07 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

IQFAST (Indonesia Quarantine Full Automation System)

Jenis Instansi: KEMENTERIAN

Instansi: Kementerian Pertanian

UPP: Badan Karantina Pertanian

Wilayah: DKI Jakarta

Penghargaan: TOP 45/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Tag: perijinan, produksi

IQFAST (Indonesian Quarantine Full Automation System) adalah inovasi layanan publik Badan Karantina Pertanian (Barantan) yang tidak saja mengubah layanan konvensional menjadi daring namun juga memberikan informasi peluang bagi masyarakat untuk turut terjun di bidang agribisnis.
Melalui landskap IQFAST 2016–2020 Barantan mengubah sistem layanan menjadi lebih transparan dan bersifat daring. Tidak hanya mengubah sistem layanan publik, single data yang diterapkan IQFAST juga memungkinkan Barantan menyediakan berbagai informasi lain guna mendukung akselerasi arus barang dan ekspor, seperti aplikasi peta komoditas pertanian potensial ekspor dan interkoneksi dengan kementerian/lembaga, baik dalam maupun luar negeri.
Landscape IQFAST 2016 – 2020 membuat lima strategi pendekatan layanan publik yaitu front service, third party interface, backoffice service, core service dan decision making service.
Kini pengguna jasa dapat memantau seluruh proses permohonannya (tracking) secara daring, pembayaran PNBP melalui transfer bank dengan e-billing yang terkoneksi dari Kementerian Keuangan, fasilitas sertifikat elektronik serta seluruh riwayat pengajuan PPK Daring. Bahkan melalui kerja sama sertifikat elektronik (e-cert) dengan negara mitra, persentase NNC (Notification of Non Compliance) dapat turun sebesar 63%. Selain itu IQFAST melalui Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (IMACE ) juga menjadi satu-satunya inovasi yang memberikan informasi terkait komoditas pertanian potensial ekspor, asal daerah atau sentra, serta negara tujuan ekspor.
Selain sebagai layanan publik, IQFAST juga merupakan sistem operasional internal yang disebut sebagai one stop service layanan elektonik Barantan. Dalam jangka panjang, IQFAST akan terus dikembangkan baik secara internal maupun eksternal. Inovasi yang dikerjakan secara mandiri oleh ASN Barantan dan didukung oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, sekretaris jenderal, Kementerian Pertanian ini, juga tengah mengembangkan layanan lainnya, berupa perluasan layanan prioritas, integrasi dengan IPPC hub, perluasan kerja sama e-cert, integrasi profil pelaku usaha bersama kementerian dan lembaga lain dan membangun marketplace dengan pihak terkait untuk kelancaran ekspor komoditas pertanian
Menurut Dr Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian, IQFAST tidak hanya menjadi inovasi, namun juga salah satu komitmen dalam transformasi layanan publik Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian guna mendukung pembangunan pertanian yang maju, mandiri dan modern.

Pemberdayaan Sahabat ODHA di Kota Ternate, Maluku Utara (BASODARA)

Jenis Instansi: KEMENTERIAN

Instansi: Kementerian Sosial

UPP: Balai Rehabilitasi Sosial ODH Wasana Bahagia di Ternate

Wilayah: Maluku Utara

Penghargaan: TOP 99/2020

Tahun: 2020

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: kestaraan, kesehatan, harapan hidup

Balai Rehabilitasi Sosial Orang dengan HIV (BRSODH) “Wasana Bahagia” Ternate bertugas menjalankan program rehabilitasi sosial bagi Orang dengan HIV. Namun, rehabilitasi sosial kepada ODH dengan pendekatan institusional ini kurang maksimal, karena permasalahan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA ) sangat kompleks.
Sampai dengan 2019 jumlah ODHA di Kota Ternate mencapai 422 orang. Terdiri atas 250 orang HIV dan 172 AIDS. Angka ini menempatkan Kota Ternate pada peringkat kedua dalam jumlah terbanyak ODHA di Maluku Utara. KPA Kota Ternate juga memperkirakan 2 s.d 3 ODHA meninggal setiap bulan.. Keseluruhan data tersebut menunjukkan angka harapan hidup ODHA di Kota Ternate masih rendah dan ini menjadi persoalan utama ODHA di Kota Ternate.
Permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tingginya angka putus obat dan rendahnya konsumsi Anti Retro Viral (ARV). Berdasarkan data Klinik Jasmine, tahun 2019 hanya sekitar 43% atau 184 orang yang mengonsumsi ARV. sebanyak 42,9% atau 79 orang dari jumlah tersebut tercatat sudah putus obat. Kondisi ini diperparah dengan adanya beberapa persoalan tambahan, seperti stigma dan diskriminasi dari keluarga maupun masyarakat, rasa pesimistis, kurangnya informasi dasar HIV/AIDS, masalah ekonomi serta pengetahuan perawatan ODHA.
BRSODH “Wasana Bahagia” di Ternate berupaya menjawab permasalahan tersebut dengan meluncurkan program Pemberdayaan Sahabat ODHA di Kota Ternate, Maluku Utara (Basodara). Inovasi ini mulai dijalankan sejak 2018
Basodara merupakan layanan sosial berupa merespons kebutuhan dan permasalahan yang dialami. BRSODH “Wasana Bahagia membentuk Tim Reaksi Cepat yang bertugas melakukan kunjungan rumah, konsultasi keluarga dan pemberdayaan berbasis komunitas. Melalui ayanan ini, selain dapat dirujuk, ODHA bisa mendapatkan manfaat dari berbagai layanan dalam satu tempat.
Inovasi ini memang menitikberatkan pelayanan pendampingan berbasis masyarakat. pelayanan model ini bertujuan memberikan dukungan dalam konsumsi obat ARV serta penguatan sosial kepada masyarakat, dan keluarga. Melalui LKS ODHA yang memiliki permasalahan kedaruratan dapat segera direspon. Dan melalui kunjungan rumah petugas melakukan konsultasi/ konseling pada keluarga.
Dampak dari penerapan inovasi ini dapat dilihat dari beberapa indicator, di antaranya jumlah kematian ODHA yang menurun, angka harapan hidup ODHA yang meningkat karena angka pasien putus obat berhasil ditekan, terkikisnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, serta jumlah dan keaktifan anggota dalam LKS.
Keberhasilan dalam penyelenggaraan layanan ini menjadi salah satu alasan untuk terus menjaga keberlanjutan layanan. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan rehabilitasi berbasis komunitas di Kabupaten Halmahera Utara. Pengembangan ini merupakan buah dari inisiasi LKS My Hope. Pengembangan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa inovasi ini mudah direplikasi, karena menitikberatkan pada optimalisasi sumber daya lokal yang ada di masyarakat sehingga secara finansial, sosial, dan budaya, program ini dapat berjalan secara mandiri.