08 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

Cabai Hiyung Tapin Mendunia, Pedasnya 17 X Lipat

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Tapin

UPP: Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan

Wilayah: Kalimantan Selatan

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Tag: budidaya, lahan pertanian, cabai

Desa Hiyung adalah desa yang terletak di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin. Memiliki karakteristik lahan dataran rendah berupa tanah sedimen asam, kondisi pH yang asam dan drainase yang terhambat. Kondisi ini menyebabkan penduduk di Desa Hiyung tidak dapat memanfaatkan lahan untuk ditanami komoditas tanaman pangan sehingga diperlukan inovasi komoditas yang cocok untuk dikembangkan sesuai dengan karakteristik lahan yang ada.
Berbekal kearifan lokal yang dimiliki, masyarakat mengolah lahan dan menanaminya dengan cabai Hiyung. Ternyata cabai ini memiliki keunggulan pada tingkat kepedasan yang sangat pedas. Cabai yang memiliki nama ilmiah Capsicum frustescens L ini ditetapkan menjadi cabai terpedas di Indonesia. Bahkan tingkat kepedasannya mencapai 17 kali lipat dari cabai biasa.. Keunikan cabai ini memang terletak pada tingkat kepedasan (capsaicin) yang mencapai 2.681,97 ppm (uji lab 2020) ini lebih pedas dibandingkan jenis cabai rawit lainnya. Keunggulan ini tentu saja tidak dimiliki oleh daerah lain dan menjadi kekhasan tersendiri yang dimiliki oleh Kabupaten Tapin.
Inovasi ini bertujuan untuk menjaga dan menjamin kelestarian plasma nuftah terkait dengan keunggulan, kekhasan dan kualitas cabai rawit lokal varietas hiyung. Di samping itu, inovasi ini juga bertujuan meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat desa khususnya di Kabupaten Tapin yang juga sekaligus mewujudkan visi misi Bupati Tapin pada sektor pertanian yaitu peningkatan kemandirian pangan dengan kebijakan peningkatan dan ketersediaan pangan berkelanjutan.
Efektifitas inovasi ini adalah meningkatnya luas panen, produksi dan produktivitas cabai rawit hiyung. Luas panen cabai hiyung dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada 2015, luas lahan baru 54 ha, meningkat menjadi 145 ha di tahun 2019 dengan tingkat produksi sebesar 1.596,4 ton. Sementara itu terdapat peningkatan produktivitas sebesar 8-11 ton/ha atau hampir 4 kali lipat dari produktivitas tahun 2015 yang hanya 3,3 ton/ha. Hasil kajian dari Bank Indonesia pada 2017 menunjukkan tingkat pendapatan petani cabai hiyung dari sektor usaha tani setiap 0.5 ha adalah rata-rata sebesar Rp. 61.050.000-Rp.119.236.000/tahun.
Pengembangan inovasi dilakukan dengan menyediakan perencanaan kawasan pertanian cabai rawit hiyung yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman ini sendiri. Hal ini menjadi aspek penting mengingat potensi kemampuan lahan pertanian di Kabupaten Tapin masih cukup luas. Prospek permintaan pasar dari luar Kabupaten Tapin juga cukup menjanjikan, dengan adanya trademark “Cabai Rawit Hiyung” masyarakat sudah mengenal tingkat kepedasannya sehingga permintaan terhadap hasil panen sangat menjanjikan. Replikasi terhadap inovasi ini dapat diterapkan bagi pemerintah daerah yang berminat untuk menggunakan bibit cabai hiyung terutama bagi daerah yang memiliki karakteristik lahan yang sama. Cabai rawit hiyung menjadi potensi komoditas yang menjanjikan dan menjaga ketahanan pangan dari sektor hortikultura.

Edukasi Sayuran Sehat Lahirkan Generasi Hebat (Es SELASIH)

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Pamekasan

UPP: Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan

Wilayah: Jawa Timur

Penghargaan: TOP 45/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Tag: edukasi, gizi, daur ulang

Data BPS Pamekasan tahun 2018 menunjukkan jumlah produksi beberapa jenis tanaman sayuran. Di antaranya bayam (1.222 kw), kangkung (2.909 kw) dan sawi/petsai (880 kw). Melihat jumlah tersebut, Pamekasan hanya menyumbangkan sebesar 0,12 % terhadap produksi sayuran di Jawa Timur. Rendahnya kontribusi tersebut dipengaruhi oleh kurangnya minat masyarakat untuk menanam sayuran. Kondisi ini dibuktikan dengan kecenderungan masyarakat yang lebih memilih untuk menanam tanaman pangan seperti padi dan jagung sebagai penunjang kebutuhan pangan sehari-hari. Selain itu, masyarakat belum memanfaatan lahan pekarangan secara optimal.
Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Pamekasan melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) memiliki tugas untuk mengedukasi masyarakat berupa penyampaian informasi mengenai perkembangan teknologi baru dengan harapan mampu meningkatkan minat petani dalam menanam sayuran. Salah satu upaya itu dengan meluncurkan inovasi Es Selasih (Edukasi Sayuran Sehat Lahirkan Generasi Hebat)
Es Selasih merupakan kegiatan pemberdayaan dengan cara mengedukasi masyarakat untuk menanam sayuran sendiri menggunakan media botol plastik melalui teknik hidroponik. Strategi inovasi Es Selasih yaitu masyarakat menukarkan botol plastik 1,5 liter sebanyak 3 botol ditukarkan dengan 2 bibit sayuran.
Sisi inovatif dari inovasi Es Selasih:
Inovasi Es Selasih tercapai dengan adanya peran PPL sebagai sumberdaya yang mengedukasi masyarakat sehingga melakukan kegiatan ini lebih semangat dan percaya diri.
Pelestarian lingkungan hidup berupa pengurangan sampah rumah tangga dengan pemanfaatan botol plastik.
Adanya penukaran botol bekas dengan bibit dapat menarik masyarakat untuk mengadopsi inovasi.
Pemberian bibit sayuran yang menjadi stimulan dalam menarik minat masyarakat.
Pelaksanaan inovasi Es Selasih menghasilkan beberapa capain di antaranya:
Edukasi masyarakat menanam sayuran sendiri di lahan pekarangan rumahnya.
Botol plastik yang menjadi sampah rumah tangga dapat dimanfaatkan.
Pendampingan pembuatan instalasi hidroponik, sehingga, dapat menyediakan sayuran sendiri sebagai pemenuhan gizi keluarga.
Penukaran botol bekas dengan bibit sayuran.
Pengeluaran rumah tangga berupa pembelian sayuran dapat berkurang.
Inovasi Es Selasih memiliki potensi untuk diterapkan pada daerah lain, karena menanam teknik hidroponik telah banyak dipraktikkan di berbagai tempat. Edukasi menanam teknik hidroponik tidak terbatas hanya pada sayuran, namun dapat diterapkan untuk tanaman buah ataupun hias. Potensi lain yang dimiliki inovasi Es Selasih adalah adanya sumber daya PPL sebagai mesin penggerak. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi ini dapat diterapkan oleh dinas ataupun instansi lain. Keberhasilan pada inovasi Es Selasih yaitu dapat menekan pengeluaran rumah tangga dan meningkatkan gizi keluarga serta mampu merubah sikap dan perilaku masyarakat lebih kreatif dan bijak terhadap sampah botol plastik sebagai media tanam. Kedepannya, inovasi ini dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan membangun kawasan agrowisata untuk edukasi anak-anak sekolah. Kegiatan memperkenalkan pertanian sejak dini, dapat membangkitkan rasa kecintaan pada alam dan lingkungan.