08 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

Hentikan Praktik Kolusi Pengadaan Obat dengan “MANGAN MENDOANE RINI” (PengeMbANGAN SisteM PengElolaaN SeDiaan Farmasi : Obat/Alat Habis Pakai TeriNtEgrasi Rekam MedIk ElektroNIk)

Jenis Instansi: PROVINSI

Instansi: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

UPP: RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Wilayah: Jawa Tengah

Penghargaan: TOP 45/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh

Tag: pencegahan korupsi, kelembagaan

J umlah kunjungan RSUD Margono Soekarjo pada 2013 rata-rata 963 pasien/hari dengan komposisi rata-rata 663 pasien rawat jalan, 187 pasien rawat inap, 124 pasien gawat darurat. Cakupan resep rata rata 6.454 resep/hari. Hal ini menyebabkan peningkatan kebutuhan logistik RS khususnya obat/alat habis pakai (AHP) serta anggarannya mencapai proporsi 37% dari total anggaran belanja rumah sakit
Sebelum penerapan inovasi, pengadaan obat/AHP menjadi salah satu area terjadinya kolusi antar-pihak yang merasa memiliki hak untuk merencanakan dan mengadakan obat/AHP. Oknum-oknum yang terlibat dalam praktik kolusi ini antara lain apoteker, dokter, perawat, tenaga administrasi gudang, dan suplier obat/ AHP.
Beragam masalah dihadapi rumah sakit, di antaranya praktik kolusi dalam pengadaan sediaan farmasi, inefisiensi biaya operasional penyediaan obat akibat adanya over-stock pada obat-obat tertentu, perencanaan dan pengadaan obat/AHP belum sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit, kehilangan fisik obat (losses), tingginya obat/AHP expired date (0,15%), ketidakakuratan pencatatan (ada selisih) inventory obat/AHP, ketidakpatuhan tenaga medis menggunakan formularium yang ditetapkan oleh Kemenkes khususnya penggunaan obat-obat generik.
Berbagai masalah tersebut ternyata dapat diatasi dengan mengembangkan aplikasi terintegrasi yang diberi nama “Mangan Mendoane Rini”.
Beragam manfaat dapat dirasakan dari penerapan inovasi ini, di antaranya, meniadakan praktik kolusi, peningkatan ketepatan perencanaan dan pengadaan obat/AHP, efisiensi biaya operasional (37% menjadi 26%), obat/AHP expired date menurun (0,15% menjadi 0,08%) dari anggaran obat/AHP, tidak ada selisih pencatatan inventory obat/AHP antara sistem dengan fisik (dari 22% menjadi 0%), tidak ada potensi kehilangan fisik obat/AHP (losses), peningkatan kepatuhan penggunaan formularium RS (80% menjadi 95%) dan ketersediaan obat lebih terjaga (90% menjadi 98%). Implikasi penerapan inovasi ini secara umum menurunkan komplain pasien tentang ketersediaan obat (5 komplain menjadi 0 komplain) serta meningkatnya indeks kepuasan pasien (61% menjadi 89%).
Inovasi Mangan Mendoane RINI orisinil pertama kali dibangun di Indonesia dan diiterapkan di RSUD Margono sejak 2014 dengan mengintegrasikan sistem informasi tata kelola sediaan farmasi (obat/AHP) mulai dari perencanaan, pengadaan, persediaan, distribusi, pendapatan, dan insentif/jasa pelayanan. Kebanyakan rumah sakit di Indonesia membangun sistem tersebut secara terpisah. Sistem ini menjamin pergerakan obat di dalam RS terpantau secara real time dan transparan karena semua komponen (Manajemen, Dokter, Apoteker) dapat mengakses secara terbuka.
Inovasi ini mampu membangun komitmen dan budaya bersih, disiplin, menghilangkan praktik kolusi. RSUD Margono berhasil meraih predikat WBK-WBBM Kemenpan RB, Green Hospital Kemenkes-RI, Taat Pengelolaan Limbah, Kematangan Organisasi, dan SAKIP Terbaik Prov. Jateng yang menginspirasi dan mereplikasi inovasi RS/Organisasi/Pemda lainnya. Sebagai keberlanjutan inovasi ini, telah dikembangkan sistem restriksi otomatis peresepan obat dan layanan hantaran obat gratis bagi pasien kronis/lansia/orang tidak mampu.

