08 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

LABORATORIUM KEMISKINAN (Jurus Jitu Pengentasan Kemiskinan Berkearifan Lokal – Kabupaten Pekalongan)

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Pekalongan

UPP: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengembangan

Wilayah: Jawa Tengah

Penghargaan: TOP 45/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Tanpa Kemiskinan

Tag: partisipasi masyarakat, peningkatan kapasitas SDM, pelatihan, lapangan kerja

Kemiskinan masih menjadi isu strategis dalam pembangunan Kabupaten Pekalongan. Tingkat kemiskinan pada 2011-2016 rata-rata hanya turun sebesar 0,19%. Tahun 2016 masih sebesar 12,90%. Catatan evaluasi kebijakan pengentasan kemiskinan selama ini masih bersifat business as usual, sentralistik, eksklusif dan miskin inovasi serta tidak berbasis data dan problem yang jelas.
Kabupaten Pekalongan terbagi atas 285 desa/kelurahan dengan tiga tipologi daerah yaitu pesisir, perkotaan, dan pegunungan. Desa pesisir berkarakteristik penghidupan dari sumber laut, perkotaan dari industri dan jasa serta pegunungan dari hasil pertanian.
Resep penanganan kemiskinan untuk tiap topografi akan memiliki perbedaan. Laboratorium Kemiskinan bertujuan untuk mengatasi persoalan kemiskinan secara terpadu, tepat program, tepat sasaran serta tepat guna sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik warga miskin. Upaya tersebut dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, membangun serta mengembangkan potensi dan SDA desa merah. Laboratorium kemiskinan merupakan inovasi baru. Kebaruannya adalah pelibatan semua pihak (kolaborasi Pentahelix), intervensi program berdasar BDT yang dipertajam dengan Participatory Poverty Assesment (PPA).
Laboratorium Kemiskinan mengambil tiga desa sebagai proyek percontohan yaitu Botosari (pegunungan), Kertijayan (perkotaan) dan Mulyorejo (pesisir). Keberhasilan inovasi ini ditandai dengan keluarnya Botosari dan Mulyorejo dari desa merah dengan perubahan sebagai berikut : – Jumlah RT desil 1 – 4 menurun menjadi 1.120 RT dari 1.425 RT. – Penggunaan jamban meningkat 23,35%. – Penduduk berpenyakit kronis tertangani melalui pendekatan PIS-PK meningkat 68,91%. – Penduduk dengan kecacatan tertangani 100%. – Anak Tidak Bersekolah berkurang 47,22%. – 55,30% penduduk desa pilot usia 15-59 tahun telah mengikuti peningkatan ketrampilan pengetahuan dan bekal bekerja.
Keberlanjutan program dan ketersediaan sumber daya diupayakan melalui : – Penyediaan regulasi terkait penanganan kemiskinan. – Pemantauan integrasi intervensi kegiatan melalui Satu Aplikasi Kemiskinan Terintegrasi (SAKTI). – Menggalang komitmen dari semua unsur Pentahelix (Pemkab, Pemdes, Dunia Usaha, Perguruan Tinggi dan Masyarakat Peduli) untuk menyediakan sumber daya yang dibutuhkan (keuangan, SDM, fasilitas penunjang, prosedur dan data).
Laboratorium Kemiskinan mempunyai potensi besar untuk diterapkan pada wilayah/program lain, karena beberapa alasan, yaitu – Hampir semua daerah memiliki kesamaan masalah kemiskinan. – Sudah pernah disampaikan pada beberapa acara tingkat regional dan nasional sehingga harapannya dapat menginspirasi daerah lain. – Pelibatan semua pihak terkait. – Tersedianya Modul/Panduan Pengembangan Laboratorium Kemiskinan.
Ide-ide pada Laboratorium Kemiskinan mampu menginspirasi program lain antara lain Gerakan Kudu Sekolah (untuk meningkatkan IPM), pelaksanaan KKN dengan konsep Universitas Membangun Desa (desa tematik), Program Kampung Berkah Emas Baznas. Saat ini Laboratorium Kemiskinan juga sedang direplikasikan pada 6 desa lainnya di Kabupaten Pekalongan.

