08 May, 2026

Direktori Inovasi

5 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

ELITE BABY “Sistem Pengendalian Kematian Bayi”

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Banjarnegara

UPP: UPTD Puskesmas Banjarmangu 1

Wilayah: Jawa Tengah

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: mitigasi, angka kematian, ibu dan anak

Tingginya kasus kematian bayi di Kabupaten Banjarnegara mendorong tenaga kesehatan di Puskemas Banjarmangu 1 menjalankan program inovasi Elite Baby (gELang kendaLI, Tim Emergency dan pendampingan bayi) untuk menurunkan kematian bayi.
Inovasi ini memberdayakan kader kesehatan untuk menjalankan program “3T” yaitu mengingatkan dan mendampingi ibu hamil atau bayi baru lahir, agar tidak terlambat deteksi dini selama kehamilan, persalinan, nifas dan bayi, terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan; dan Terlambat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.
Inovasi Elite Baby dibuat berdasarkan kearifan lokal. Gelang kendali yang terbuat dari rempah rempah dengan warna sesuai resiko ibu hamil (merah, kuning, hijau), kader melakukan pengawalan penuh terhadap ibu hamil. Selain itu, kader juga bekerja sama dengan petugas mobil siaga desa.
Fokus kegiatan Elite Baby di antaranya memberikan gelang kendali pada ibu hamil saat kunjungan pemantapan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) atau 3 minggu sebelum HPL berkolaborasi dengan tokoh masyarakat, dukun bayi dan bidan dan sebagai tanda agar masyarakat ikut memantau dan siaga saat ibu hamil membutuhkan. Kegiatan berikutnya.
Kegiatan berikutnya adalah menghubungi Tim Emergency yang terdiri dokter, bidan dan sopir untuk kesiapsiagaan penanganan kegawat daruratan/ komplikasi ibu dan bayi.tindakan ini disesuaikan dengan warna gelang yang diberikan pada ibu hamil.
Kegiatan selanjutnya adalah pendampingan bayi dengan menggunakan lembar pantau. Kegiatan ini dilakukan oleh kader selama satu tahun dengan pendampingan fokus pada lima pemantauan yaitu jadwal pemeriksaan neonatal, deteksi faktor risiko pada bayi, tumbuh kembang bayi, Imunisasi yang diberikan, dan komitmen pemberian ASI ekslusif.
Hasil evaluasi implementasi Elite Baby menunjukkan kasus kematian bayi menurun, dari 9 kasus pada 2018 menjadi 3 kasus pada 201Inovasi ini terbukti efektif dalam menurunkan kematian bayi dan dapat disimpulkan bahwa Elite Baby merupakan Sistem Pengendalian Kematian Bayi.
Inovasi ini sangat mudah untuk direplikasikan karena 1) Di setiap desa / wilayah memiliki kader kesehatan; 2) Desain lembar pantau sederhana sehingga sangat mudah dipahami.; 3) Kader tidak perlu keahlian khusus selain bisa membaca dan menulis; 4) Biaya sangat murah; 5) Efektif dan efisien; 6) Sudah direplikasikan di 9 Desa pada wilayah Puskesmas Banjarmangu 1; dan 7) Akan direplikasikan di wilayah Puskesmas Banjarmangu 2, Puskesmas Madukara 2, Puskesmas Pagentan 2 dan Puskesmas Punggelan 1.

Bendera SASKIA (Satu Bendera Satu Sasaran Kesehatan Ibu dan Anak)

Jenis Instansi: KABUPATEN

Instansi: Pemerintah Kabupaten Bantaeng

UPP: Puskesmas Sinoa

Wilayah: Sulawesi Selatan

Penghargaan: TOP 45/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: mitigasi, angka kematian, ibu dan anak

Puskesmas Sinoa berada dalam wilayah Kecamatan Sinoa Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah 43 KM2, terdiri dari 6 desa dengan jumlah penduduk 14.398 jiwa (Data BPS 2019). Pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi perhatian Pemerintah, berkaitan dengan amanah SDGs “Kehidupan Sehat Sejahtera”, juga terkait 1.000 hari pertama kehidupan, penurunan angka stunting, serta sejalan dengan misi Kabupaten Bantaeng dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan akses pemerataan dan kualitas pelayanan dasar lainnya.
Satu Bendera Satu Sasaran Kesehatan Ibu dan Anak disingkat Bendera Saskia merupakan solusi atas masalah kesehatan dan anak. Inovasi ini memiliki keunikan di antaranya, bendera sebagai penanda, enam warna berbeda sesuai status kesehatan,sasaran ibu hamil, bayi dan balita, bendera terbuat dari bahan yang tidak cepat rusak sehingga dapat digunakan berulang.
Tahapan Inovasi Bendera Saskia dimulai dengan pembentukan tim internal Puskesmas dari lintas sektor. Selanjutnya melakukan sosialisasi dan advokasi baik ke masyarakat maupun ke pemerintah desa. Langkah berikutnya pemasangan bendera oleh bidan dan kader Posyandu, intervensi berupa kunjungan Kader dan tenaga kesehatan ke rumah warga, dan monitoring evaluasi melalui Lokaka karya mini bulanan dan tri wulanan.
Penerapan Inovasi ini menunjukkan dampak positif, hal itu dapat dilihat dari perkembangan yang ditunjukkan dari tahun ke tahun, di antaranya pada 2018 dan 2019 tidak ada lagi persalinan yang ditolong oleh dukun beranak, angka persalinan di fasilitas kesehatan meningkat 100%, angka Kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) tetap 0 (nol), angka stunting menurun dari 17 orang tahun 2018 menjadi 7 orang tahun 2019.
Secara eksternal Inovasi Bendera Saskia juga mampu mendorong perhatian pemerintah desa mengalokasikan APBDes untuk kesehatan Ibu dan Anak, hal ini juga sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat misalnya penyediaan transportasi dan keterlibatan pengusaha lokal.
Potensi keberlanjutan inovasi ini cukup besar. Hal itu tak lepas dari dukungan berupa sumber daya lokal yakni bidan dusun dan kader posyandu, pemerintah desa menuangkan dukungan dalam dokumen RPJMDes, terpeliharanya komitmen dan kolaborasi lintas sektor kecamatan, regulasi dan kebijakan dari pemerintah kabupaten, pembuatan prototype aplikasi e-SASKIA.
Melihat keberhasilannya, inovasi ini mendorong replikasi di daerah lainnya. Di antaranya pada 2017 baru diimplementasikan di dua desa, bertambah menjadi empat desa pada 2018, dan terus bertambah menjadi 6 Desa (2019), dan pada 2021 diharapkan inovasi bendera Saskia diterapkan di 13 Puskesmas lainnya.