Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
SUS (Saweu Ureung Saket)
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya
UPP: Dinas Kesehatan
Wilayah: Aceh
Penghargaan: TOP 45/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: kesehatan, pelayanan kesehatan
Saweu Ureung Saket (SUS) merupakan terobosan pelayanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan menyentuh langsung ke rumah-rumah orang sakit. Dalam bahasa Aceh inovasi Sawee Ureung Saket artinya mendatangi orang sakit. Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya telah mengembangkan SUS untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Upaya ini didasari Peraturan Bupati No.58 Tahun 2016 dan Peraturan Bupati Nomor 68 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelayanan Saweu Ureung Saket.
Inovasi ini dirancang atas dasar keinginan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kualitas sosial masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya. Salah satu bentuk upaya yang dihadirkan melalui inovasi ini adalah mendekatkan akses mereka ke fasilitas pelayanan kesehatan.
SUS merupakan upaya meningkatkan umur harapan hidup agar masyarakat menjadi sejahtera. Fasilitas kesehatan seperti mobil ambulans bukan hanya untuk mengantar pasien rujukan dari Puskesmas ke rumah sakit, melainkan juga untuk menjemput pasien dari rumah untuk diantar ke Puskesmas dan RSUD, pun juga kendaraan roda dua yang diberikan ke masing-masing puskesmas digunakan untuk mengunjungi pasien di rumah-rumah.
Melalui SUS pemerintah daerah dapat mengetahui warganya yang sedang sakit. Data inilah yang menjadi dasar untuk memberikan layanan kesehatan secara langsung, transparan, mudah dan cepat, melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah orang sakit yang dilakukan secara reguler oleh tim kerja kesehatan yang telah disusun oleh 12 kepala puskesmas.
SUS terus diperbarui agar dapat menyentuh pelosok desa yang tertinggal. Melalui pemenuhan kebutuhan kesehatan inilah pemerintah berupaya meningkatkan perannya dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Upaya ini bertujuan untuk serta meningkatkan kualitas kesehatan individu, kelompok, keluarga dan masyarakat dengan memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan kesehatan langsung di rumah. Sumber daya manusia yang terdapat dalam inovasi SUS terdiri atas dokter umum, bidan, perawat. Selain itu juga melibatkan JKN, BPJS, BOK, Alkes, BHP.
Pada tahun pertama pengembangannya, layanan berupa kunjungan pada pasien penyakit kronis dengan komplikasi berat, lansia resiko tinggi, pasien cacat, masyarakat dengan keterbatasan ekonomi, dan pasien gangguan jiwa. Tahun kedua, program ini mendapatkan pembaruan dengan tetap melakukan kegiatan tahun pertama namun ditambah layanan bagi ibu hamil, Bulin, Bufas, BBL, Balita Resti dan Bayi/Balita gizi buruk. Di tahun ketiga, layanan semakin diperluas dengan menghadirkan layanan dengan kontraktual.
Sejak 2017 AKI berjumlah empat orang pertahun dan menjadi 1 orang per tahun pada 2018, AKN tahun 2017 sebesar 13/1000 KH turun menjadi 8/1000 KH tahun 2018, AKB tahun 2017 sebesar 17/1000 KH turun menjadi 11/1000 KH tahun 201AKABA tahun 2017 sebesar 2/1000 KH turun menjadi 1/1000 KH tahun 201Persentase stunting tahun 2017 sebesar 16,2% turun menjadi 13,8% tahun 2018.
Bupati Aceh Jaya Teuku Irfan TB menyebutkan, inovasi SUS dicetuskan awal 2017.Inovasi ini lahir karena melihat ketidakberdayaan masyarakat rentan akibat keterbatasan moda transportasi dan kondisi geografis yang sulit. Pada 19 September-2017 program SUS diluncurkan dengan menyerahkan bantuan langsung kendaraan operasional yaitu ambulans dan kendaraan roda dua untuk 12 puskesmas di Kabupaten Aceh Jaya.
Puskesmas kemudian menetapkan petugas dengan sistem penjadwalan terencana, insidentil atas permintaan masyarakat yang berlaku 24 jam. Setiap pasien dilakukan pemeriksaan umum serta tindakan medis oleh petugas, dan apabila memerlukan tindakan lebih lanjut pasien dirujuk ke puskesmas terdekat maupun ke rumah sakit rujukan. Program SUS difasilitasi melalui bidan desa, keuchik (Kepala Desa) setempat bagi wilayah yang tidak terjangkau jaringan/ sinyal Hp. Kegiatan SUS Alhamdulillah mendapat respon yang sangat baik dari seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya dan program ini terus kita tingkatkan baik fasilitas maupun pelayanannya
Gerakan Badung Sehat 1000 Hari Pertama Kehidupan (Garba Sari)
Jenis Instansi: KABUPATEN
Instansi: Pemerintah Kabupaten Badung
UPP: Dinas Kesehatan
Wilayah: Jawa Barat
Penghargaan: TOP 99/2020
Tahun: 2020
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: puskesmas, balita, kesehatan
Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan 30,8% balita di Indonesia menderita stunting, di Provinsi Bali 21,9 % dan Kabupaten Badung sebesar 25.24%. Sejalan dengan kebijakan konvergensi pencegahan stunting Presiden Joko Widodo, Pemerintah Kabupaten Badung meluncurkan Gerakan Badung Sehat 1000 Hari Pertama Kehidupan (GARBA SARI).Gerakan ini selaras dengan amanah UU Desa, bahwa masyarakat berkewajiban berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di Desa.
Garba (kandungan) sari (inti/benih kehidupan) dalam bahasa lokal Bali. Secara filosofi garbs sari merupakan upaya pemeliharaan sumber kehidupan mulai dari dalam kandungan sebagai upaya mencegah stunting. lnisiatif ini berawal dari kesulitan tenaga kesehatan mengadvokasi pemangku kepentingan di desa dan mengalami hambatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam peningkatan kesehatan. lnisiatif ini secara kreatif untuk menanggulangi situasi karena melibatkan budaya lokal, tradisi yang dihormati sepanjang waktu, serta peranan pemangku kepentingan yang dihormati. Garba sari dicanangkan oleh Bupati Badung tanggal 10 Mei 2019 di Desa Kekeran.
Bentuk dukungan desa dan OPD yang tergabung dalam Tim Penanggulangan Stunting selain dana, tenaga juga aplikasi Garba Sari. Desa Punggul dengan SIGARPU (Aplikasi Garba Sari Punggul) , RSD Mangusada dengan aplikasi Mangusada Cetting, Peran OPD terkait seperti PUPR (pembuatan saluran air bersih) , DLHK (pengelolaan limbah) , Catatan sipil (pembuatan akte lahir).
Pelaksanaan Garba Sari di evaluasi berkala oleh Tim Penanggulangan Stunting yang indikatornya dituangkan dalam PTO (Posyandu Remaja, Kelas Ibu hamil , Ibu balita , Kelompok pendukung ASl dan STBM).
Tujuan dari Garba Sari adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam melakukan fasilitasi, advokasi termasuk partisipasi, serta mewujudkan sinergitas dan meningkatkan efisiensi anggaran dengan upaya cross cutting program antar OPD.
Dampak lainnya : Status Kabupaten ODF pada th 201Petugas kesehatan lebih dekat dengan sasaran dan deteksi faktor resiko rujukan bisa lebih dini, walaupun pandemi Garba Sari tetap dilaksanakan melalui zoom meeting, IG TV, group Whatshapp.