Rompi Penganti (Rompi Penuntun Dengan Teknologi)

Jenis Instansi: PROVINSI

Instansi: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

UPP: Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Penganthi Temanggung

Wilayah: Jawa Tengah

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan

Tag: sarana prasarana, pemenuhan, inklusif

Penyandang disabilitas sensorik netra yang memiliki keterbatasan dalam indera penglihatan seringkali mengalami kesulitan dalam beraktivitas di fasilitas umum dan area publik yang belum ramah disabilitas. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya angka dan tingkat cidera maupun kecelakaan yang dialami. Hal ini juga diperparah oleh sikap acuh masyarakat atas keberadaan mereka, sehingga berdampak pada rendahnya kepercayaan diri, kurangnya kemandirian serta keberfungsian diri penyandang disabilitas sensorik netra tersebut.
Untuk itu, dibutuhkan aksesibilitas khusus atau affirmative action sesuai kondisi dan kebutuhan mereka sehingga mempermudah aktivitas dan mobilitas mereka pada fasilitas umum dan area publik. Kondisi tersebut mendasari munculnya inovasi Rompi Penuntun Dengan Teknologi (Rompi Penganti). Rompi ini dibuat untuk menggantikan indera penglihatan yang hilang. Rompi Penganti merupakan inovasi yang dikembangkan oleh Tim Inovasi Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra (PPSDSN) Penganthi Temanggung dan belum pernah ada sebelumnya.
Kemanfaatan Rompi Penganti dirancang untuk membantu penyandang disabilitas sensorik netra dalam aktivitas dan mobilitasnya, dikenakan sebagai identitas keberadaan mereka yang selama ini identik dengan tongkat putih, serta media edukasi untuk mengubah mindset dan membangun empati masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Piranti yang disematkan pada rompi modifikasi dari sensor parkir mobil dan probe air pada tongkat putih. Keunikan Rompi ini menggabungkan beberapa kegunaan yaitu sensor jarak yang berfungsi untuk mengidentifikasi benda didepan pengguna, dilengkapi dengan pengeras suara yang mengeluarkan bunyi “bip” untuk memberitahu jika ada benda berjarak dua meter di depannya. Lampu LED berfungsi sebagai sinyal pada waktu berjalan di malam hari yang memberikan tanda pada masyarakat akan keberadaan disabilitas sensorik netra. Sedangkan tongkat dilengkapi dengan sensor air yang berbunyi “bip” sebagai tanda peringatan ketika menyentuh jalan becek atau berair.
Saat ini Rompi Penganti telah digunakan oleh 75 orang penerima manfaat (PM) pada PPSDSN Penganthi Temanggung dan 10 orang anggota Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Dampak penggunaan Rompi Penganti nampak dari peningkatan kemandirian, kepercayaan diri, kepedulian masyarakat dan fasilitas publik yang ramah disabilitas. Setelah menggunakan Rompi Penganti, seorang penyandang disabilitas sensorik netra secara mandiri dapat meningkatkan cakupan coverage area mobilitas sehingga meningkatkan produktifitas mereka.
Kebijakan pengembangan Rompi Penganti dikuatkan melalui kebijakan program rehabilitasi sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah di seluruh Panti Disabiltas Netra di Jawa Tengah, sedangkan pada aspek pengembangan teknologi Rompi akan melibatkan Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, serta dukungan dari CSR. Ke depan, replikasi Rompi Penganti akan dilakukan oleh Panti Pelayanan Sosial dan Rumah Pelayanan Sosial dengan sasaran garapan disabilitas sensorik netra di Jawa Tengah, Persatuan Tuna Netra Indonesia dan Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia sebagai identitas dan alat bantu utama anggotanya.