07 May, 2026

Direktori Inovasi

5 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

Implementasi TOSS (Tempat Olah Sampah Setempat)

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Klungkung

UPP: Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan

Wilayah: Bali

Penghargaan: TOP 15 KHUSUS/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan

Tag: pengolahan sampah, pemilahan sampah, pemberdayaan masyarakat, partisipasi masyarakat

Masalah sampah di Bali sudah sangat mengkhawatirkan. Data DKLH Tahun 2020 menyebutkan 52% sampah tidak tertangani dengan baik, 44% diangkut ke TPA, dan hanya 4% yang didaur ulang. Begitu juga di Kabupaten Klungkung, di mana timbulan sampah mencapai 340 ton/hari, didaur ulang 12 ton/hari, diangkut ke TPA 52 ton/ hari, dibakar 75 ton/hari dan terbuang ke lingkungan 156 ton/hari (Data analisis Unud, ISWA, University of Leeds dan Systemiq, 2019). TPA Sente sejak tahun 2017 bahkan telah mengalami over capacity.

Guna mengatasi hal tersebut, sejak tahun 2017 dikembangkan inovasi pengelolaan sampah dari sumber dengan metode TOSS yaitu upaya pengolahan sampah sampah organik dan sedikit anorganik dipeuyeumisasi, dicetak menjadi briket sebagai sumber energi alternatif. Tahap awal membuat percontohan listrik kerakyatan skala kecil dengan IT-PLN Jakarta di IPLT Lepang Desa Takmung, membuat produk pelet sebagai bahan baku gasifire. Lebih lanjut dikembangkan di TPA Dusun Sente menjadi TOSS Gema Santi yang awalnya mampu mengolah 1 truk sampah kota dengan 18 orang tenaga kerja dan 3 unit mesin.

Tahun 2018 TOSS terpilih ditetapkan dalam Top 40 dalam KIPP oleh Kementerian PANRB sehingga mendapat hadiah DID yang digunakan untuk membangun TOSS Center yaitu pusat pendidikan dan percontohan pengelolaan sampah secara terintegrasi di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan. Pengadaan sarpras dari DID diantaranya bangunan, alat berat dan box peuyeum. TOSS Center juga dilengkapi bangunan pengolahan kompos dengan pola sel, kantor, ruang edukasi, pagar keliling, tempat suci, lahan uji coba dan penambahan peralatan seperti mesin cacah, mesin ayakan, pencetak pelet, conveyor pemilahan, jembatan timbang, gasifire 28 KW dan box fermentasi.

TOSS Center terus mengalami perkembangan berkat dukungan berbagai stakeholder seperti perbankan, produsen plastik, BUMD/BUMN dan pengusaha sehingga mampu mengelola sampah perkotaan 33,6 ton/hari, yang sebelumnya terbuang ke TPA dengan hasil 214,5 ton kompos, pelet 27,965 ton, sampah plastik terkelola mencapai 34,4 ton dengan 40 jenis dan menyerap tenaga kerja 64 orang dari masyarakat miskin. Dampaknya, pupuk organik dan tanaman hias untuk taman kota dan desa tidak dibeli lagi.

Keberhasilan TOSS juga didukung partisipasi masyarakat perkotaan yang taat memilah sampah mencapai 74%. Partisipasi ini dibangun dengan komitmen dan keterlibatan langsung pimpinan daerah. Untuk melengkapi TOSS Center, khususnya untuk pengelolaan sampah perdesaan, dikembangkan 100% TOSS Desa dimana desa-desa diarahkan untuk membangun tempat pengolahan sampah setempat yang dapat dikolaborasi dengan TOSS Center sehingga hanya residu yang dibuang ke TPA.

Kelas Perahu

Jenis Instansi: Kabupaten

Instansi: Pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

UPP: Dinas Pendidikan

Wilayah: Sulawesi Selatan

Penghargaan: TOP 15 KHUSUS/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Pendidikan Berkualitas

Tag: pendidikan, putus sekolah, sekolah

Kabupaten Pangkep merupakan kabupaten “Tiga Dimensi” yaitu darat, laut dan pegunungan yang terdiri dari 13 kecamatan dengan jumlah pulau sebanyak 1Penduduk yang mendiami daerah kepulauan Kabupaten Pangkep umumnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.

Para orang tua saat melaut mengikutsertakan anak-anaknya untuk membantu pekerjaan mereka dalam rangka memenuhi kehidupan sehari-hari. Akibatnya, anak tidak dapat hadir di sekolah kerena melaut. Untuk membantu anak yang melaut agar dapat tetap belajar maka diterapkan layanan Pendidikan yang dikenal dengan Kelas Perahu.

Tujuan Kelas Perahu adalah: memberikan Layanan Khusus kepada anak bekerja dan pekerja anak agar tetap dapat mengakses pendidikan berkualitas di luar dan di dalam kelas; mencegah anak putus sekolah di daerah kepulauan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan; Meningkatkan partisipasi bersekolah di daerah kepulauan dari tingkat SD, SMP /MTs dan SMA/SMK.

Kelas Perahu dilaksanakan secara mandiri dibimbing oleh guru kelas atau guru mata pelajaran sesuai dengan jadwal pelajaran pada hari itu. Bagi siswa yang akan melaut dapat memperoleh bimbingan pada saat dia berada di daratan menemui guru atau guru dapat membimbing siswa di perahu siswa sesuai dengan kesepakatan dari guru dan siswa.

Pelaksanaan Kelas Perahu meliputi: identifikasi siswa kelas perahu oleh guru kelas masing-masing; siswa mendapatkan Lembar Kegiatan dari guru sesuai materi yang dipelajari; siswa dapat mengerjakan LKS saat melaut ataupun saat tiba kembali dari melaut; saat tiba di kelas, siswa mengumpulkan LKS dan mendapatkan bimbingan guru; guru melaksanakan penilaian.

Sebelum pelaksanaan Kelas Perahu, dari data yang ada terdapat 2-3% siswa SD dan SMP daerah kepulauan yang melaut dan terdapat 2% siswa yang putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Setelah pelaksanaan Kelas Perahu, siswa mendapatkan layanan pembelajaran, sehingga motivasi siswa meningkat, sedangkan jumlah siswa yang putus sekolah karena melaut turun dari 2% menjadi 1%.

Keberlanjutan inovasi ini didukung komitmen dari Pemerintah daerah yang tertuang di RPJMD Kabupaten Pangkep dan terbitnya Peraturan Bupati Pangkep Nomor 36 Tentang Layanan Pendidikan Kelas Perahu, serta dukungan dari DPRD Kabupaten Pangkep untuk peningkatan Kompetensi bagi guru.

Pelaksanaan Kelas Perahu di tahun 2019 telah direplikasi secara internal di Kabupaten Pangkep pada 3 kecamatan kepulauan, yaitu Kecamatan Liukang Tupabbiring, Liukang Kalmas, dan Liukang Tangaya. Kelas Perahu dapat direplikasi di semua daerah yang memiliki kondisi geografis yang sama dengan Kabupaten Pangkep.