Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
Program Cerdas, Opung Sari Basah Bang, MeSRA BerTUAH : Mewujudkan DESA SATU (Deli Serdang Sekolah Bermutu)
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Deli Serdang
UPP: Dinas Pendidikan
Wilayah: Sumatera Utara
Penghargaan: TOP 45/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Pendidikan Berkualitas
Tag: pendidikan, mandiri, pemberdayaan masyarakat
Program Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi terhadap Sekolah (Cerdas), Operasi Pungut Sampah Setiap Hari, Bank Sampah Sekolah, dan Pembinaan Berjenjang (Opung Sari Basah Bang), Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Bersama Masyarakat, Orang Tua dan Sekolah (Mesra Bertuah merupakan integrasi tiga inovasi untuk mewujudkan Deli Serdang Sekolah Bermutu (Desa Satu).
Tahun 2005, sebelum pelaksanaan Cerdas, 70% dari 621 SDN di Deli Serdang dalam keadaan tidak layak pakai. Padahal, Dana Alokasi Umum (DAU) tidak lebih dari Rp5 miliar. Dengan dana itu hanya dapat merehab 10 sekolah setiap tahun. Pada 2014, sebelum Opung, sebagian besar lingkungan sekolah gersang dan kotor. Sampah yang dihasilkan warga sekolah tidak terkelola dengan baik. Pada tahun 2017, sebelum MeSRA), sekolah belum menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Masih dijumpai berbagai kekerasan di lingkungan sekolah.
Program Cerdas merupakan kegiatan gotong royong memperbaiki gedung sekolah, pemberian dana stimulus dari APBD, menghadirkan pejabat daerah.Opung Sari Basah Bang merupakan gerakan bersama Tim Opung Sari, Bank Sampah Sekolah yang dikelola seperti bank konvensional, penggunaan prinsip MLM strategi percepatan terwujudnya sekolah adiwiyata. .Sedangkan MeSRA BerTUAH merupakan gerakan bersama warga sekolah, salah satunya melalui pembentukan paguyuban orang tua, dan kolaborasi program unggulan kementerian.
Program Cerdas berupa pencanangan, pembentukan Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan dan Asosiasi Pengusaha Peduli Pendidikan, penetapan sekolah yang akan direhabilitasi, sosialisasi Cerdas, gotong royong pengumpulan dana/rehabilitasi, pertanggung-jawaban kepada masyarakat.
Opung Sari Basah Bang berupa penguatan komitmen, membentuk tim sekolah berwawasan lingkungan, melakukan penghijauan, mencanangkan Opung Sari, membentuk bank sampah sekolah, melakukan pembinaan, reward/punishment. Mesra Bertuah berupa penguatan komitmen, membentuk Tim Mesra Bertuah, membentuk paguyuban orang tua,dan mendeklarasikan Mesra Bertuah, Implementasikan, reward/punishment.
Kolaborasi tiga program ini telah menunjukkan dampak signifikan, hal itu dapat dilihat dari beberapa keberhasila di antaranya melakukan rehabilitasi sekolah dengan dana partisipasi murni masyarakat lebih kurang Rp21 miliar, terjadi peningkatan signifikan sekolah berwawasan lingkungan dari 114 sekolah (8,69%) tahun 2014, menjadi 728 tahun 2019, meningkat 59,62%, sekolah menjadi Berseri (Bersih, Rapi, Sejuk, Rindang, Indah), terjadi peningkatan signifikan Sekolah Ramah Anak (SRA) dari 9 sekolah (0,82%) tahun 2016, menjadi 602 sekolah tahun 2019, meningkat 49,30 %, pembelajaran guru lebih ramah anak, terjadi peningkatan Indikator Kinerja Pendidikan, meraih berbagai prestasi: Satya Lencana Bidang Pendidikan 2009 dan 2017, Inovative Government Award 2011, TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik 2016 dan 2017, Kind Apkasi Award 2017, Kabupaten Layak Anak 2017, SRA Terbaik 2017 dan 2018, dan Seratus Smart City 2018.
