08 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

MAYA SI TEKMAS (Manajemen Layanan Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah (ATS) Berbasis Teknologi dan Masyarakat

Jenis Instansi: KOTA

Instansi: Pemerintah Kota Denpasar

UPP: Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga

Wilayah: Bali

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Pendidikan Berkualitas

Tag: partisipasi masyarakat, pendidikan, anak tidak sekolah

Sebagai pusat pemerintahan di Provinsi Bali, Kota Denpasar dihuni oleh penduduk yang memiliki mobilitas tinggi. Bila ini tidak dikelola dengan baik akan memunculkan permasalahan kependudukan yang beragam. Saat ini Kota Denpasar adalah Kota dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Provinsi Bali. Meski demikian, peningkatan IPM Kota Denpasar tergolong lambat. Hal itu misalnya tergambar dari periode 2017 hingga 2018 yang hanya mengalami peningkatan sebesar 0.35 persen.
Salah satu program yang diharapkan dapat mendongkrak peningkatan IPM Kota Denpasar adalah dengan menggarap secara serius Indeks Pendidikan yaitu meningkatkan Harapan Lama Sekolah dan Rata-Rata Lama Sekolah.
Untuk mewujudkan target itu, Maya Si Tekmas didesain untuk mengatasi permasalahan sulitnya pendataan dan kualitas data yang diperoleh sehingga dapat memberikan layanan pendidikan yang tepat sesuai kebutuhan masyarakat. Tujuan dari inovasi ini adalah memperoleh data Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah (ATS) secara tepat dan akurat serta terverifikasi. Dengan bekal data ini, pemerintah kota dapat memberikan pelayanan pendidikan yang layak dan sesuai kebutuhan mereka.
Pada tahap pendataan, Maya Si Tekmas memaksimalkan peran serta masyarakat luas dalam memberikan informasi tentang keberadaan ATS di sekitar mereka dengan memanfaatkan aplikasi yang sudah disiapkan secara daring. Pemerintah juga menurunkan petugas pendata yang karena fungsinya sering berinteraksi langsung dengan masyarakat yaitu Jumantik (juru pemantau jentik), TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan), perangkat PKBM (Pusat Kegiatan Belajar masyarakat) dan lainnya.
Pada proses pendataan secara daring disiapkan dua format pendataan, yaitu formulir pendataan yang mengakomodasi data lengkap atau data kurang lengkap. Seluruh data yang terinput di sistem selanjutnya dilakukan verifikasi oleh petugas sehingga diperoleh data terpilah tentang : 1) tingkat pendidikan ATS (belum pernah bersekolah, putus Sekolah Dasar,tamat SD tidak melanjutkan, putus SMP, tamat SMP tidak melanjutkan atau putus SMA; 2) Data tentang kondisi ATS untuk memastikan layanan pendidikan yang dapat diberikan kepada mereka apakah mengikuti pendidikan di satuan pendidikan terdekat, kelompok belajar di komunitas terdekat dengan lokasi ATS ataukah dengan sistem homeschooling yang dilayani dengan fasilitas mobil belajar.
Berdasarkan data yang telah diolah inilah Pemkot memberikan layanan pendidikan secara gratis dengan dukungan satuan-satuan pendidikan nonformal di sekitar, kepala desa / lurah juga diturut dilibatkan untuk memfasilitasi terselengaranya kegiatan belajar di komunitas terdekat warga dan homeschooling dengan menyediakan mobil belajar. Pemerintah juga memberikan reward kepada mereka yang berkomitmen belajar sampai tuntas berupa gratis pembiayaan sampai tamat SMA, beasiswa dan kesempatan bekerja sesuai persyaratan yang ditentukan.

Metarhizium (Mengamankan Pangan Untuk Negeri)

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Kediri

UPP: Dinas Pertanian dan Perkebunan

Wilayah: jawa timur

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan

Tag: Pertanian, mitigasi, pemberantasan hama,

Petani sebagai pelaku utama yang memproduksi pangan, menghadapi berbagai permasalahan. Masalah besar yang sering muncul adalah serangan hama yang menyebabkan gagal panen. Salah satu serangan hama yang seringterjadi adalah ulat grayak spesies Spodoptera Frugiperda. Hama ini pernah menyerang tanaman jagung seluas 12 hektare dan menyebar hampir ke seluruh wilayah pada awal 2019.
Serangan ulat grayak spesies baru ini mempunyai karakteristik menyerang titik tumbuh tanaman jagung yang menyebabkan tanaman mati dan gagal panen. Pada awalnya, pengendalian ulat grayak dilakukan menggunakan beberapa jenis pestisida berbahan kimia, namun biaya yang dikeluarkan cukup tinggi dan efektifitas tingkat pengendaliannya rendah. Serangan ulat grayak menyebabkan penurunan hasil panen ± 60 % atau produktivitasnya menurun sampai 5,04 ton/ hektar.
Inovasi Metarhizium (Mengamankan Pangan untuk Negeri) merupakan sistem perbanyakan atau kultur isolat metarhizium anisopliae dengan menggunakan inang yang berasal dari ulat grayak yang sudah terinfeksi, menghasilkan Metarhizium baru dengan nama Metarhizium Rileyi. Metarhizium Rileyi bekerja secara cepat dan tepat untuk menginfeksi ulat grayak, selektifitasnya tinggi, tidak menimbulkan hama baru, bersifat parasitoid (dapat menyebar) dan pengendalian dapat berjalan dengan sendirinya. Waktu efektif aplikasi Metarhizium Rileyi pada sore-malam hari.
Inovasi ini mempunya keunggulan dengan sebutan 3MAS, yaitu : Mudah –Bahan mudah dibuat, didapat dan diaplikasikan Murah –Menggunakan bahan dengan harga murah Mandiri –Bisa dibuat dari petani, oleh petani dan untuk petani, Aman –Tidak merusak ekosistem dan tidak menimbulkan resistensi Sustainable – Pengendalian berlanjut secara alami, salah satunya mendatangkan musuh alami berupa semut hitam.
Penggunaan Metarhizium Rileyi untuk pengendalian ulat grayak spesies Spodoptera Frugiperda dapat menyelamatkan produksi tanaman jagung dari gagal panen rata-rata 6,72 ton/hektar. Produksi jagung yang berhasil diselamatkan rata-rata 960 kg/100ru atau setara dengan Rp. 15.456.000,-/ hektar (perkiraan harga gelondong basah Rp. 2.300,-/ kg). Dalam aspek ekonomi mampu menghemat biaya yang dikeluarkan oleh petani sebesar Rp. 1.775.000,-/ hektar, efisiensi karena petani dapat membuat sendiri. Dampak positif lainnya adalah peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam proses pembuatan, pegembangan, perbanyakan, dan penggunaan agen hayati metarhizium secara mandiri.
Keberlanjutan Inovasi didukung penuh oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri yang telah bekerjasama dengan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Jatisari – Jawa Barat dan Fakultas Pertanian IPB Bogor untuk menjamin ketersediaan isolat Metarhizium Rileyi dan implementasi pengembangannya.
Penggunaan Metarhizium Rileyi sangat mudah direplikasikan, karena terbukti berhasil secara efektif dan efisien diaplikasikan di hampir seluruh wilayah yang mewakili karakteristik wilayah sentra jagung di Kabupaten Kediri. Inovasi ini menjadi solusi mengamankan produksi pangan dan mewujudkan pertanian berkelanjutan.