08 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

GEBRAK BIMANTIKA “Gerakan Bersama Kabupaten Bima Anti Stunting, Kekurangan Gizi dan Anemia”

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Bima

UPP: Dinas Kesehatan

Wilayah: Nusa Tenggara Barat

Penghargaan: TOP 45/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan

Tag: perbaikan gizi, kesehatan, stunting

Gerakan Bersama Kabupaten Bima Anti stunting, Kekurangan Gizi dan Anemia (Gebrak Bimantika) merupakan terobosan yang dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Bima. Inovasi ini fokus pada penanganan anak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan.Inovasi ini dilaksanakan sejak 20Tujuan utama inovasi ini adalah menurunkan angka stunting dan kekurangan gizi pada balita, serta anemia gizi. Inovasi ini melibatkan seluruh perangkat daerah di tingkat kabupaten sampai tingkat desa, ormas, organisasi profesi, tokoh agama dan termasuk masyarakat.
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada balita. Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya. Stunting disebabkan oleh banyak faktor. Selain disebabkan kekurangan asupan gizi, stunting juga dapat disebabkan masalah kesehatan selama hamil, buruknya sanitasi lingkungan, pola asuh, pendidikan dan pengetahuan orangtua serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Oleh karena itu, pencegahan dan penanggulangan stunting harus menjadi prioritas utama di bidang kesehatan, lintas program dan lintas sektor terkait.
Gebrak Bimantika dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penentuan sasaran pada balita dan ibu hamil by name by address by case dengan memanfaatkan data pada aplikasi e-PPGBM Kemenkes RI, melakukan rembug Stunting untuk bersama-sama menyepakati dan mengarahkan program masing masing perangkat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting, melakukan survei mawas diri dan musyawarah di tingkat kecamatan dan desa untuk menemukan permasalahan dan menyusun rencana kegiatan penanggulangan masalah, serta menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kesehatan seperti kelas gizi balita, kelas gizi ibu hamil KEK/ anemia, sarangge (balai-balai) gizi, prolinting (program peduli stunting) dan program 16.660 jamban.
Setelah inovasi Gebrak Bimantika ini dilaksanakan, angka stunting di Kabupaten Bima mengalami penurunan. Berdasarkan Riskesdas, pada 2013 terdapat 40,8 % angka stunting. Menurun menjadi 32,01% pada 2018 dan 24,41% pada 2020. Untuk Penyelenggaraan inovasi ini dibiayai oleh swadaya masyarakat mencapai Rp8 miliar.
Inovasi Gebrak Bimantika merupakan inovasi berkelanjutan ditandai dengan adanya penandatanganan bersama kesepakatan lintas program/lintas sektor terkait, terbitnya Perbup Nomor 37 Tahun 2019 tentang Percepatan Pencegahan dan Penanganan Stunting di Kabupaten Bima dan terbitnya Peraturan BupatiNomor 2 Tahun 2020 tentang Kewenangan Desa dalam Pengalokasian Dana 20 % untuk Pelayanan Sosial Dasar.
Inovasi ini sangat mungkin direplikasi oleh daerah lain karena tidak membutuhkan alokasi anggaran yang besar dari APBD. Kunci keberhasilan program terletak pada Inisiator dan kerjasama semua pihak terkait untuk hasil yang optimal. Kegiatan Gebrak Bimantika seperti kelas gizi balita dan kelas gizi ibu hamil sudah di replikasi oleh beberapa kabupaten/kota di Provinsi NTB dan Kabupaten Tolikara Provinsi Papua.

SI TERI LAPAR (Sistem Terintegrasi Layanan Administrasi Pasien Rawat Jalan) RSUD Simo

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Boyolali

UPP: RSUD Simo

Wilayah: Jawa Tengah

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: aplikasi, efisiensi, pelayanan, kesehatan

Waktu tunggu pasien mengantre di loket pendaftaran berakibat pada waktu pasien dilayani oleh dokter. Hal ini mengakibatkan munculnya budaya masyarakat untuk datang pagi pagi, hanya untuk berebut antrean karena tidak sabar menunggu lama. Si Teri Lapar merupakan inovasi yang menggabungkan delapan sistem secara terintegrasi. Inovasi ini memberikan kepastian kepada pasien, salah satunya mengetahui estimasi waktu dilayani oleh dokter, bahkan saat melakukan reservasi.
Si Teri Lapar juga memangkas waktu yang dibutuhkan saat melakukan pendaftaran secara manual yang sebelumnya memakan waktu 3 s.d. 4 menit per pasien. Pendaftaan digantikan oleh sistem yang hanya butuh waktu menjadi 30 detik saja, mulai dari proses input kunjungan pasien ke dalam sistem sampai dengan pencetakan SEP pasien BPJS.
Ada dua sistem yang dapat dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Pertama aplikasi berbasis mobile yang diberi nama RSUD Simobile dan aplikasi Anjungan Mandiri Pasien. Aplikasi RSUD Simobile dapat diunduh secara gratis di google playstore melalui gawai pintar berbasis android. Dengan aplikasi ini, pasien dapat leluasa untuk memilih tanggal berkunjung, memilih poli dan dokter favorit, menentukan penjamin apakah dia pasien umum atau pasien berpenjamin. Setelah itu pasien akan diberikan kode reservasi dan waktu estimasi dilayani oleh dokter, sehingga pasien tidak perlu datang pagi untuk berebut tiket antrean ataupun melakukan pendaftaran manual. Pasien cukup datang 15 menit sebelum waktu estimasi dilayani untuk melakukan konfirmasi kedatangan di mesin anjungan mandiri, dimana proses pendaftaran dan pencetakan SEP pasien peserta BPJS dilakukan disini, setelah itu pasien langsung menuju poliklinik untuk dilayani dokter. Inovasi ini juga memberikan dampak terhadap efisiensi tenaga kerja di RSUD Simo Kabupaten Boyolali, karena semua proses dilakukan oleh sistem secara otomatis.
Inovasi ini juga selaras dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini, karena kerumunan pasien di ruang tunggu poli yang sebelumnya mencapai lebih dari 100 orang per hari, menjadi berkurang hanya 30 orang saja. Mereka ini adalah pasien-pasien yang datang sesuai dengan jam estimasi dilayani, yaitu 3-4 orang per poli.
novasi Si Teri Lapar dikembangkan oleh ASN internal RSUD Simo, dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan kepada pihak ketiga, selain untuk menghemat anggaran. Dengan demikian keberlangsungan inovasi ini akan lebih terjamin, karena apabila ada kerusakan sistem ataupun ada pengembangan sistem ke depan, menjadi lebih mudah dilakukan. Inovasi ini juga dapat direplikasi oleh rumah sakit lain, selama rumah sakit tersebut telah melaksanakan sistem informasi rumah sakit berbasis teknologi informasi.
Inovasi Si Teri Lapar menjadi bukti pemanfaatan teknologi informasi yang tepat guna dapat meningkatkan pelayanan dan mutu di lingkungan RSUD Simo Kabupaten Boyolali.