MASPETTAG (Masyarakat Peduli TB Tanjung Gadang)

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Sijunjung

UPP: Puskesmas Tanjung Gadang

Wilayah: Sumatera Barat

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: partisipasi masyarakat, sosialisasi, pelatihan

Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia bebas penyakit tuberculosis (TB) pada tahun 203Salah satu dasar target ini adalah fakta bahwa Indonesia menempati peringkat kedua penderita tuberkolosis setelah india. Tuberkolosis adalah penyakit menular dan mematikan, penularannya melalui percikan dahak saat batuk, bersin dan berbicara. Satu orang penderita penyakit tuberkolosis dapat menularkan penyakit ke 10-15 orang dalam waktu 1 tahun. Penyakit ini menyerang 75% usia produktif, bila TB paru tidak ditemukan dan diobati 50% akan meninggal dan 20% akan sembuh.
Sulitnya menemukan penderita TB di Kabupaten Sijunjung mendorong Pemerintah Kabupaten Sinjunjung menargetkan penemuan kasus TB sesuai dengan SPM yakni 60 kasus/tahun. Pada tahun 2016, di Puskesmas Tanjung Gadang hanya ditemukan 18 kasus (30%). Rendahnya temuan ini di perparah dengan adanya stigma negatif pada masyarakat bahwa penyakit TB adalah penyakit guna-guna atau diracuni sehingga masyarakat lebih memilih berobat kedukun.
Upaya pengendalian TB dapat dicapai dengan inovasi Maspettag (Masyarakat Peduli TB Tanjung Gadang) yaitu pemberdayaan mantan dan keluarga penderita TB menjadi kader (Duplikasi Pland) yang betujuan meningkatkan penemuan terduga dan kasus TB di masyarakat, melalui penyebarluasan informasi/ edukasi, deteksi dini dan upaya ketuk pintu ke rumah rumah yang diduga TB serta strategi survailensi (pengambilan sputum kontak TB) dan pembentukan post TB Nagari (desa). Masing-masing agen memiliki “buku tabungan dahak/sputum” untuk melihat jumlah terduga TB yang ditemukan Kader, untuk mempermudah akselerasi jika ditemukan kasus positif dan dasar pemberian reward kepada Kader.
Sejak dijalankan tahun 2017 sampai sekarang inovasi Maspettag berhasil mengubah anggapan keliru tentang TB. Dampaknya, penderita mau memeriksakan diri, mau berobat ke puskesmas sampai sembuh dan setelah itu menjadi agen Maspettag. Terjadi peningkatan temuan positif TB dan penderita yang sembuh, dimana sebelumnya tahun 2016 terduga TB sebesar 215 orang, hasil positif 18 orang dan angka kesembuhan 17 orang sedangkan tahun 2019 temuan terduga 772 orang (meningkat sebesar 359 %) , hasil positif 33 orang (meningkat sebesar 183.34%) dan angka kesembuhan 31 orang (meningkat sebesar 182.35%). Dari segi kaderisasi anggota Maspettag pada 2019 sudah mencapai 45 orang.
Inovasi Maspettag terus berlanjut karena merupakan bagian dari program nasional eliminasi tuberkolosis pada tahun 203Maspettag berhasil meningkatkan cakupan SPM, mengubah pola pikir masyarakat marginal dan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap penanggulangan TB. Saat ini Inovasi Maspettag telah diduplikasi oleh Puskesmas lain di Kabupaten Sijunjung. Seperti Inovasi KAMERA (Kader Memberantas TB) di Puskesmas Tanjung Ampalu, Gema Bertimang (Gerakan Masyarakat Bebas Tuberkulosis di Puskesmas Kamang) dan Gemar Perjaka 2 M di Puskesmas Kumanis. Jika semua elemen masyarakat bergerak tidak mustahil target nasional dapat dicapai sebelum 203Pukesmas Tanjung Gadang sudah membuktikan.