Program ini memiliki potensi keberlanjutan yang tinggi karena sudah didukung Perda, Perbup, dan SK Kadis Pendidikan. Tak hanya itu, program ini juga dapat mudah diterapkan di tempat lain, beberapa daerah sudah mereplikasi dan melakukan studi tiru: Muko-Muko, Banyuasin, Sekayu, Muara Enim, Labusel, Paluta, Madina, Gunung Sitoli dsb.
CME (Cengkraman Mata Elang)
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Demak
UPP: Puskesmas Bonang II
Wilayah: Jawa Tengah
Penghargaan: TOP 45/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: puskesmas, aplikasi, pemberdayaan masyarakat
Kematian ibu dan bayi masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan di Indonesia, pun terjadi di Kabupaten Demak khususnya di wilayah kerja Puskesmas Bonang II. Tahun 2016 di Puskesmas Bonang II terdapat 3 kematian ibu dari 17 kematian Ibu yang ada di Kabupaten Demak atau menyumbangkan 17,6%. Sedangkan untuk kematian bayi menyumbangkan 7 kematian bayi dari 121 kematian bayi di Kabupaten Demak atau menyumbang 5,8%.
Kondisi inilah yang mendorong Puskesmas Bonang II menjalankan Inovasi Cengkaraman Mata Elang (CME). Ada dua keunikan/kebaruan dari inovasi Cengkraman Mata Elang. Pertama pemberdayaan masyarakat terstruktur yang melibatkan masyarakat setempat yaitu kader mata elang di setiap RW dan pelaporan berbasis android. Yaitu “Aplikasi CME” yang digunakan untuk melaporkan ibu hamil baru, baik oleh masyarakat umum, kader, maupun petugas kesehatan. Aplikasi CME ini juga akan mencatat informasi tentang ibu hamil baik normal maupun resiko tinggi, jadwal kunjungan ke rumah ibu hamil, jadwal pemeriksaan. Keunikan aplikasi ini akan muncul “notifikasi” jika ditemukan ibu hamil resiko tinggi dan mendekati hari perkiraan lahir.
Berawal dari penyusunan regulasi untuk pembentukan dan pengukuhan kader mata elang di tiap-tiap RW, dilanjutkan dengan pelatihan kader serta penguatan komunikasi dan koordinasi. Aplikasi CME juga telah memangkas alur pemantauan ibu hamil yang pada awalnya berbelit menjadi lebih mudah, sederhana, cepat, efektif dan bisa menjangkau sasaran yang lebih luas.
Inovasi CME memberikan dampak terhadap penurunan kematian secara signifikan. Pada 2018 terdapat AKI 121,01/100.00 KLH setelah dilakukan replikasi oleh seluruh puskesmas di tahun 2019 menjadi 62,57/100.000 KLH. Demikian juga dengan kematian bayi, di tahun 2018 sebelum CME direplikasi oleh puskesmas se-Kabupaten Demak terdapat 5,7/1000 KLH , setelah direplikasi turun menjadi 5,3/1000 KLH di tahun 2019.
Keberlanjutan inovasi ini dapat dilihat dengan diterbitkannya SK bupati tentang Cengkraman Mata Elang sebagai inovasi daerah. Adanya anggaran (dana desa, DAK non fisik dan anggaran APBD), terpenuhinya sarana prasarana (gedung PKD, Mobil Siaga, Media Promkes, buku-buku panduan dll) dan terbentuknya Kader Mata Elang di tiap-tiap RW Se-Kabupaten Demak dengan total seluruhnya 2.554 orang.
Inovasi ini sangat mudah dan efektif untuk direplikasi dimanapun dan kapanpun. Inovasi CME telah diterapkan di semua Puskesmas Se-Kabupaten Demak pada tahun 201Selain dinilai sebagai FKTP Berprestasi Tingkat Jawa Tengah dan Nakes Teladan Tingkat Nasional Tahun 201Puskesmas Bonang II menjadi tempat rujukan untuk benchmarking dan tempat pelatihan berbagai daerah. CME ini juga dijadikan Inovasi Quick Wins SMART CITY Kabupaten Demak dalam Program 100 Kabupaten/Kota Pintar Se Indonesia Tahun 2019.
