mencapai 50% dari total kebutuhan. Permintaan jagung secara umum, baik untuk bahan baku industri pakan, makanan dan minuman terus meningkat10-15% pertahun. Akibatnya, ketersediaan jagung di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan. Dengan kata lain, belum swasembada sehingga masih diperlukan impor.
Kabupaten Lamongan merupakan salah satu lumbung jagung di Jawa Timur. Namun, terdapat dua masalah utama sehingga pertanian jagung belum optimal. Pertama produktivitas yang masih rendah karena teknis budidaya mulai dari pengolahan tanah minim dan tradisional, pemupukan belum tepat anjuran dan populasi tanaman belum optimal. Kedua pemanfaatan teknologi pertanian yang masih rendah sehingga terdapat senjang hasil yang lebar atas pendapatan yang diterima petani.
Untuk mengatasi masalah di atas, Pemerintah Kabupaten Lamongan bangkit lewat inovasi Pertanian Jagung Modern (Tani Jago Dilan). Sasarannya adalah petani jagung dengan tujuan agar mereka berdaulat di negeri sendiri. Keyakinan Bupati Lamongan soal daulat jagung itu semakin tebal setelah melihat langsung pertanian jagung modern di Iowa, Amerika Serikat pada 20Lewat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, desain inovasi Tani Jago Dilan ini dibuat. Strateginya, dengan penggunaan benih varietas unggul adaptif, peningkatan populasi tanaman optimal per satuan luas, dan penggunaan pupuk (organik dan anorganik) berdasarkan kandungan hara tanah.
Tani Jago Lamongan merupakan aksi perbaikan tata kelola pertanian jagung. Petani diberdayakan dan diedukasi lewat pemanfaatan teknologi terbaru. Namun penggunaan teknologi ini harus sesuai dengan agro-ekologi, sosial ekonomi, dan produktif efisien. Tani Jago Lamongan mempunyai kelebihan dibanding pertanian jagung konvensional. Yakni, memanfaatkan semua komponen dan potensi faktor produksi budidaya jagung modern spesifik lokasi yang berimplikasi langsung pada hasil, peningkatan pendapatan petani dan efisensi produksi.
Setelah tiga tahun lebih dilaksanakan, petani Lamongan kini bisa tersenyum. Pertama, karena produktivitas jagung di Lamongan meroket naik dari rata-rata 5,7 ton per hektare pada akhir tahun 2016 menjadi 9,5 Ton per hektare pada akhir tahun 2019, bahkan di beberapa daerah inti produktivitas sudah mencapai 10,6 ton per hektare. Kedua, karena produksi jagung meroket dari 372.162 ton, menjadi 623.165 ton.
Tani Jago Dilan Lamongan bukanlah inovasi sesaat. Karena inovasi ini menjadi salah satu bagian dari prioritas pembangunan Kabupaten Lamongan. Inovasi yang telah terbukti mampu mendongkrak produktivitas ini akan terus diperluas cakupannya sehingga memunculkan kawasan kawasan terdampak seperti di wilayah LMDH. Replikasi inovasi juga sudah dan sedang terjadi di dalam Kabupaten Lamongan. Banyak kelompok tani dari kecamatan lain di Lamongan sudah mengunjungi lokasi Tani Jago yang tersebar di 12 kecamatan untuk belajar langsung pertanian jagung modern.
