Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
SEPATU KITA (Sekolah Dapat Upah Keterampilan Tambah)
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Pacitan
UPP: SMP Negeri 1 Arjosari
Wilayah: Jawa Timur
Penghargaan: TOP 45/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Pendidikan Berkualitas
Tag: partisipasi siswa, pendidikan, stimulus
Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui SMP Negeri 1 Arjosari berupaya mewujudkan tujuan pendidikan berkualitas dan berdaya guna. Namun, upaya ini terkendala dengan masalah siswa terlambat, membolos, atau mengalami kecelakaan. Hal itu salah satunya disebabkan oleh jarak rumah jauh dari sekolah, terbatasnya alat transportasi umum, kondisi geografis dan topografis yang curam dan terjal, serta sering terjadi longsor dan banjir.
Untuk mengatasi permasalahan itu sekolah berinovasi menyediakan asrama untuk 30 siswa bermasalah tersebut. Memanfaatkan ruang keterampilan dan gudang, SMPN 1 Argosari membuat asrama. Inovasi ini diberi nama Segisentri (Sekolah Pagi Sore Nyantri).
Pada 14 Juli 2016 inovasi dikembangkan menjadi Sekolah Dapat Upah Keterampilan Tambah (Sepatu Kita). Inovasi ini memberikan fasilitas berupa asrama bagi siswa bermasalah seperti sering terlambat, membolos, dan bahkan putus sekolah yang disebabkan oleh rumah yang jauh ataupun perjalanan ke sekolah yang rawan kecelakaan. Selain mendapat tambahan ilmu agama, siswa juga mendapatkan keterampilan budidaya jamur tiram. Tahun 2017 siswa dibekali keterampilan budi daya sayuran yang hasilnya untuk konsumsi siswa sehari-hari. Sayuran dipupuk dengan pupuk organik memanfaatkan log yang tidak produktif.
Inovasi ini sempat terhenti pada akhir 2017 akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pacitan. SMP Negeri 1 Arjosari yang letaknya tidak jauh dari aliran Sungai Grindulu juga terkena dampaknya. Kerusakan parah dialami, termasuk asrama, rumah jamur dan kebun sayur. Semua terendam air dengan ketinggian mencapai 2 meter. Air banjir yang membawa material lumpur, memporakporandakan semua harapan Sepatu Kita.
Pada 2018 Sepatu Kita bangkit. Langkah pertama yang dilkukan adalah melakukan rehabilitasi rumah jamur dan kebun sayur. Endapan lumpur bekas banjir dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Rumah jamur dan kebun sayur kembali produktif. Sambil beraktivitas di asrama, mereka giat berlatih sepak takraw. Mereka berhasil menjadi juara tingkat kabupaten. Tahun 2019 siswa Sepatu Kita bertambah menjadi 40 orang. Kegiatan di asrama ditambah dengan keterampilan wirausaha sapu lidi. Pada 2020 siswa diberi tambahan keterampilan budidaya lele. Semua keuntungan dari usaha jamur, sayur, sapu lidi, dan lele dibagi 60% untuk siswa dan 40% untuk sekolah. Keuntungan bagi siswa diwujudkan dalam bentuk subsidi makan.
Sepatu Kita sangat efektif menangani masalah dan memberikan dampak positif. Dampak tersebut yaitu tidak ada siswa terlambat, membolos bahkan putus sekolah; terhindar dari resiko kecelakaan; mendapatkan tambahan ilmu agama; memperoleh ilmu kewirausahaan; mengurangi pengeluaran orang tua; serta meraih prestasi.
Keberlanjutan Sepatu Kita didukung oleh komitmen para pemangku kepentingan(Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Komite Sekolah, dan Kemenag). Dukungan regulasi dan diversifikasi program (olah raga, seni budaya, dan keterampilan) menjadikan inovasi ini tetap berlanjut dan menjadi daya tarik siswa.Inovasi Sepatu Kita sangat mudah direplikasi terutama yang memiliki permasalahan sama. Sekolah yang telah mereplikasi inovasi adalah SMPN 2 Punung, MAN Pacitan, SMPN 1 Kebonagung dan SMPN 2 Donorojo.
SI BERES NATUNA (Siap Bersalin Terima Bersih, Praktis dan Ringkas) Di Natuna
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Natuna
UPP: Dinas Kesehatan
Wilayah: Riau
Penghargaan: TOP 99/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: jemput bola, kesehatan, partisipasi masyarakat
Untuk mencapai target Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Indikator Kinerja Kunci (IKK) di bidang pelayanan kesehatan, maka Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) harus dapat ditekan serendah mungkin. Selain itu, proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan lesehatan juga harus mencapai 100%. Namun, AKB dan AKI di Kabupaten Natuna masih tinggi dan masih banyak masyarakat yang memilih melahirkan di rumah dengan dibantu oleh dukun beranak/dukun bersalin.
Untuk menekan AKB dan AKI serta memberikan pelayanan prima kepada masyarakat khususnya dalam pelayanan persalinan, maka pada 2018 Puskesmas Ranai Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna membuat inovasi pelayanaan all-in-one dalam bentuk Inovasi Si Beres Natuna (Siap Bersalin, Terima Bersih Praktis dan Ringkas). Hal ini juga untuk menyikapi keinginan masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih mudah dan tidak berbelit-belit.
Keluarga mendapatkan pelayanan prima, mulai dari penjemputan/pengantaran dengan ambulans, pelayanan bersalin dan pasca bersalin secara gratis, mendapatkan pelayanan Keluarga Berencana juga secara gratis. Di samping itu inovasi ini juga mengusung keunikan atau kebaruan yakni keluarga pasien mendapatkan dokumen seperti akte kelahiran anak, Kartu Identitas Anak (KIA) dan perubahan Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Dokumen-dokumen tersebut diurus dan diantarkan ke rumah dalam waktu dua hari pasca persalinan. Pasien juga mendapatkan pelayanan kunjungan tiga kali selama masa nifas dan mendapatkan pelayanan KB dan imunisasi serta cendera mata secara gratis.
Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Ranai membuka ruang bersalin 24 jam didukung Polindes/Puskesmas pembantu se-Kecamatan Bunguran Timur. Puskesmas juga bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam pengurusan Kartu Keluarga perubahan, Akte Lahir, dan Kartu Identitas Anak, Kantor Urusan Agama Kec. Bunguran Timur dalam pembinaan kesehatan kepada calon pengantin, BPJSD Kabupaten Natuna dalam pengurusan Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi bayi baru lahir, dan Dukun Beranak dalam nota kesepakataan kemitraan Bidan dan Dukun.
Dampak positifnya yaitu menurunnya angka kematian Ibu dan bayi serta meningkatnya persentase pelayanan di fasilitas kesehatan. Dampak positif lainnya yaitu menghapus stigma bahwa melahirkan di Puskesmas itu repot, diganti melahirkan di Puskesmas itu semuanya bisa beres.
Untuk keberlanjutan program Si Beres Natuna ini, maka perlu peningkatan kemitraan Kepala Desa/ Lurah, TP-PKK Desa/Kelurahan dan Kader Kesehatan sebagai perpanjangan tangan Tenaga Kesehatan serta kerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah sebagai tempat rujukan dengan harapan semua Ibu Hamil dan akan melahirkan dapat terdapat dan terlayani.
